KOLOM PAKAR

China: Negeri Berjuta Teknologi, Membangun SDM Berbasis AI Skill

Jakarta, Bumntrack.co.id – Shanghai adalah kota kedua terbesar di China setelah Beijing. Shanghai juga merupakan pusat industri keuangan China sekaligus pusat mode. Saya mendarat minggu sore di Shanghai, dimana bulan Oktober merupakan bulan tersejuk menurut Christ Zheng, perwakilan UBTECH ROBOTICS. Ltd kantor pusat Shenzen, karena pada bulan November hingga tahun baru nanti udara Shanghai diperkirakan berada pada kedinginan dibawah 20 derajat.

China, sebagaimana Shanghai dan Xiamen (kota selanjutnya yang saya kunjungi) sangat bersih dan tertata dengan baik. Disetiap taman kota ada fasilitas olah raga dan perkumpulan para manula yang melakukan olah raga senam, tai chi, hingga berlatih pedang.

Kekurangan China dibandingkan Taiwan yang setahun lalu saya kunjungi hanyalah kebersihan toilet, selebihnya China (daratan) jauh lebih baik dibandingkan Taiwan. Bagaimana bisa suatu kota metropolitan bisa memiliki udara bersih?

Kuncinya ada di transportasi ramah lingkungan. Shanghai ada kota dengan sejuta motor listrik (dan beberapa mobil listrik). Yang jelas untuk motor, pemerintah kota Shanghai hanya mengijinkan motor listrik, sementara motor bensin hanya boleh untuk motor angkutan seperti TOSSA. Bisa anda bayangkan bagaimana merasakan jalan-jalan di trotoar kota metropolitan yang berhawa sejuk, tetapi tidak terasa bau polusi udaranya seperti di Bandung atau Bogor.

Ya, China memang sebelum perang dagang dimulai 2 (dua) tahun yang lalu sudah menjadi HUB bagi teknologi dari AS. Dengan kata lain, banyak perusahaan teknologi di AS yang menggaet perusahaan China sebagai bagian dari Supply Chain Global nya.

Sebagai contoh: Tesla sejak tahun 2012 telah memberikan blue print mobil listriknya kepada perusahaan China, dan hanya teknologi kontrol device nya aja yang dipertahankan Tesla untuk dibuat di AS.

Bagaimana bisa China bisa menjadi Global Supply Chainnya (GSC) teknologi negara maju, termasuk AS? Kuncinya ada di pasar, manufaktur/industrialisasinya, dan kesiapan SDM. Pasar di China untuk produk teknologi sangat besar, karena secara rata-rata per kapita Income penduduknya sejahtera dan banyak yang kaya, sehingga mampu membeli teknologi tinggi termasuk mobil listrik yang harganya masih 3 (tiga) kali mobil konvensional.

Kedua adalah biaya manufaktur yang murah dan efisien, karena Supply Chain komponen produk teknologi tersedia di China. Salah satu sebabnya adalah karena pemerintah China sangat mendukung penerapan teknologi tinggi masa depan dengan menerapkan teknologi VR (Voice Recognition), FR (Face Recornition), AI, Robotika dll melalui skema insentif.

Dan yang penting lagi dalam mensukseskan Visi China menjadi Pemain Dunia yang dicanangkan Xi Jinpin sejak 2012, adalah fokus pada pembangunan SDM yang berbasis AI (Artificial Inteligence).

AI Learning Centre yang digagas UBTECH ROBOTICS.Ltd sudah berlangsung selama 3 (tiga) tahun ditingkat SD, SLTP, dan SLTA sebagaimana yang saya amati di Jiading- Shanghai.

Pembelajaran AI ini embedded dalam kurikulum sekolah, dimana kalau di Shanghai diuji cobakan melalui penerapannya pada sistem robot, drone dan IOT, dan didelivery melalui mata pelajaran coding, komputasi, pemrograman big data, hingga AI nya.

