Jakarta, Bumntrack.co.id – PT Pelindo Terminal Petikemas (Pelindo TPK) membukukan kontribusi kepada negara sebesar Rp1,73 Triliun (T) di tahun 2025. Mayoritas kontribusi didapatkan dari setoran pajak senilai Rp1,45 T. Sisanya berasal dari pembayaran konsesi serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang masing-masing berjumlah Rp224,5 miliar dan Rp55,59 miliar.
“Kontribusi perusahaan kepada negara merupakan wujud kepatuhan terhadap regulasi dan kewajiban yang telah ditetapkan pemerintah,” kata Corporate Secretary Pelindo TPK, Widyaswendra dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (3/6/26).
Pelindo TPK diproyeksikan akan menjadi salah satu fondasi perekonomian Indonesia. Hal tersebut didukung oleh data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukan adanya pertumbuhan pada sektor transportasi dan pergudangan sebesar 8,98 secara tahunan pada kuartal IV tahun 2025.
Selain itu, sektor pelayaran logistik memiliki potensi ekonomi yang besar, mengingat Indonesia adalah negara yang berkepulauan sekaligus masih terbelenggu dengan ketimpangan antardaerah.
Merujuk dari pandangan Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta, Anton Agus Setyawan, optimalisasi pelabuhan merupakan kunci dari efisiensi distribusi barang, terkhususnya di wilayah Indonesia Timur.
Pelindo TPK tidak segera puas akan pencapaiannya. Dalam rangka menciptakan operasional yang lebih efisien dan cepat, Pelindo TPK melakukan modernisasi seperti penambahan Quay Container Crane (QCC) dan Rubber Tyred Gantry (RTG) di beberapa pelabuhan, penguatan infrastruktur pendukung (dermaga, gudang kontainer) dan retrofitting.
Modernisasi yang diimplementasikan oleh Pelindo TPK bukan hanya soal upaya memompa keuntungan sebanyak mungkin, tetapi juga memperkokoh peran Pelindo TPK sebagai penghubung antarpulau. Anggota Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Tory Damantoro, menilai Pelindo TPK mengemban peran sebagai “jangkar fiskal” nasional sekaligus enabler ekonomi makro.
“Pelindo harus mengambil peran lebih besar, bukan sekadar efisiensi operasi pelabuhan, tetapi juga efisiensi alokatif geografis agar konektivitas logistik antarpulau menjadi lebih seimbang dan murah,” kata Tory.
Tren kinerja yang positif masih berlanjut di tahun 2026, terutama bila mengacu pada laporan yang dikeluarkan oleh Pelindo TPK pada tanggal 22 April.
Ada dua poin yang dapat dipetik dari laporan tersebut. Pertama, sepuluh Terminal Peti Kemas (TPK) telah melampaui target arus petikemas di saat kondisi global jauh dari kata stabil. Kedua, Modernisasi bukanlah satu-satunya alasan di balik tren positif Pelindo TPK.
Negara turut memiliki peran dalam mempengaruhi kontribusi atau kinerja perusahaan. TPK Merauke, misalnya, mengalami kenaikan arus petikemas karena Proyek Strategis Nasional (PSN). Alhasil, ada kenaikan jumlah kargo yang dari Pulau Jawa ke Merauke.
Benang merah antara dengan kenaikan arus petikemas dan pembangunan oleh negara terletak pada satu jawaban, yakni secara ekonomis, pelayaran adalah opsi yang paling rasional untuk mendistribusikan barang. Berbeda dengan transportasi udara, kapal kargo memiliki kelebihan berupa kapasitas yang lebih besar serta biaya operasional yang lebih rendah.
Soal kondisi global, faktor tersebut tidak begitu signifikan dalam mempengaruhi aktivitas maritim di Indonesia karena struktur perdagangan Indonesia lebih banyak bergerak di kawasan Intra-Asia, seperti Tiongkok dan Asia Tenggara. Bahkan PT Pelabuhan Indonesia (Persero), induk dari Pelindo TPK, mengumumkan adanya kenaikan arus petikemas sebesar 11%.
Dalam distribusi perdagangan nasional, kawasan Tiongkok dan ASEAN menyumbang sekitar 46,2 persen ekspor Indonesia dan 56,5 persen impor Indonesia. Struktur perdagangan ini memberikan bantalan bagi Indonesia karena sebagian besar arus barang masih bergerak dalam kawasan yang memiliki hubungan dagang kuat, stabil, dan saling terintegrasi.
Penulis: Jovan. A. R.
Editor: Ismed Eka








