Krisis Industri Media, Gemerlap Mode dan Kekuasaan yang Melembut

Krisis Industri Media (Foto: Denny JA)
E-Magazine November - Desember 2025
  • Ditulis Oleh: Denny JA (Komut PHE, analis, budayawan)

Jakarta, Bumntrack.co.id – Suatu pagi, seorang pemimpin redaksi yang dua dekade lalu ditakuti oleh para reporter muda, duduk sendirian di ruangannya yang kini terlalu luas.

Meja kayu jati itu masih sama. Kursinya masih empuk. Tapi layar di depannya tidak lagi memuat headline yang ia kurasi dengan tangan dingin.

Ia menatap angka. Trafik turun. Iklan menghilang. Investor mulai gelisah.

Dulu, satu kalimat darinya bisa menentukan apa yang penting bagi bangsa. Hari ini, satu algoritma bisa mengubur tulisannya dalam hitungan detik.

Ia tidak dipecat. Ia tidak dijatuhkan.
Ia hanya perlahan… tidak lagi dibutuhkan.

Saya pernah duduk bersamanya, beberapa tahun lalu. Ia bercerita tentang masa ketika wartawan adalah penjaga gerbang kebenaran.

Ia berkata, dengan mata yang menyimpan sisa api, bahwa dunia pernah berjalan lebih lambat. Lebih dalam.

Kini, dunia berlari. Dan kedalaman menjadi beban.

Di situlah perbedaan zaman terasa paling kejam. Bukan pada runtuhnya gedung media. Tapi pada lunturnya makna sebagai pusat dunia.

Kekuasaan pemimpin redaksi sebuah media telah berubah.

-000-

Berubahnya kekuasaan pimpinan redaksi di dunia mode itu pula yang dipotret dalam film The Devil Wears Prada 2

Film The Devil Wears Prada pertama dirilis tahun 2006. Dua puluh tahun kemudian, sekuelnya hadir sebagai jawaban atas perubahan zaman yang radikal.

Ditulis oleh Aline Brosh McKenna, disutradarai kembali oleh David Frankel, dan diperkuat oleh akting Meryl Streep, Anne Hathaway, dan Emily Blunt, film ini bukan sekadar nostalgia. Ia adalah diagnosis.

Secara sinematografi, film ini tidak lagi glamor dalam arti lama. Warna tetap elegan, kostum tetap tajam, tapi kamera kini lebih banyak menyorot ruang kosong, layar digital, dan wajah-wajah yang berpikir cepat.

Dunia mode tetap gemerlap, tapi terasa lebih dingin. Lebih terukur. Lebih algoritmik.

Berbeda dengan film pertama yang berdenyut oleh konflik personal antara ambisi dan integritas, sekuel ini bergerak lebih sunyi. Konfliknya bukan lagi antara dua karakter, tapi antara dua zaman.

Film pertama adalah tentang masuk ke dalam sistem. Film kedua adalah tentang bertahan ketika sistem berubah.

-000-

Dua puluh tahun berlalu. Majalah mode Runway tidak lagi menjadi pusat gravitasi budaya. Dunia telah berpindah ke layar yang lebih kecil, lebih cepat, lebih bising.

Miranda Priestly sang pemimpin redaksi masih berdiri. Tajam. Elegan. Tapi kini ia menghadapi sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan. Relevansi.

Andy Sachs, yang dulu asisten Miranda, kembali bekerja di sana. Bukan karena nostalgia. Tapi karena realitas. Ia datang sebagai editor, bukan lagi asisten.

Namun ironi menyergapnya. Ia kembali ke dunia yang ia tinggalkan, justru saat dunia itu runtuh.

Emily, asisten Miranda dulu, sudah keluar dari media itu, kini menjadi kekuatan baru. Ia membangun brand. Ia memahami permainan baru. Ia tidak sekadar mengikuti. Ia menciptakan.

Konflik tidak lagi personal. Ia menjadi struktural. Kurasi melawan algoritma. Prestise melawan viralitas.

Klimaksnya tidak meledak. Ia berbisik. Keputusan diambil. Kompromi dilakukan. Runway bertahan.

Tapi bukan lagi Runway yang sama.

Pesan film ini sederhana, tapi menghantam. Kekuasaan tidak selalu jatuh. Kadang ia hanya berubah bentuk, sampai kita tidak lagi mengenalinya.

-000-

Dua puluh tahun setelah meninggalkan Runway, Andy Sachs akhirnya menemukan tempatnya sebagai jurnalis. Namun dunia yang ia bangun runtuh dalam satu pesan singkat. Seluruh newsroom-nya dipecat. Tanpa suara. Tanpa kehormatan.

Ia kembali ke Runway, bukan karena rindu, tetapi karena dunia tidak lagi memberi banyak pilihan.

Di sana, ia menemukan sesuatu yang lebih mengejutkan dari krisis industri media. Miranda Priestly tidak lagi tak tersentuh.

Miranda masih elegan. Masih tajam. Tapi kekuasaannya telah berubah bentuk.

Ia kini harus menjawab HR, tunduk pada investor, dan mempertimbangkan angka, bukan hanya insting. Runway tidak lagi dibaca seperti dulu. Dunia tidak lagi menunggu keputusannya.

Ia mencoba bertahan.
Ia menerima clickbait. Ia menoleransi kecepatan. Ia mengorbankan sebagian standar.

Bukan karena ia ingin berubah.
Tapi karena ia dipaksa oleh zaman.

Andy menulis dengan kedalaman, tapi hampir tak ada yang membaca. Di antara mereka, terbentang jurang baru. Bukan lagi antara ambisi dan integritas, tetapi antara makna dan perhatian.

