BERITA

Kolaborasi Antar Institusi Menggerakkan Pengembangan TOSS Sebagai Energi Kerakyatan

Jakarta, Bumntrack.co.id – Gerakan Ciliwung Bersih (GCB) dan perusahaan rintisan (startup company) comestoarra.com bekerjasama dengan PT PLN (Persero), PT Indonesia Power, PT Indofood Sukses Makmur, Tbk. melakukan Safari TOSS bertajuk “Journey to the east” pada 01 – 20 September 2020. Kegiatan ini adalah bentuk dukungan kepada pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk menggerakkan masyarakat Indonesia dalam pengembangan Tempat Olahan Sampah di Sumbernya (TOSS) dan memanfaatkannya menjadi energi kerakyatan.

Dalam Safari TOSS, GCB dan comestoarra akan mengunjungi sejumlah lokasi TOSS dan melakukan liputan aktifitas, seminar, serta pelatihan yang dilakukan melalui media daring. Hal ini selaras dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.75/MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2019 Tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen pada 19 Desember 2019 yang fokus pada pengurangan sampah, pembatasan timbulan sampah, pendauran ulang sampah, dan pemanfaatan kembali sampah. Selain itu, TOSS yang telah berhasil diimplementasikan di 15 lokasi di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Kalimantan juga akan mendukung Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Terkait Pengelolaan Sampah pada 24 Agustus 2020, Nomor 193 / 4726 / SJ tetang Urgensi Pengelolaan Limbah Sampah, dimana 100 persen sampah dapat terkelola dengan baik dan benar pada tahun 2025.

“Kapasitas Tempat Pengelolaan Akhir Sampah (TPA) di sejumlah wilayah yang semakin kritis. Bahkan sejumlah TPA mengalami bencana seperti longsor yang terjadi di TPA Cipeuncang, Tanggerang Selatan pada awal 2020 dan kebarkaran TPA yang terjadi di Putri Cempo, Solo di Akhir 2019,” kata Ketua Badan Eksekutif GCB, Peni Susanti di Jakarta, Selasa (1/9).

Keberadaan TPS-3R dan Bank Sampah juga belum optimal karena masyarakat belum mampu melakukan pemilahan sampah di sumber. Bahkan tidak jarang, sampah dibuang ke sungai / kali sehingga menimbulkan pencemaran terutama di sektor hilir. “Perlu sosialisasi dan edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat agar mampu melakukan pemilahan sampah di sumber. Oleh karenanya, GCB memfasilitasi masyarakat dan seluruh stakeholders untuk bekerjasama dalam pelaksaanaan pengolahan sampah di sumber melalui TOSS yang digagas oleh Supriadi Legino dan Sonny Djatnika Sunda Djaja,” ujar Peni.

TOSS adalah metoda pengelolaan dan pengolahan sampah di sumber berbasis komunitas dimana merubah paradigma pemilahan di awal menjadi pemilahan setelah proses pengolahan sampah berlangsung. Melalui metoda peuyeumisasi (biodrying), bau tak sedap dari sampah akan hilang dan mengering dalam waktu 3-7 hari (tergantung material sampah).

Menurut penggagas TOSS dan juga Komisaris Utama comestoarra.com, Supriadi Legino, perubahan paradigma pemilahan sampah tersebut dilakukan dimana seluruh sampah dimasukkan ke dalam box bambu berukuran 2 x 1,25 x 1,25 m3 yang mampu menampung sampah 500 kg – 1 ton sampah. Setelah sampah tidak bau dan sudah mengering, maka akan mudah bagi petugas sampah untuk memilah sampah organik, biomassa, plastik (PVC dan Non PVC), serta residu. “Konsep gotong royong sangat menunjang keberhasilan pengolahan sampah di sumber. Dari kajian sosiologi dan psikologi, masyarakat Indonesia membutuhkan teknologi yang sederhana namun sarat akan nilai-nilai budaya,” terang Supriadi.

TOSS dengan metoda peuyeumisasi (Biodrying) adalah suatu konsep yang terinspirasi dari alam. Pemilihan material bambu yang identik dengan masyarakat Indonesia, ukuran box peuyeum yang agronomis, serta penggunaan bioaktivator yang memanfaatkan bakteri untuk mengolah sampah merupakan suatu proses yang terinspirasi dari alam.

