PT Bio Farma (Persero) kembali mengukir prestasi di kancah ekspor nasional. Bio Farma meraih penghargaan Primaniyarta 2026 kategori Eksportir Pemanfaat Free Trade Agreement (FTA) pada Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di ICE BSD, Tangerang, Rabu (14/10).
Penghargaan dari Kementerian Perdagangan tersebut diterima langsung Direktur Komersial Bio Farma, Fitri Puspadewi. Ini merupakan Primaniyarta ke-12 bagi Bio Farma sejak 2010. Pada TEI ke-40 tahun lalu, Bio Farma bahkan menjadi satu-satunya BUMN yang meraih Primaniyarta Lifetime Achievement Award.
Kategori Eksportir Pemanfaat FTA diberikan kepada eksportir yang konsisten memanfaatkan perjanjian dagang bebas untuk memperluas pasar. Bagi Bio Farma, FTA menjadi strategi kunci memperluas akses vaksin ke pasar internasional.
Kontribusi ekspor Bio Farma tercatat lebih dari Rp10 triliun pada periode 2021-2025. Sejak 1997, Bio Farma telah mengekspor lebih dari 90 miliar dosis vaksin ke 150 negara di Asia, Afrika, Timur Tengah, Eropa dan Amerika, dengan kapasitas produksi 3,1 miliar dosis per tahun dan 20 produk telah prakualifikasi WHO.
“Penghargaan ini menjadi motivasi untuk terus memperkuat daya saing produk di pasar internasional. Melalui optimalisasi FTA, kami berupaya membuka peluang pasar lebih luas dan memperkuat kemitraan strategis,” ujar Fitri.
Fitri menegaskan, produk kesehatan Indonesia harus mampu bersaing sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok kesehatan dunia.

Sejalan dengan itu, Bio Farma terus memperkuat penguasaan teknologi melalui produk inovasi seperti Bio-TCV vaksin tifoid konjugat dan Bio-RV vaksin rotavirus neonatal hasil kolaborasi dengan Murdoch Children’s Research Institute (MCRI) yang telah mengantongi izin edar BPOM pada 2 September 2026.
Menteri Perdagangan Budi Santoso dalam TEI ke-41 menargetkan nilai transaksi mencapai USD 17,5 miliar








