Jakarta, Bumntrack.co.id – PT Permodalan Nasional Madani (PNM) mengembangkan inovasi pemberdayaan ekonomi berbasis lingkungan melalui pembangunan ekosistem bank sampah yang melibatkan nasabah program Mekaar. Inisiatif ini dirancang untuk mendorong pengelolaan sampah rumah tangga sekaligus menciptakan sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat prasejahtera.
Berkat inovasi tersebut, PNM berhasil meraih penghargaan Environmental, Social, and Governance (ESG) perusahaan terbaik dalam ajang Anugerah BUMN 2026.
Ketua Dewan Juri Anugerah BUMN 2026, Dr. Ir. Arief Yahya, M.Sc. mengatakan, tema BUMN Menuju Indonesia Emas: Tata Kelola Kuat, Nilai Ekonomi Berkelanjutan” relevan dengan fase baru transformasi BUMN yang saat ini sedang berlangsung. Tata kelola yang kuat bukan hanya soal kepatuhan (compliance), tetapi tentang integritas sistem, transparansi pengambilan keputusan, manajemen risiko yang adaptif, serta akuntabilitas publik yang terjaga. Sementara nilai ekonomi berkelanjutan menuntut BUMN untuk tidak hanya mencetak profit, tetapi juga memastikan sustainability, resiliency, dan multiplier effect bagi perekonomian nasional.
Dalam hal ESG, PNM mengusung konsep pemberdayaan komunitas melalui pembentukan kelompok yang membina dan mengelola sampah (KEMBANGS) secara terstruktur. Dalam ekosistem ini, nasabah Mekaar didorong untuk melakukan pemilahan dan pengumpulan sampah dari rumah tangga masing-masing, sehingga sampah yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi dapat diolah menjadi sumber pendapatan baru.
EVP Pengembangan dan Jasa Manajemen PNM, Razaq Manan Ahmad menjelaskan bahwa pengembangan bank sampah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pendekatan berkelanjutan.
“Program ini tidak hanya mengedepankan aspek ekonomi, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari sumbernya,” ujar Razaq Manan Ahmad setelah menerima penghargaan di Jakarta, Selasa (10/3/26).
Dalam model yang dikembangkan PNM, ketua kelompok Mekaar diberdayakan sebagai pengurus Bank Sampah Unit (BSU). Mereka berperan sebagai penggerak di tingkat komunitas yang mengelola proses pengumpulan, pemilahan, dan pencatatan sampah dari anggota kelompok.
Sementara itu, pada level yang lebih besar, nasabah mikro atau pihak ketiga dapat berperan sebagai Bank Sampah Induk (BSI). Bank Sampah Induk berfungsi mengelola pengumpulan sampah dalam skala yang lebih besar sebelum disalurkan kepada offtaker seperti pabrik, pengepul besar, maupun industri pengolahan.
Melalui mekanisme tersebut, rantai pasok pengelolaan sampah dibangun secara terstruktur mulai dari tingkat rumah tangga hingga industri. Nasabah Mekaar membawa sampah yang telah dipilah ke pertemuan kelompok mingguan atau Pertemuan Kelompok Mekaar (PKM) untuk dilakukan penimbangan serta pemisahan jenis sampah.
Setelah ditimbang dan diklasifikasikan, sampah kemudian diberi penandaan atau tagging sebelum dikumpulkan dan dijemput oleh pengelola. Sampah tersebut selanjutnya disimpan di gudang dan dikelola sebagai stok sebelum dijual ke industri pengolahan atau offtaker.
PNM juga mengintegrasikan teknologi digital dalam ekosistem ini melalui aplikasi Kembang. Aplikasi tersebut memungkinkan nasabah yang sudah terbiasa menggunakan teknologi untuk mengakses fitur pencatatan transaksi dan pengelolaan sampah secara digital.
Sementara bagi nasabah yang belum menggunakan aplikasi, sistem tetap dapat berjalan dengan memanfaatkan barcode identitas nasabah. Dengan mekanisme ini, seluruh transaksi tetap dapat tercatat dalam sistem sehingga memudahkan proses pemantauan dan pelaporan.
Menurutnya, sistem digital tersebut memungkinkan seluruh aktivitas pengelolaan sampah tercatat secara transparan dan dapat dilacak. Pencatatan digital ini juga menjadi fondasi penting dalam penerapan prinsip keberlanjutan perusahaan.
“Seluruh aktivitas pengelolaan sampah dicatat secara digital sehingga dapat mendukung transparansi, akuntabilitas, dan pelaporan berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG),” jelasnya.
Data yang tercatat dalam sistem tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk berbagai inisiatif keberlanjutan, termasuk pengembangan pembiayaan hijau (green financing), program berbasis karbon, hingga berbagai skema pembiayaan yang mengedepankan aspek keberlanjutan.
Dari sisi model bisnis, ekosistem bank sampah ini memperhitungkan berbagai komponen biaya operasional yang diperlukan untuk menjaga keberlanjutan program. Komponen tersebut antara lain biaya operasional Bank Sampah Induk, margin pengelola, biaya operasional Bank Sampah, fee pengurus, serta biaya pengembangan aplikasi digital.
Selain itu, terdapat pula harga dasar yang mengacu pada harga beli dari pabrik atau industri pengolah sampah. Dengan sistem tersebut, nasabah Mekaar dapat memperoleh nilai ekonomi dari sampah yang mereka kumpulkan.
PNM menilai pendekatan ini dapat memperkuat ekonomi sirkular di tingkat komunitas. Sampah rumah tangga yang sebelumnya dibuang kini dapat dipilah dan dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku industri daur ulang.
Berdasarkan proyeksi awal, ekosistem bank sampah yang dikembangkan PNM memiliki potensi penyerapan hingga sekitar 191.520 ton sampah per tahun. Potensi tersebut berasal dari aktivitas pemilahan sampah rumah tangga yang dilakukan oleh jaringan nasabah Mekaar yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Selain mengurangi timbulan sampah dari sumbernya, program ini juga memperkuat praktik pengelolaan sampah berbasis komunitas. Dengan melibatkan kelompok masyarakat secara langsung, PNM berharap dapat menciptakan perubahan perilaku yang lebih luas dalam pengelolaan sampah rumah tangga.
Bagi nasabah Mekaar, program ini membuka peluang tambahan pendapatan dari aktivitas yang relatif sederhana namun memiliki nilai ekonomi. Sampah yang telah dipilah dapat dijual kembali ke industri pengolahan sehingga memberikan pemasukan tambahan bagi keluarga.
Di sisi lain, program ini juga memperkuat peran ketua kelompok Mekaar sebagai agen pemberdayaan di tingkat komunitas. Mereka tidak hanya berperan dalam kegiatan pembiayaan usaha, tetapi juga menjadi penggerak pengelolaan bank sampah di lingkungan masing-masing.
Dengan menggabungkan aspek pemberdayaan ekonomi, teknologi digital, serta prinsip keberlanjutan, PNM berharap ekosistem bank sampah ini dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat yang memberikan dampak sosial, ekonomi, sekaligus lingkungan secara berkelanjutan.








