Tokyo, Jepang, Bumntrack.co.id— Ketua Umum Asosiasi Pelaku Komoditas Agro Indonesia (APKA Indonesia), Hendra Firmansyah, melakukan kunjungan kerja ke Jepang dalam rangka memperkuat upaya membuka akses teknologi, investasi, dan pasar internasional bagi pengembangan komoditas agro nasional.
Kunjungan yang juga dijalankan dalam kapasitasnya sebagai Founder & CEO Firmans Group tersebut diarahkan untuk membangun kemitraan strategis dengan perusahaan Jepang, khususnya dalam pengembangan hilirisasi pertanian, perkebunan, dan perikanan.
Di Osaka, Hendra Firmansyah melakukan pertemuan dengan NTT West, perusahaan besar di bidang telekomunikasi Jepang. Pertemuan ini menjadi bagian dari penjajakan untuk melibatkan perusahaan tersebut dalam penguatan FIGIC dan memperluas hubungan dengan pasar serta investor Jepang.
Penjajakan tersebut membuka peluang untuk mengeksplorasi dukungan teknologi digital dan konektivitas bagi pengembangan ekosistem agro yang lebih modern, efisien, dan terintegrasi.
Pada rangkaian agenda di negeri Sakura, Firman’s Group juga melakukan penandatanganan MoU dengan Space Seed Holdings Jepang dan A-Wing Group Jepang. Kerja sama ini meliputi investasi, transfer teknologi, serta riset dan pengembangan untuk mendukung hilirisasi komoditas pertanian, perkebunan, dan perikanan.
Bagi APKA Indonesia, langkah tersebut sejalan dengan kebutuhan membangun sektor agro yang tidak hanya kuat dalam produksi, tetapi juga mampu mengembangkan industri pengolahan, meningkatkan kualitas produk, memperkuat rantai pasok, dan menciptakan nilai tambah bagi pelaku usaha serta petani, pekebun, dan nelayan.
Hendra menilai, kolaborasi internasional menjadi salah satu jalur penting untuk mempercepat transformasi sektor agro Indonesia. Kemitraan dengan perusahaan Jepang diharapkan dapat membuka akses terhadap teknologi, pengetahuan industri, model bisnis, dan jaringan pasar yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan serta potensi komoditas di Indonesia.
Sebagai Ketua Umum APKA Indonesia, Hendra optimististis strategi yang dibangun dengan Jepang akan terjalin, mengingat kebutuhan akan komoditas pangan sangat dibutuhkan dan Indonesia dinilai sebagai lumbung pangan yang dunia.
Diketahui, saat ini Jepang hanya memiliki 30 persen lahan pertanian. Kondisi itu dinilai belum maksimal dan belum mampu mencukupi kebutuhan pangan rakyat Jepang dalam sepuluh hingga dua puluh tahun ke depan.
“Jepang menganggap strategi ini (berkolaborasi dengan Firman’s Group) adalah timing yang tepat. Kolaborasi ini merupakan investasi strategis yang tidak hanya berpengaruh positif terhadap dampak ekonomi tetapi juga bisa memberikan dampak dari sisi pemenuhan kebutuhan pangan bagi masyarakat Jepang,” ungkap Hendra.
Agenda kunjungan juga mencakup audiensi dengan Fungsi Ekonomi dan Atase Pertanian KBRI Tokyo. Dalam audiensi tersebut, rombongan diundang untuk berpartisipasi dalam Green Expo yang direncanakan berlangsung pada Maret–September 2027 serta Agro Innovation pada 9–12 Maret 2027, dalam konteks penguatan kerja sama pangan dan agro.
Kedua agenda tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan potensi komoditas unggulan Indonesia, menjajaki peluang promosi produk, dan mempertemukan pelaku usaha nasional dengan mitra internasional.
APKA Indonesia memandang penguatan kerja sama dengan Jepang sebagai peluang untuk mendorong ekosistem agro nasional yang semakin inovatif dan berorientasi pada nilai tambah. Melalui sinergi antara asosiasi pelaku usaha, investor, perusahaan teknologi, dan pemangku kepentingan pemerintah, pengembangan komoditas agro diharapkan dapat bergerak menuju industri yang lebih modern, produktif, dan kompetitif.