Selain berupaya untuk melakukan sosialisasi dan edukasi melalui media daring, Safari TOSS juga merupakan langkah untuk dapat memanfaatkan sampah yang telah diolah menjadi bahan baku padat (RDF) untuk mendukung program co-firing pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap sesuai dengan peraturan direksi PT PLN (Persero) Nomor 001.P/DIR/2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Co-firing Pembangkit Listrik Tenaga Uap Berbahan Bakar Batu Bara dengan Bahan Bakar Biomassa serta target 100 persen rasio elektrifikasi serta capaian target 23 persen Energi Baru Terbarukan pada 2025 yang dicanangkan oleh kementerian ESDM.

Tujuan dari Safari TOSS ini adalah memperlihatkan kepada seluruh masyarakat Indonesia bahwa masyarakat mampu memproduksi bahan baku energi kerakyatan yang bersumber dari material sampah. Berdasarkan hasil observasi dan penelitian sejak 2016 di sejumlah wilayah seperti Jawa, Bali, Kalimantan, dan Nusa Tenggara, Arief membuat 3 klasifikasi sampah, diantaranya:

  1. Sampah domestik yang bersumber dari rumah tangga, perkantoran, hotel, kawasan, dan pasar yang didominasi oleh sampah organik makanan (60 persen), sampah plastik (PVC dan Non PVC) (20 persen), dan sampah residu termasuk didalamnya sampah elektronik (20 persen)
  2. Sampah biomassa yang bersumber dari lahan pertanian, perkebunan, taman, hingga rabasan di sekitar jaringan listrik milik PT PLN (Persero)
  3. Limbah kayu dan hutan yang bersumber dari lokasi pemrosesan kayu menjadi produk jadi.

Dari ketiga klasifikasi sampah tersebut dibuat komposisi sampah hasil peuyeumisasi, meneliti pada laboratorium milik PT PLN (Persero) dan juga laboratorium eksternal/independent, dan melakukan uji coba sampah menjadi material padat (RDF) sebagai bahan baku substitusi kayu bakar, gas, serta bensin dan solar untuk. Berdasarkan hasil laboratorium, sampah domestik yang diproduksi di sejumlah lokasi diantaranya TOSS Gerakan Ciliwung BErsih Jakarta, TOSS Batalyon Armed 7, Bekasi, TOSS Jepara (saat ini dikembangkan menjadi Tanjung Jati Organic Solution), TOSS Desa Sampalan dan Desa Akah Klungkung, TOSS TPA Regional Kebon Kongok Lombok (saat ini dikembangkan menjadi Jeranjang Olah Sampah Setempat), dan TOSS PLN UP3 Kupang, memiliki kalori antara 3200 – 4500 kcal/kg. Selain itu, melalui metoda peuyeumisasi moisture content dari material sampah tersebut dapat dioptimalkan dibawah 15 pesen. Adapun ash content berkisar antara 2 – 25 persen tergantung jenis material sampah. Selanjutnya material tersebut diuji pada kompor pelet dan gasifier yang dikembangkan bersama dengan Usaha Kecil Menengah (UKM) di Bali dan Malang.

“Alhamdulillah, kami sudah sangat yakin dengan kualitas dari energi kerakyatan yang kami teliti dan uji didukung oleh masyarakat setempat dan juga UKM,” tegas Arief.

Untuk diketahui, Program ini merupakan bentuk dukungan untuk membantu target pemerintah dalam pengurangan sampah rumah tangga serta penanganan sampah sungai. Harapan dari program ini adalah pengurangan sampah rumah tangga yang dicanangkan pemerintah berkurang sebesar 30% dan untuk pemanfaatan serta penanganan sampah dapat meningkat sebanyak 70% di tahun 2025.

“Kami, PLN dan Indonesia Power tentu sangat welcome dengan program ini, serta yang terpenting adalah komitmen kami dalam penggunaan renewable energy dan pengembangan komunitas, maka kami yakin jika Indonesia Power akan menjadi leader dalam bidang renewable energy,” kata Direktur Utama Indonesia Power, M. Ahsin Sidqi.

Show More

Artikel Terkait

Back to top button