Jakarta, Bumntrack.co.id– Dalam rangka mengembangkan industri advanced materials (material maju), Daya Anagata Nusantara (Danantara) mempertemukan Kementerian/lembaga, BUMN, dan akademisi dalam acara Danantara’s Advanced Materials Industry Dialogue: From Minerals to Manufacturing di Jakarta.
Salah satu pembicara dalam forum tersebut yaitu Rosan Roeslani selaku CEO Danantara mengungkapkan bahwa Indonesia harus menjadi pemain yang berdaulat dalam rantai pasok global.
Menurutnya, Indonesia tidak bisa lagi berhenti di titik ekstraksi atau sekadar eksportir barang mentah ke luar negeri. Dalam beberapa tahun terakhir, konsumen sering membeli produk impor yang harganya berkali-kali lipat, meskipun bahan bakunya berasal dari dalam negeri.
“Sudah saatnya Indonesia naik kelas dalam rantai nilai material maju.” ucap Rosan di Jakarta, ditulis Kamis (16/7/26).
Pada acara yang sama, Danantara memfasilitasi penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PT Mineral Industri Indonesia (Persero) (MIND ID), PT Len Industri (Persero) (Len), PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, serta PT Perminas (Persero).
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memacu optimalisasi supply-offtake) mineral kritis dan mineral maju, akselerasi industri material maju, dan pertumbuhan ekonomi nasional melalui program-program industri strategis.
“Indonesia harus mampu menangkap peluang permintaan regional, membangun kapabilitas teknologi, serta bersaing di pasar global untuk mencapai skala ekonomi yang berkelanjutan,” ujar CTO Danantara, Sigit P. Santosa.
Sigit menyimpulkan bahwa Indonesia perlu memiliki industri material maju yang terintegrasi agar daya saing industri nasional lebih kuat sekaligus mendiversifikasikan kekuatan ekonomi Indonesia.
Melalui akun Instagram milik perusahaan, MIND ID mendukung upaya-upaya hilirisasi berkelanjutan.
Dalam praktiknya, MIND ID mengakui adanya tantangan pada bagian processing layer. Kondisi tersebut menjadi alasan dari kehadiran Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, dalam forum Danantara’s Advanced Materials Industry Dialogue.
“Bagi kami MIND ID, hilirisasi berikutnya bukan hanya menambah kapabilitas processing, tapi membangun industrial dan capability. Arah MIND ID yang terus ke depan ini sudah tertanam dalam RJPP (Rencana Jangka panjang perusahaan) 2026-2030,” tutur Maroef.
Len memandang kemajuan industri mineral sebagai fondasi dari lahirnya produk-produk teknologi strategis bernilai tambah tinggi, terlebih Len merupakan BUMN yang berkiprah di bidang pertahanan negara.
“Indonesia memiliki sumber daya mineral yang sangat besar. Tantangan berikutnya adalah memastikan mineral tersebut tidak berhenti sebagai komoditas, tetapi mampu diolah menjadi material maju yang melahirkan produk-produk teknologi bernilai tinggi. Di sinilah kolaborasi pemerintah, industri, perguruan tinggi, dan lembaga riset menjadi kunci untuk membangun ekosistem advanced materials yang kuat dan berkelanjutan,” kata Direktur Utama Len, Joga Dharma Setiawan.
Penulis: Jovan. A. R.
Editor: Ismed Eka








