KOLOM PAKAR

Benarkah Covid-19 Perang Global AS-China?

Jakarta, Bumntrack.co.id – Corona Virus Disease 19 (Covid-19) sudah menjadi momok bagi semua Negara, baik secara kesehatan maupun ekonomi. Social Distance, atau lebih tepatnya Physical Distance, merupakan salah satu tahap awal dari strategi mengurangi efek penularan melalui pembatasan interaksi. Strategi yang lebih ekstrim lagi adalah dengan Lock Down seperti di Wuhan, Italy, dan Rusia.

Daya tular virus Covid-19 yang berpola eksponential ini analog dengan konsep pertumbuhan bisnis INCREASING RETURN, yang diperkenalkan oleh Brian Arthur pada tahun 1976. INCREASING RETURN terdiri atas 2 (dua) segmen yang saling causal loop, yaitu PRODUK LEVEL diebelah kiri, dan MARKET LEVEL disegmen berikutnya.

INCREASING RETURN menghasilkan pola pertumbuhan eksponential, karena BISNIS MODEL produk tersebut tidak sekedar berfokus pada PRODUK LEVEL semisal: skala produksi efisien dan learning efeknya yang akan meningkatkan produktifitas dan efisiensi produksi. Tetapi model ini juga mampu mendesain MARKET LEVEL, yaitu kemampuan produk untuk DIPANUTI dan menjadi PLATFORM, sehingga menghasilkan INTERACTION EFFECT plus SOCIAL EFFECT yang makin lama makin membuat pertumbuhan produk tersebut berpola eksponential.

Merujuk konsep BRIAN ARTHUR ini, maka FaceBook dan Google mampu menghasilkan pertumbuhan eksponential adalah karena kekuatan INTERACTION EFFECT dan SOCIAL EFFECT nya yang tinggi. Demikian juga dalam kasus Covid-19, ada beberapa hal yang analog. Social Distance (Physical Distance) menjadi penting, karena secara teknis bila merujuk pada model INCREASING RETURN sebelumnya adalah merupakan upaya MEMUTUS rantai MARKET LEVEL sedemikian rupa sehingga kemampuan pertumbuhan (virus dalam hal ini) menjadi terlokalisir pada mekanisme PRODUK LEVEL saja.

Dalam kasus persaingan BISNIS, pengalaman menunjukkan bahwa MARKET LEVEL suatu produk yang menjadi panutan (PLATFORM) bisa diputus/diturunkan kemampuan pertumbuhan eksponensialnya dengan melokalisir interaction effect dan social effect nya. Misalnya: Baidu disupport habis-habisan oleh pemerintah China untuk menggantikan Google. Anda hanya bisa membuka Google atau WA di china bila anda mendaftar Roaming sebelum sampai disana, itupun tidak bisa dengan leluasa. Demikian juga Weibo yang menggantikan FB, atau WeChat sebagai pengganti WA.

Di dunia manufaktur, sejak jaman Obama memerintah 2 (dua) periode maupun Presiden sebelumnya, China adalah kapal sekoci manufaktur produk-produk AS. Kombinasi produktivitas dan biaya produksi plus logistic yang lebih murah ke seluruh dunia menjadikan China dipilih AS sebagai makloon manufakturnya. Produktivitas dan biaya produksi/logistic murah adalah hal yang sah-sah dan logis dalam pertimbangan bisnis. Tapi ternyata China bukanlah anak manis yang sudah cukup bersyukur diberi gula-gula sebagai partner produksi, China malah kemudian membeli saham banyak perusahaan AS maupun Eropa yang produknya dijual dipasar China.

FOXCONN yang saya kunjungi bulan Nopember tahun lalu telah membeli saham SHARP Jepang, sehingga Jepang hanya memiliki saham 30 persen saja. Demikian juga dengan HUAWEI yang pabriknya bersebelahan dengan FOXCONN di Shenzen. Meski bandrol Huawei adalah perusahaan swasta, tetapi saham terbesarnya dimiliki oleh BUMNnya China dan partai PKC. Oleh karena itu, perang Trump terhadap HUAWEI ibaratnya perang juga terhadap Negara. Manufaktur China menjadi semakin kuat saat XI JINPING menelurkan konsep OBOR (Jalur Sutra Baru) pada tahun 2013. Dan semakin memperluas pengaruh China saat dia diangkat sebagai Presiden Seumur Hidup. China kemudian menguasai Global Supply Chain sub komponen produk manufaktur dunia. Hingga akhirnya ketika TRUMP memutuskan menjadikan Amerika GREAT AGAIN, yang bila merefer pada konsep INCREASING RETURN, maka solusinya adalah dengan menahan laju pertumbuhan China melalui PEMUTUSAN MARKET LEVEL kekuatan Global Supply Chain China, maupun kekuatan jalur OBOR nya.

Apa cara yang paling efektip memutus MARKET LEVEL tersebut?
Dengan inovasi ala Blue Ocean Strategi sulit, dengan teknik yang lebih produktif juga sulit, karena China menurut Doktor Julyanto, diaspora Indonesia, yang saya temui di Shanghai Oktober 2019 mengatakan bahwa China adalah peniru teknologi terbaik di dunia, tidak ada satupun teknologi yang tidak bisa dikloning mereka.

Kenapa China demikian hebat? Karena dia mampu menarik pakar-pakar berbakat dari Taiwan, Hongkong, dan Macau. Secara politik berbeda tetapi disatukan oleh China dalam semangat The Greater China. CNTECH, salah satu pusat riset pemerintah dengan pendapatan riset terbesar dari Industri hampir 70% para peneliti doktornya dari kawasan Greater China.

Lalu bagaimana dengan hipotesis yang mulai beredar bahwa Corona virus – Covid 19 adalah senjata biologis AS untuk melawan dominasi China, khususnya memutus kekuatan MARKET LEVEL nya?

Silahkan berimajinasi sendiri, dan waktu kedepan yang akan menjadi saksi benar tidaknya. Yang penting bagi Indonesia kedepan adalah mulai mempersiapkan perang ekonomi tingkat tinggi berbasis teknologi. Sehingga kita mampu memperkuat Ketahanan Negara di era global. Perebutan sumber daya masa depan adalah melalui perang teknologi. Saat ini kemajuan teknologi menurut diaspora innovator Indonesia, KIWI ALIWARGA, sudah tidak sekedar Internet of Think (IOT), yang lagi marak digembar gemborkan pada tahun 2019 yang lalu. Negara maju sudah menuju ke generasi keduanya, yaitu Intelligent of Things, dan malah ada yang sudah mempersiapkan diri ke generasi ketiga, yaitu Imersion of Things.

Ditulis Oleh:
Dr.Ir.Arman Hakim Nasution, M.Eng
Pusat Kajian Kebijakan Bisnis dan Industri – ITS

Tags
Show More

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Close
Back to top button
Close