BERITA

Transformasi BGR Menjadi Perusahaan Logistik Digital

BGR Logistics mengandalkan digitalisasi dalam mendorong pertumbuhan bisnis yang lebih cepat. Dengan pengalaman yang dimiliki oleh Sang Dirut, digitalisasi BGR dapat tercapai dalam waktu relatif singkat.

Digitalisasi tak pernah pandang bulu. Khususnya di era indutsri 4.0, seluruh bidang usaha dituntut untuk mahir dalam memanfaatkan teknologi digital demi menjaga bisnis yang berkelanjutan. Tantangan ini juga berlaku bagi PT Bhanda Ghara Reksa, atau yang kini dikenal dengan nama BGR Logistics, sebuah perusahaan pelat merah yang bergerak di sektor pergudangan dan logistik.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di era industri 4.0 tidak hanya menyediakan peluang bagi BGR tetapi juga tantangan, seperti bermunculannya perusahaan logistik (startup) yang berdaya saing karena telah mengadopsi sistem informasi/teknologi pada proses bisnisnya. Imbas perkembangan teknologi tersebut mengharuskan perusahaan konsisten meningkatkan kompetensi SDM.

Di sisi lain, perubahan ini memberikan peluang yang cukup menjanjikan, mengingat tren pertumbuhan bisnis logistik tanah air sekitar 15 persen per tahun. Era yang serba digital telah mendorong perusahaan untuk melakukan berbagai perubahan guna mengikuti perkembangan industri dan kebutuhan pelanggan. Karenanya, perusahaan memiliki kesempatan untuk membuka peluang pasar yang belum terjangkau sebelumnya.

Direktur Utama BGR Logistics M. Kuncoro Wibowo menyatakan siap membawa perusahaan melaju lebih kencang dan percaya diri, dengan memanfaatkan digitalisasi. Di sisi internal, Kuncoro yakin dengan berkembangnya teknologi, perusahaan dapat melakukan perbaikan antara lain meminimalisir human error dan pengulangan pekerjaan yang diakibatkan data yang terdesentralisasi, hingga tercapainya efisiensi biaya.

Kuncoro tak menampik, saat pertama kali dirinya mendapat amanah memimpin BGR, tepatnya pada akhir Agustus 2018, ia melihat BGR kurang dikenal publik. Belum lagi, terdapat kendala yang cukup besar di kalangan internal perusahaan. “Selama 42 tahun karyawan merasa nyaman dengan kondisi bisnisnya sampai-sampai membuat perusahaan kesulitan untuk berkembang, sementara kompetitor terus bermunculan,” ungkap Kuncoro.

Kondisi ini boleh jadi karena model business process  yang bersifat disentralisasi, sehingga masing-masing cabang membuat kebijakan sendiri-sendiri. Standar Operasional Prosedur (SOP) pun bak ‘surat wasiat’ yang tak digubris.  Tanpa sentralisasi, fraud  pun tak dapat dihindari. Di sisi lain, Kuncoro juga menilai gaji karyawan yang terlalu rendah, sehingga daya saing karyawan ikut rendah.

Puncaknya, penerapan sistem teknologi informasi (IT) di perusahaan belum dipandang menjadi sesuatu yang serius. Padahal, menurut Kuncoro, digitalisasi lah yang membuat perusahaan lebih cepat melompat.

“Selama ini penggunaan IT masih standar dan sedikit sekali. Jadi kinerja perusahaan tidak bisa dimonitor, baik masalah keuangan, SDM maupun operasional. Belum lagi urusan utang yang sangat besar. Ini juga membelenggu kami saat awal-awal masuk,” beber Kuncoro.

Belum genap sebulan menjabat, Kuncoro bergegas mengunjungi cabang-cabang BGR di berbagai daerah untuk melihat fakta real di lapangan, sekaligus menggali masukan maupun keluhan dari para karyawan di daerah. Dari lawatannya itu, ia sampai pada sebuah kesimpulan bahwa keinginan karyawan untuk berubah masih sangat besar.

Sebulan setelah ditetapkan menjadi Dirut BGR, Kuncoro mencanangkan visi misi baru dengan mengusung nilai utama berupa integritas. “Visi misi baru ini tidak hanya sekadar jargon, tetapi saya rombak semua termasuk culture, mindset hingga seragam karyawan. Kami mengejar target 1 Januari menjadi momentum digitalisasi bagi BGR,” ungkap Kuncoro bersemangat.

