BERITA
Trending

Tukang Cukur dan Marbot Masjid Kini Bisa Membeli Rumah

Rumah dengan dinding luar berwarna merah bata dengan cat abu-abu itu, memang rumah biasa-biasa saja. Namun bagi pasangan suami istri Kiki dan Rini, rumah berukuran 36/72 yang berada di Kawasan Parung Panjang, Bogor, itu punya arti yang luar biasa.

Kiki Sabarudin mengatakan, ia dan keluarganya sangat bersyukur sudah memiliki rumah sendiri di tahun 2020, saat Pandemi Covid-19 mulai merebak di negeri ini. Rumah bergaya minimalis miliknya ibarat benteng pertahanan bagi keluarganya dari gempuran virus yang mematikan itu.

Saat kebijakan PPKM diterapkan, rumah itu menjadi tempat berteduh yang nyaman bagi kedua anaknya yang masih berusia balita. Rumah ini juga menjadi tempat yang ideal bagi Kiki dan Rini untuk menjalani WFH (work from home).

Keinginan untuk memiliki rumah sendiri sebenarnya sudah direncanakan jauh sebelum keduanya menikah pada tahun 2019. Keinginan ini pun semakin menguat setelah mereka memiliki momongan.

Sebagai kepala keluarga, Kiki ingin membesarkan dan menjaga anak-anaknya di rumah sendiri. Sayang, di awal tahun 2020 Virus Covid-19 mulai masuk ke Indonesia dan terus menyebar dengan cepat. Hal ini membuat Kiki dan Rini sulit bergerak untuk mencari lokasi yang cocok untuk rumah impian mereka.

Kondisi tersebut tak membuat mereka patah semangat. Dengan memanfaatkan teknologi digital, informasi pembelian rumah bisa diperoleh dengan mudah. Salah satunya ia dapatkan dari website Bank BTN, www.btn.co.id.

“Saat itu saya tidak menyangka ternyata informasi yang disampaikan BTN melalui websitenya sangat lengkap, “kata Kiki.

Ia begitu antusias saat mengetahui semua informasi yang ia butuhkan tersedia. Mulai dari lokasi, daftar pengembang, tata cara sekaligus tips mengajukan KPR, hingga simulasi cicilan KPR. Bahkan, ada pula informasi seputar renovasi dan menata interior rumah. “Kami juga bisa membandingkan harga rumah baru dengan harga rumah second,” tambah Rini, istrinya.

Setelah menimbang-nimbang, pilihan jatuh pada sebuah perumahan yang berlokasi di Kawasan Parung Panjang, Bogor. Beberapa pertimbangannya antara lain harga rumah yang terjangkau dan lokasinya yang berdekatan dengan stasiun kereta, yakni hanya butuh waktu 5 menit saja untuk mencapai Stasiun Parung Panjang.

Untuk pengajuan KPR, Kiki menjatuhkan pilihan pada KPR yang ditawarkan BTN. Jujur saja, kata Kiki, sebagai pasangan muda mereka masih awam tentang seluk beluk tata cara membeli rumah dan mengajukan KPR. “Bank BTN sangat membantu kami,” katanya.

Untuk bisa membayar uang muka dan sedikit renovasi rumah, Kiki pun terpaksa menjual mobil kesayangannya. Keputusan ini tak pernah disesalinya, karena ia sendiri juga tidak menyangka akhirnya bisa memiliki rumah sendiri di saat pandemi.

”Sebagai suami dan ayah, ada sebuah kebanggaan bisa punya rumah sendiri,” ujar Kiki sambil tersenyum.

Dirinya juga merasa beruntung bisa membeli rumah di saat pandemi. Pasalnya, banyak insentif yang diberikan pemerintah kepada sektor properti. Contohnya, ia mendapat potongan harga dari sekitar Rp400 juta-an menjadi hanya Rp350 juta-an saja. Insentif lainnya, pemerintah menanggung Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk rumah tapak dan rumah susun.

Insentif PPN untuk pembelian rumah ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.21 tahun 2021, dimana pemerintah menanggung 100% PPN untuk rumah tapak dan rumah susun dengan harga jual paling tinggi Rp2 miliar. Untuk rumah senilai Rp2 miliar-Rp5 miliar, pemerintah menanggung PPN 50%.

Jemput Bola dan All Out

Berbagai stimulus terus dikucurkan pemerintah untuk menggairahkan sektor property. Ada Subsidi Selisih Bunga (SSB) senilai Rp5,96 triliun, ada pula Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM) dengan nilai Rp630 miliar untuk 157 ribu rumah, serta Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2PT). Sebelumnya, pemerintah memberikan stimulus untuk masyarakat berpenghasilan rendah, seperti Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang pada 2021 lalu dianggarkan sebesar Rp16,6 triliun untuk157.500 unit rumah.

