Jakarta, Bumntrack.co.id – Sebagai keberlanjutan dari fokus konektivitas, stasiun KRL melampaui sekadar tempat naik-turun pengguna Commuter Line, namun mentransformasi fungsi stasiun sebagai simpul Ekosistem Mobilitas & Kota Terintegrasi (Urban Mobility & Integrated City). Transformasi ini didukung oleh volume penggunaan Commuter Line yang terus meningkat.
“Sepanjang 2026, per Juli lalu Commuter Line berhasil melayani 242.932.764 orang di seluruh wilayah operasinya,” kata Karina. “Jadi, stasiun pun sudah menjadi tempat yang memiliki peran lebih luas bagi pengguna transportasi ini,” kata VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda di Jakarta, Selasa (1/9/26).
Dari total tersebut, wilayah Jabodetabek menyumbang angka terbesar yaitu 210,46 juta perjalanan (sekitar 86,6%). “Ini membuktikan bahwa jaringan Commuter Line Jabodetabek sudah menjadi urat nadi utama mobilitas masyarakat di kawasan aglomerasi ibu kota,” tambahnya.
Sementara itu, kontribusi di wilayah operasional lainnya yang berada di kawasan aglomerasi lainnya juga tercatat antara lain pengguna Commuter Line Bandara Soetta sebanyak 1,39 juta orang, pengguna Commuter Line Merak sebanyak 2,83 juta orang, pengguna Commuter Line di wilayah Bandung sebanyak 11.87 juta orang, pengguna Commuter Line di wilayah Yogyakarta sebanyak 6,32 juta orang, pengguna Commuter Line di Wilayah Surabaya sebanyak 10 juta orang.
Sedangkan layanan Kereta Petani dan Pedagang lintas Rangkasbitung–Merak, layanan yang menghubungkan kawasan permukiman, sentra produksi, pasar tradisional, serta pusat kegiatan ekonomi di wilayah Banten sepanjang 2026 ini tercatat pengguna sebanyak 31.884 orang.
“Dengan tarif yang terjangkau tentunya penghematan biaya perjalanan dapat memberikan dampak langsung terhadap dunia usaha dan juga masyarakat pengguna Commuter Line,” ujarnya.
Pengeluaran dapat ditekan dari sisi transportasi, dan itu bisa dialihkan untuk membeli bahan baku, menambah modal, menjaga kualitas produk, atau memenuhi kebutuhan keluarga.
Tren tersebut sejalan dengan analisis Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 yang mencatat bahwa kawasan metropolitan di Indonesia masih didominasi penduduk usia produktif dengan intensitas perjalanan harian yang tinggi, terutama menuju pusat kegiatan ekonomi, pendidikan, dan layanan publik. Wilayah Jabodetabek, Bandung Raya, Yogyakarta, dan Surabaya tercatat sebagai kawasan dengan arus komuter terbesar, sehingga membutuhkan transportasi publik berkapasitas besar dan terjadwal.
Di sisi lain, peningkatan jumlah pengguna ini mencerminkan kebutuhan mobilitas yang semakin terhubung. Hal inilah yang menjadi landasan bagi KAI Group untuk terus meningkatkan kualitas layanan, kenyamanan perjalanan, serta integrasi antarmoda.
Guna mendukung perpindahan dan aksesibilitas yang efisien, nyaman, dan terintegrasi, KAI bersama KAI Commuter mengembangkan beberapa konsep integrasi dan penataan kawasan stasiun strategis atau Transit-Oriented Development / TOD. Terbaru mulai 1 September 2026 proses pekerjaan integrasi Stasiun Karet-Stasiun BNI City akan dikembangkan. Di kawasan stasiun ini juga telah terintegrasi dengan antarmoda seperti KA Basoetta, MRT, LRT Jabodebek, dan TransJakarta.
Selain itu, peningkatan prasarana pendukung operasional layanan Commuter Line juga terus dilakukan. Peningkatan kapasitas panjang peron di Stasiun Bogor juga telah dilakukan dan telah difungsikan untuk melayani rangkaian Commuter Line berformasi 12 kereta atau SF12.
Melalui penguatan layanan angkutan perkotaan, KAI Commuter terus berperan dalam membangun sistem mobilitas perkotaan yang efisien, terjangkau, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat di berbagai kota-kota di Indonesia.