Perubahan yang begitu cepat tak pelak mengundang resistensi. Namun, Kuncoro tak gentar dengan penolakan tersebut. Seraya tak lelah memotivasi, ia memberikan pengertian ke seluruh karyawan sambil memberikan contoh kisah sukses maupun kisah pilu perusahaan-perusahaan yang pada akhirnya tumbang karena tak mau berubah. Pengalaman leadership-nya saat menjadi Direktur SDM, Umum dan Teknologi Informasi di Kereta Api Indonesia juga menjadi bekal yang cukup kuat baginya untuk melakukan perbaikan di BGR.

“Di KAI saja, dengan jumlah karayawan yang jauh lebih besar dan bisnisnya berkaitan dengan safety bisa berubah, saya yakin di BGR harusnya lebih mudah dan lebih cepat untuk diajak berubah,” katanya.

Membenahi SDM dan IT

Keinginan untuk berubah menjadi modal utama dalam membangun BGR yang lebih baik dan profesional. Penguatan sisi kompetensi SDM dan IT adalah gebrakan pertama yang yang ia lakukan. Sebab, Kuncoro yakin kolaborasi antara keduanya menjamin keberlangsungan perusahaan.

Penguatan SDM yang antara lain diimplementasikan melalui transformasi organisasi dan transformasi budaya perusahaan bertujuan untuk membangun mindset baru, yaitu customer oriented dan service excellence.

Untuk memberi warna baru, Kuncoro memberlakukan rotasi jabatan secara massif di internal. Ia mengangkat anak-anak muda potensial menduduki posisi kepala bagian di berbagai cabang, sementara para senior banyak ditempatkan di kantor pusat. Peningkatan pendapatan karyawan dilakukan seiring dengan meningkatnya tanggung jawab yang diemban.

“Saya rotasi terus, ada yang tidak bagus saya rotasi. Jadi mereka saling terpacu untuk menunjukkan kinerja terbaik. Bahkan, di sini ada yang namanya ‘Jumat Keramat’, di mana saya mengumumkan peta mutasi karyawan di hari Jumat,” ungkapnya. Dengan pola ini, banyak terbongkar kasus atau fraud di lapangan yang selama ini terus berlangsung tanpa adanya mitigasi risiko yang jelas.

Sebagai langkah awal transformasi, Kuncoro membuat roadmap berupa masterplan perusahaan sebagai dokumentasi rujukan bagi seluruh karyawan BGR. Untuk pertama kali setelah sekian lama vacum, manajemen mengaktifkan kembali training center bagi seluruh karyawan BGR.

Sebuah gudangyang terletak di lantai paling atas di kantor pusat disulap menjadi ruangtraining center tempat berkumpulnya para SDM BGR meningkatkan kompetensi. Ke depan, perusahaan akan menyajikan training center dengan model e-learning. “Kami menyadari bahwa SDM adalah asset terbesar yang dimiliki perusahaan, maka dari itu kami akan terus meningkatkan kemampuan SDM dengan dibangunnya training center ini,” terangnya.

Masih di sisi SDM, Kuncoro juga membuat career path (jalur karier) yang tersistem sehingga karyawan memiliki gambaran pasti mengenai jangka waktu untuk mencapai jenjang karier. Absensi karyawan yang sebelumnya manual kini disediakan pula melalui aplikasi online, di mana karyawan bisa melakukan absen melalui gadget mereka masing-masing.

Selain itu, perusahaan juga memberikan perhatian khusus pada kesejahteraan karyawan dengan bekerja sama dengan Mandiri Inhealth memberikan asuransi kesehatan dan jiwa bagi seluruh karyawan BGR Logistics.

“Perubahan-perubahan ini yang membuat mereka sekarang jadi lebih bersemangat. Saya membangun komunikasi agar terjadi interaksi dua arah, yakni sambil menerapkan kebijakan direksi, kami juga menerima masukan dari karyawan. Semua jadi serba terbuka menyampaikan ide demi kemajuan perusahaan,” ungkap Kuncoro yang senantiasa membangun kebersamaan dengan para staf.

Tak hanya membenahi SDM, penguatan bisnis BGR juga digenjot dari sisi IT melalui transformasi digital. Titik awal transformasi ini dilakukan dengan penerapan sistem Enterprise Resources Planning (ERP) SAP S/4 HANA yang diluncurkan tepat 1 Januari 2019. Dalam pelaksanaannya, BGR menggandeng PT Sygma Metrasys Solution, anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk.