Ketika skandal mengguncang Runway dan tekanan bisnis meningkat, Miranda harus bernegosiasi, merayu, bahkan berbagi kendali.

Di Milan, di tengah gemerlap terakhir yang terasa seperti perpisahan, ia membuat keputusan sunyi. Bertahan, tapi tidak lagi absolut.

Runway tidak runtuh.
Miranda tidak jatuh.

Namun ia bukan lagi pusat dunia.

Dan di situlah luka paling halus terjadi. Seorang ratu tidak kehilangan tahtanya. Ia hanya menyadari, dunia tidak lagi berputar di sekelilingnya.

Tapi Miranda dengan kematangan dan kearifan tetap berupaya pegang kendali. Di Milan, Miranda berbisik pada Andy: “Terbitkan semuanya. Orang harus tahu, ada harga yang dibayar.”

Ia mendorong Andy tak usah sungkan menulis sisi kritis dan buruk soal dirinya, selaku pimpinan di media mode. Sang ratu tidak menyerah. Ia mewariskan kebenaran kepada generasi berikutnya, sebagai bentuk kekuasaan terakhir.

-000-

Mengapa film ini penting?

Karena ia menangkap satu momen sejarah yang jarang disadari saat sedang terjadi. Perubahan tidak selalu datang sebagai revolusi. Ia datang sebagai pergeseran kecil yang terus berulang, sampai suatu hari kita terbangun dan menyadari bahwa dunia yang kita kuasai telah hilang.

Ini bukan tentang gaun, bukan tentang runway. Ini tentang mereka yang pernah menentukan arah zaman, lalu perlahan merasakan arah itu lepas dari genggaman.

Saya merasakannya dalam hidup saya sendiri. Ada masa ketika satu tulisan bisa membentuk opini publik. Kini, opini terbentuk dari ribuan potongan kecil yang berserakan, saling menabrak, lalu hilang.

Saya pernah percaya bahwa kedalaman adalah kekuatan. Hari ini, saya belajar bahwa kecepatan sering kali menentukan siapa yang didengar, bukan siapa yang paling benar.

Namun di tengah arus itu, ada pertanyaan yang terus mengganggu. Apakah kita masih bisa menjaga makna, ketika dunia hanya memberi hadiah pada yang cepat?

Film ini tidak memberi jawaban. Ia hanya memaksa kita berhenti sejenak, dan merasa.

-000-

Dua buku ini menambah wawasan kita tentang industri media yang sudah berubah di era digital.

Pertama, buku berjudul The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains, ditulis oleh Nicholas Carr, W, 2010

Buku ini menjelaskan bagaimana internet mengubah cara manusia berpikir. Carr menunjukkan bahwa arus informasi yang cepat dan terfragmentasi perlahan mengikis kemampuan kita untuk merenung secara mendalam. Kita membaca lebih banyak, tetapi memahami lebih sedikit.

Dalam konteks film ini, pergeseran dari majalah yang dikurasi dengan teliti ke konten digital yang diproduksi cepat bukan sekadar perubahan teknologi. Ia adalah perubahan cara manusia memberi makna.

Dunia tidak lagi memberi ruang bagi keheningan yang diperlukan untuk berpikir. Segala sesuatu harus segera, singkat, dan menarik perhatian dalam hitungan detik.

Di dunia seperti ini, figur seperti Miranda menjadi rapuh. Ia dibentuk oleh zaman yang menghargai kedalaman, sementara dunia baru menghargai kecepatan.

Krisis media, dengan demikian, bukan hanya krisis bisnis. Ia adalah krisis cara kita berpikir sebagai manusia.

-000-

Kedua, buku berjudul The Innovator’s Dilemma, ditulis oleh Clayton M. Christensen, 1997

Christensen menjelaskan mengapa organisasi besar sering gagal menghadapi perubahan. Bukan karena mereka bodoh, tetapi karena mereka terlalu berhasil dengan model lama.

Kesuksesan membuat mereka percaya bahwa cara lama akan terus berlaku.

Dalam film ini, Runway adalah contoh yang hidup. Ia kuat, berpengaruh, dan memiliki standar tinggi. Namun justru karena itu, ia lambat berubah.

Sementara itu, kekuatan baru muncul dari luar. Lebih kecil, lebih cepat, lebih fleksibel, dan tidak terikat oleh warisan masa lalu.

Buku ini membantu kita memahami bahwa konflik dalam film bukan sekadar konflik karakter. Ia adalah benturan antara dua sistem.

Yang lama tidak selalu salah.
Yang baru tidak selalu lebih baik.

Namun yang mampu beradaptasi, hampir selalu yang bertahan.

-000-

Warisan Miranda bukan lagi tentang tirani, melainkan keteguhan. Di celah algoritma yang bising, standar Andy menjadi kompas baru; bukti bahwa kualitas mungkin tak lagi menguasai pasar, namun ia tetap menjaga nurani.

Di atas pesawat menuju Jepang, 3 Mei 2026, saya menatap layar kecil di depan kursi. Dunia terasa begitu dekat, begitu cepat, begitu penuh suara. Tapi di dalam diri, ada kerinduan yang sunyi.

Kerinduan pada dunia yang memberi waktu untuk berpikir. Untuk merasakan. Untuk memahami.

Film ini mengingatkan saya bahwa kita semua sedang berada di persimpangan. Antara mempertahankan apa yang kita yakini, atau menyesuaikan diri dengan apa yang tak terelakkan.

Dan mungkin, kebijaksanaan terbesar bukan memilih salah satu.
Tapi tahu kapan harus berubah, dan kapan harus bertahan.

Yang paling menyakitkan bukan saat kita kehilangan dunia,
tetapi saat dunia masih ada, tanpa lagi membutuhkan kita.

Bagikan:

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.