Berkat AI, PLTA Tua PLN Nusantara Power Raih Penghargaan Internasional

E-magazine Tahun XIX Edisi 178 - 2026

Jakarta, Bumntrack.co.id — Di tengah tantangan menjaga keandalan pembangkit listrik yang telah beroperasi selama puluhan tahun, PLN Nusantara Power (PLN NP) menghadirkan pendekatan baru melalui teknologi kecerdasan buatan ( Artificial Intelligence /AI).

Melalui Nusantara Control Center (NuCC) di Unit Pembangkitan (UP) Brantas, Jawa Timur, pembangkit-pembangkit tua dioptimalkan agar tetap andal memasok listrik, lebih efisien dalam beroperasi, dan semakin ramah lingkungan.

Inovasi ini mengantarkan PLN NP meraih penghargaan Silver kategori Sustainable Renewable Energy Initiative of the Year dalam Asian Power Awards 2026, yang diselenggarakan pada 15 Oktober 2026 di InterContinental Kuala Lumpur, Malaysia.

Bagi PLN NP, transformasi ini bukan sekadar soal menghadirkan teknologi canggih. Lebih dari itu, inovasi ini menjadi upaya menjaga aset pembangkitan yang telah beroperasi selama puluhan tahun agar terus memberikan manfaat bagi masyarakat, sekaligus mendukung masa depan energi bersih Indonesia.

Direktur Utama PLN Nusantara Power Ruly Firmansyah mengatakan, usia aset bukanlah penghalang untuk terus berinovasi dan meningkatkan kinerja pembangkit.

“Setiap pembangkit memiliki peran penting dalam menjaga keandalan pasokan listrik bagi masyarakat. Melalui inovasi digital dan pemanfaatan AI, kami ingin memastikan aset-aset yang telah beroperasi selama puluhan tahun tetap mampu bekerja secara optimal. Bagi kami, transformasi energi bukan hanya tentang membangun sesuatu yang baru, tetapi juga bagaimana merawat, meningkatkan, dan memaksimalkan potensi yang sudah ada untuk masa depan yang lebih berkelanjutan,” ujar Ruly di Jakarta, Rabu (21/10/26).

UP Brantas mengelola 13 PLTA dengan total kapasitas terpasang 291,54 MW yang tersebar di lima kabupaten di Jawa Timur. Menghadapi tantangan penuaan peralatan dan keterbatasan suku cadang, PLN NP secara bertahap memodernisasi sistem pengoperasian dan pemeliharaan pembangkit, hingga menghadirkan NuCC sebagai pusat kendali terintegrasi yang memungkinkan pemantauan dan pengoperasian dari jarak jauh.

Melalui teknologi seperti HydroOpt dan HydroBot, operator memperoleh dukungan analisis data untuk mengoptimalkan pemanfaatan air, mengenali potensi gangguan lebih dini, serta mengambil keputusan operasional secara lebih cepat dan tepat. Sementara itu, teknologi pemeliharaan prediktif membantu tim mengenali kondisi peralatan sebelum gangguan berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

Perubahan ini memberikan dampak nyata. Sepanjang 2025, UP Brantas mencatat tingkat ketersediaan pembangkit ( Equivalent Availability Factor /EAF) sebesar 98,12%, dengan tingkat gangguan yang menyebabkan pembangkit berhenti beroperasi secara paksa ( Equivalent Forced Outage Rate /EFOR) hanya 0,03%. Pada saat yang sama, biaya operasi dan pemeliharaan berhasil ditekan sekitar 66%.

Manfaatnya juga melampaui ruang kendali pembangkit. Dengan produksi sekitar 1.480 GWh listrik bersih sepanjang 2025, PLTA UP Brantas turut mendukung pengurangan emisi karbon sekitar 1,42 juta ton CO₂ per tahun. Optimalisasi pengelolaan air dan penerapan teknologi modifikasi cuaca juga menjadi bagian dari upaya menjaga ketersediaan air untuk mendukung produksi energi terbarukan.

Keberhasilan UP Brantas kini menjadi pijakan bagi PLN NP untuk memperluas penerapan transformasi digital ke berbagai PLTA lainnya di Indonesia. Langkah ini menegaskan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari pembangunan pembangkit baru. Dengan teknologi, ketekunan, dan pengelolaan yang tepat, aset lama pun dapat terus menghadirkan energi bersih yang bermanfaat bagi masyarakat dan generasi mendatang.

Bagikan:

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.