Dengan berbagai instentif yang telah diberikan oleh pemerintah, Direktur Utama Bank BTN Haru Koesmahargyo mengajak masyarakat agar tidak menunda untuk membeli rumah. Terutama bagi para pembeli rumah pertama (first home buyer). “Sebagai kebutuhan pokok manusia, membeli rumah, khususnya bagi first home buyer banyak manfaatnya,” ungkap Haru.

Sebagai kebutuhan dasar, rumah setidaknya memiliki dua proteksi, yaitu sosial dan ekonomi. Saat memiliki rumah, para first home buyer bisa menempatinya sebagai tempat tinggal. Lalu, dari sisi proteksi ekonomi, harganya tak pernah turun. Seperti rumah kecil tipe 36, yang harganya konstan tumbuh 5%-7% per tahun.

Sebagai bank BUMN yang bisnis utamanya menyalurkan KPR, Bank BTN menjadi ujung tombak pemerintah untuk menyalurkan KPR, khusunya KPR bersubsidi (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan) kepada masyarakat menengah bawah yang belum memiliki rumah.

Tahun ini, memasuki usianya yang ke-72 pada 9 Februari 2022, kontribusi Bank BTN dalam membantu pemerintah agar masyarakat berpenghasilan rendah gampang memiliki rumah layak, makin terihat jelas.

Di awal tahun ini, tepatnya per Januari 2022, Bank BTN telah menyalurkan Pembiayaan Rumah Sejahtera Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR Sejahtera FLPP), sebanyak 13.192 unit. Capaian yang jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang hanya mencapai 2.302 unit.

Untuk makin memperluas cakupan masyarakat membeli rumah di saat pendemi, BTN menerapkan berbagai strategi jemput bola dan mengoptimalkan seluruh kanal distribusi KPR Sejahtera. Bekerja sama dengan developer, para agen properti serta menyelenggarakan akad KPR Sejahtera secara massal di seluruh Kantor Cabang Bank BTN.

“Kami juga menerapkan strategi all out,” kata Haru Koesmahargyo. Semua jurus itu dilakukan demi keinginan BTN untuk menguasai pasar KPR Sejahtera.

Subsidi untuk Pekerja Informal

Pekerja di sektor informal seperti pedagang pasar, nelayan, dan sebagainya kini tengah dibidik oleh BTN agar bisa memanfaatkan KPR Sejahtera FLPP, maupun program KPR Subsidi lainnya. Bekerja sama dengan BP Tapera dan komunitas pekerja informal, BTN tengah mengkaji program pembiayaan perumahan yang tepat bagi pekerja informal.

Sebelumnya, Bank BTN telah melakukan sejumlah upaya untuk memperluas pembiayaan perumahan, khususnya KPR Subsidi, diantaranya dengan tukang cukur yang terhimpun dalam Persaudaraan Pangkas Rambut Garut (PPRG), mitra pengemudi ojek online, Asosiasi Pedagang Mie dan Bakso di Semarang dan marbot masjid.

Pak Subur, marbot Masjid Nurul Ikhwan yang berlokasi di Pamulang Tangerang Selatan, menyambut baik jika ada pihak-pihak yang mau membantunya untuk dapat bisa memiliki rumah. “Memiliki rumah sendiri itu impian saya sejak dulu,” ujar lelaki kelahiran Surabaya yang telah 15 tahun lebih menjadi marbot masjid itu.

Meski pandemi belum berakhir dan kondisi ekonomi masih dalam ketidakpastian, Bank BTN optimis kinerjanya di Tahun 2022 akan lebih baik dari tahun lalu. Direktur Consumer & Commercial Banking Bank BTN Hirwandi Gafar menilai, tahun ini akan menjadi tahun yang penuh peluang dan tantangan dalam menyalurkan KPR.

Pihaknya optimis industri property makin pulih, karena demand masyarakat berpenghasilan rendah untuk memiliki rumah masih sangat tinggi. Oleh sebab itu, BTN pun berani mematok target pertumbuhan kredit bisa mencapai double digit.

Optimisme BTN disambut baik oleh Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah yang mengatakan, sektor property berpeluang besar bangkit pada tahun ini akibat booming harga komoditas.

Meski demikian, Piter memberi catatan bahwa potensi besar di industri property di 2022 tetap membutuhkan dukungan sektor perbankan. Sebab, sebagian besar pembelian property masih mengandalkan kredit, baik KPR maupun KPA.

Untuk itu, penguatan permodalan terhadap perbankan yang banyak menyalurkan KPR seperti Bank BTN perlu dilakukan. Apalagi BTN menjadi penyalur utama dalam KPR untuk segmen masyarakat berpenghasilan rendah.

Momentum membaiknya bisnis property harus bisa dimanfaatkan. Bisnis ini memiliki efek domino terhadap lebih dari 170 industri turunan yang menyerap lebih dari 20 juta pekerja. Kebangkitan bisnis property akan banyak mengerek industri lainnya ikut bangkit di tengah pandemi.

Artikel Terkait

Back to top button