Dengan demikian, ketika mereka nantinya masuk ke jenjang sekolah lebih tinggi lagi (PT atau VOKASI) pada jurusan apapun, maka mereka sudah siap untuk MEN-TEKNOLOGI-KAN bidang-bidang yang menjadi pilihannya.

Dengan kata lain, yang belajar hukum akan bisa membuat perangkat AI dengan big data yang mendukung keputusan-keputusan berbasis kajian undang-undang, sementara yang belajar kedokteran akan bisa membuat inovasi peralatan (devices) kedokteran yang bisa dikontrol melalui konsep IOT, dll.

Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya potensi kemajuan teknologi China kedepan. Dan sekali lagi, perlu diingat bahwa konsep AI Learning di China sebenarnya merupakan bantuan teknis dari HENDRY FORD FOUNDATION hingga saat ini ketika perang dagang sudah berlangsung 2 tahun lebih. Hendry Ford adalah lembaga nirlaba dari AS milik dari bapaknya otomotif AS di Hendry Ford.

Kalau di AS, AI Learning Centrenya sudah berjalan 10 (sepuluh) tahun, di China mereka baru berjalan 3 (tiga) tahun yang diinisiasi saat Obama presiden.

Meskipun demikian, daya jangkau dan diseminasi AI Learning di China sangat massive, karena Menteri Pendidikannya adalah mantan CTO (Chief Technology Offcer) UBTECH ROBOTICS Ltd, perusahaan teknologi inovasi bisnis yang valuasi sahamnya sudah mencapai 28 USD Billion sejak didirikan 5 tahun yang lalu.

Inilah hebatnya China, yang berani berpikir beda. Mereka berani menunjuk Menteri Pendidikan yang bukan dari latar belakang pengalaman birokrat atau pendidikan akademisi, tetapi dari innovator entrepreneur.

Beranikah kita di Indonesia meniru (atau sekaligus memodifikasi secara ATM) terhadap apa yang dilakukan China? Misalnya: Bagaimana bila Presiden menunjuk menteri beliau dibidang Pendidikan Dasar Menengah dari kalangan pebisnis Inovasi Teknologi yang sukses, tetapi sekaligus juga interes dengan ilmu pendidikan sebagaimana CTO UBTECH?

Atau juga berani memilih Menristek dari kalangan diaspora teknokat yang sudah terbukti berpengalaman sebagai Industrialis baik dari BUMN maupun SWASTA?

Menunjuk mantan Rektor menjadi menteri dibidang riset dan dikti sebagaimana praktek sejak presiden Suharto terbukti tidak terlalu efektif dari sisi capaian inovasi, karena memahami industri sebagai outcome dari riset-riset membutuhkan pengalaman sebagai inovator dan juga sedikit pengalaman sebagai industrialis.

Semoga tekad memajukan SDM dari Presiden Jokowi akan diikuti langkah strategis yang secara implementatif bisa menghasilkan outcome inovasi teknologi (bukan sekedar paper), yang didukung oleh pasar, indutrialisasi, dan SDM yang mampu bersaing secara global, sehingga kita tidak ketinggalan untuk masuk dalam platform Global Suplai Chain Teknologi.

Kita berkejaran dengan waktu, termasuk dalam menyongsong bonus demografi 2035 hingga 2050 yang hanya bisa dimenangkan bila dibarengi dengan SDM yang melek teknologi, yang tidak sekedar skill vokasi, tetapi juga skill inovasi.

Sebagai catatan akhir, AI Learning Centre Indonesia akan didirikan pertama kali di UI, dan akan dimulai pada Januari 2020. AI Learning Centre ini digagas oleh Kiwi Aliwarga, founder IdeaLab, bersama dengan FMIPA UI. Semoga sukses.

Ditulis Oleh:
Dr.Ir.Arman Hakim Nasution, M.Eng
Akademisi Manajemen Bisnis ITS

Tags
Show More

Artikel Terkait

Back to top button
Close