PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) atau KBI mencatatkan kinerja positif hingga Oktober 2026: 9,27 juta lot transaksi PBK dikliringkan, tumbuh 2,6% YoY. Segmen Loco & SPA tumbuh 12,7%, pasar fisik timah tumbuh 17,68%.
Di sisi lain, ekosistem SRG terus meluas dengan penambahan pengelola gudang baru sebesar 10,6%. Kopi menjadi komoditas utama dengan kontribusi 40% penerbitan Resi Gudang.
Atas pencapaian ini, PT KBI memperkuat perannya sebagai penjaga integritas perdagangan berjangka komoditas nasional dan mampu membuktikan setiap transaksi berjalan sesuai regulasi, tercatat, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Kepercayaan pelaku pasar adalah amanah yang kami jaga setiap hari. Transparansi dan akuntabilitas bukan sekadar komitmen, melainkan standar kerja,” ujar Adiyasa Suhadibroto, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko merangkap Plt. Direktur Utama PT KBI.
Adiyasa mengatakan, pertumbuhan ini ditopang dua segmen utama, pertama, Loco dan Komoditi Sistem Perdagangan Alternatif (SPA) yang naik 12,7% YoY. Kedua, pasar fisik timah dalam negeri juga mengalami kenaikan 17,68% YoY.
Kinerja ini menunjukkan aktivitas perdagangan tetap ekspansif meski pelaku pasar semakin selektif terhadap kepastian dan transparansi transaksi.

Dari Sistem Resi Gudang (SRG) yang dikelola PT KBI komoditas kopi tercatat menjadi penopang utama. Hingga September 2026, kopi menyumbang 40% dari total penerbitan Resi Gudang.
Salah satu penopangnya adalah pengelolaan Gudang SRG kopi di Kawasan Stasiun Gedebage, Bandung, hasil kolaborasi PT KBI, Bappebti, PT Kereta Api Indonesia (Persero), PT Sucofindo (Persero), dan PT ASLI Logistik Indonesia.
Selain kopi, PT KBI mendukung peluncuran E-Seaweed Platform di Sulawesi Selatan pada 23-24 September 2026. Platform ini mencatat aktivitas petani rumput laut secara real time, mulai dari budidaya, transaksi, hingga proses di gudang.
Inisiatif tersebut merupakan kerja sama multipihak yang melibatkan ILO dan Pemerintah Swiss melalui SECO, OJK Regional Sulsel-Sulbar, Bappebti, Pemprov Sulsel, Bank Sulselbar, dan PT KBI sebagai Pusat Registrasi Resi Gudang.
“Resi Gudang bukan sekadar instrumen penyimpanan, melainkan pintu bagi petani dan pelaku usaha untuk mengakses pembiayaan dan pasar yang lebih luas. Melalui SRG berbasis rel di Gedebage dan pencatatan digital seperti E-Seaweed Platform, data komoditas menjadi lebih terverifikasi, dan itu menjadi fondasi kepercayaan bagi perbankan maupun pembeli,” kata Adiyasa.
Sebagai Pusat Registrasi, PT KBI memastikan setiap Resi Gudang tercatat dan terverifikasi melalui Sistem IS-Ware Next Gen.
Sementara itu, PT KBI juga menjalankan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang sejalan dengan bisnis perusahaan.
Program unggulan Integrated Farming System (IFS) bertajuk Kemandirian Petani Kedelai memasuki tahun ketiga sejak diinisiasi pada 2023. Program ini kini mencapai Batch ke-4, berpusat di Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Klaten. Total 73 petani lokal terlibat dengan luas lahan produktif 10 hektare.
Kemudian, untuk keberlanjutan lingkungan, PT KBI menjalankan program reforestasi tanaman kopi di Kabupaten Garut. Program ini memadukan pemulihan lahan kritis dengan pemberdayaan petani lokal, sehingga meningkatkan tutupan vegetasi sekaligus produktivitas ekonomi kopi.
Ke depan, PT KBI akan memperkuat kualitas layanan kliring dan penjaminan, mendorong digitalisasi, dan memperluas kolaborasi untuk mendukung pasar komoditas nasional yang kredibel, kompetitif, dan berkelanjutan.