“Peluncuran transformasi digital ini merupakah strategi perseroan dalam menjawab tantangan bisnis di era digital. Sejumlah transformasi mulai dari sistem, bisnis, dan budaya perusahaan terus kami lakukan sejak September tahun lalu,” katanya.

BGR Logistics telah memposisikan diri sebagai digital logistics company dengan berhasil membangun sistem teknologi informasi (TI) untuk membantu kebutuhan logistik pelanggan seperti, WINA (Warehouse Integrated Application) untuk monitoring gudang dan FIOMA (Fleet Integrated and Order Monitoring Application) untuk aktivitas armada.

Dari sisi pelanggan, BGR memperbarui website dengan memindahkan domain menjadi www.bgrindonesia.co.id dan membangun Contact Center Halo BGR 1500-692. Selain sistem untuk kebutuhan eksternal, BGR Logistics juga membangun sistem informasi internal terkait kepegawaian dan administrasi. “Berbagai aplikasi yang dibangun tersebut juga termonitor dalam sebuah aplikasi monitoring yang dikelola oleh Tim IT BGR Logistics. Kami juga membangun Command Center untuk memantau berbagai aplikasi tersebut,” jelas Kuncoro.

Merambah Bisnis Retail

Bisnis logistik merupakan ceruk pasar yang cukup menjanjikan. Itulah mengapa, banyak perusahaan yang berlomba membangun lini bisnis ini, atau melahirkannya sebagai anak perusahaan. Menjamurnya perusahaan logistik tentu membuat persaingan pasar menjadi lebih ketat.

Melihat perkembangan dan tren kebutuhan saat ini, manajemen berinisiasi mencari peluang pendapatan baru. Itulah mengapa, ke depan BGR Logistics akan berekspansi dengan memperkuat segmen retail berbasis aplikasi untuk barang bekas elektronik rumah tangga. “Di retail kami punya tiga portofolio, yakni limbah, distribusi dan gudang. Selama ini peluang di limbah cukup bagus tetapi belum moncer, ke depan akan kami tingkatkan salah satunya melalui platform rumah tangga,” ungkap Kuncoro.

Peluang ini dipercaya mampu menghasilkan pundi-pundi pendapatan baru yang cukup menjanjikan. Melalui platform tersebut, BGR akan mengolah barang-barang elektronik bekas rumah tangga. Ide ini berkembang dengan melihat banyaknya rumah tangga yang kesulitan dalam membuang atau mendaur ulang barang elektronik bekasnya. Kondisi ini banyak ditemui di perumahan-perumahan cluster atau apartemen yang tidak mengizinkan pemulung masuk.

Bagi rumah tangga yang memiliki permasalahan tersebut, BGR punya solusinya. Melalui aplikasi bernama BGR Access, BGR Logistics menawarkan jasa menjemput barang elekstronik bekas untuk diantar ke pengepul, yang kemudian didaur ulang menjadi komoditi baru seperti emas, perak, timah atau tembaga. “Jadi rumah tangga tidak perlu bingung lagi mau membuang ke mana barang bekasnya, mitra kami akan mengambil barang-barang tersebut ke rumah-rumah,” cetus Kuncoro. Melalui pilihan menu yang tersaji di aplikasi BGR Access, pelanggan bebas memilih kebutuhan layanan hingga mengetahui taksiran harga dari barang bekasnya.

Untuk memuluskan rencana pengembangan bisnis retail ini, BGR Logistics menjalin kemitraan dengan perusahaan startup teknologi PT Tripologic Semesta Raya (Triplogic) dan Grab Indonesia yang merupakan super app terkemuka di Asia Tenggara. Keduanya berperan sebagai transporter yang akan mengambil barang dari konsumen ke titik-titik pengepul yang telah terdaftar. Saat ini, sistem pembayaran BGR Access telah terintegrasi dengan Bank BCA dan Bank BRI. Ke depan, sistem pembayaran tersebut juga akan terintegrasi dengan BNI dan Bank Mandiri.

Kuncoro menegaskan, dengan masuknya BGR Logistics pada segmen retail di industri logistik, semakin memperkuat posisi perusahaan sebagai Digital Logistics Company, yang juga telah berpengalaman dalam mengelola logistik limbah B3 dan non B3.

Show More

Artikel Terkait

Back to top button
Close