Kuartal I 2026, PT Timah Catatkan Laba Bersih Rp1,5 Triliun

Timah MIND ID
E-Magazine November - Desember 2025

Jakarta, Bumntrack.co.id – Laporan keuangan PT Timah (Persero) Tbk (TINS) pada kuartal I 2026 menunjukan peningkatan signifikan di tengah volatilitas tinggi.

Pengetatan pasokan dan penguatan sentimen spekulasi pasar menjadi pendorong peningkatan sekaligus menunjukkan ancaman terhadap global supply chain yang juga diperburuk dengan ketegangan geopolitik saat ini.

London Metal Exchange (LME) mencatat harga rata-rata logam timah Cash Settlement Price di kuartal I adalah USD48.679,68 per metrik ton, menandakan kenaikan sebesar 34,7% dari harga USD31.804,37 per metrik ton di kuartal 1 tahun 2025.

Pada aspek permintaan, terjadi perbaikan struktur konsumsi timah. Integrasi segmen solder dengan industri semikonduktor dan listrik menjadi penopang sekitar 50% permintaan, dibantu oleh tren struktural panjang seperti akselerasi Artificial Intelligence dan peningkatan investasi infrastruktur kelistrikan.

Pada saat yang sama, terjadi surplus penawaran di kuartal 1 tahun 2026 yang didukung dengan data jumlah persediaan timah di LME meningkat dari posisi 5.415 ton menjadi posisi 8.700 ton serta data dari CRU Tin Monitor yang menunjukan perkiraan konsumsi logam timah global (89.036 ton) di bawah angka pertumbuhan produksi logam timah global (90.645 ton).

Dibandingkan dengan periode yang sama, pada kuartal I 2026, pendapatan TINS naik dari Rp2,10 triliun menjadi Rp5,47 triliun, laba usaha bertambah dari Rp0,15 triliun menjadi Rp1,88 triliun, dan EBITDA telah mencapai Rp0,38 triliun atau meningkat sebanyak 450,84%. TINS membukukan laba bersih yang melebihi target (Rp252 miliar) yakni sebesar Rp1,5 triliun.

Ada tiga lini mengalami kenaikan bila dibandingkan dengan performa akhir tahun 2025, yakni nilai aset perseroan (dari Rp13,64 triliun menjadi Rp15,23 triliun), posisi liabilitas (dari Rp5,23 triliun menjadi Rp5,27 triliun), dan posisi ekuitas (dari Rp8,41 triliun menjadi Rp9,96 triliun).

Kinerja keuangan TINS menunjukan performa yang baik bila diukur berdasarkan rasio seperti Quick Ratio (105,1%), Current Ratio (276,1%), Debt to Asset Ratio (6,9%), dan Debt to Equity Ratio (0,6%).

“Pada kuartal I 2026, Perseroan membukukan kinerja keuangan yang solid, ditopang oleh pencapaian kinerja operasional yang cukup signifikan serta konsistensi strategi optimalisasi dan efisiensi berkelanjutan di seluruh lini bisnis,” kata Direktur Utama TINS, Restu Widiyantoro, dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa (5/5/26).

TINS mencatat peningkatan produksi timah yang besar. 6.312 ton bijih timah telah diproduksi di kuartal 1 2026, jumlah yang jauh lebih banyak daripada 3.225 ton yang diproduksi di kuartal 1 2025. Lonjakan sebesar 96% didorong oleh peningkatan produktivitas dan jumlah unit, Kapal Keruk (KK) Singkep yang kembali beroperasi, perbaikan pengawasan serta pengamanan Wilayah Izin Usaha Pertambangan, serta dukungan Satuan Tugas dari pemerintah.

TINS menyebutkan adanya peningkatan kinerja operasional dan produksi di kuartal 1 tahun 2026. TINS menambahkan jumlah unit serta menerapkan metode bor pandu untuk penambangan darat, sedangkan terkait penambangan laut, TINS menerapkan tiga langkah, yakni pengoperasian satu unit KK, optimalisasi kinerja Kapal Isap Produksi (KIP), serta optimalisasi fasilitas Sisa Hasil Pengolahan KIP.

TINS menemukan kondisi pasar yang tergolong positif jika kuartal 1 tahun 2026 dibandingkan dengan kuartal 1 tahun sebelumnya. Produksi logam timah naik dari 3.095 metrik ton sn menjadi 5.630 metrik ton sn. Penjualan timah juga naik sebesar 113% dari 2,824 metrik per ton. Pada saat yang sama, harga jual rata-rata logam timah melambung dari dari USD32.495 per metrik ton menjadi USD49.221 per metrik ton.

TINS mendapati penjualan timah masih hampir sepenuhnya dikuasai oleh ekspor sebab penjualan Indonesia hanyalah 3%, angka yang lebih kecil daripada pengeksporan ke Tiongkok (48%), India (11%), Korea Selatan (10%), Italia (6%), Singapura (5%) dan Belanda (4%).

TINS menutup laporan dengan dua kesimpulan. Pertama, peningkatan kinerja terjadi karena peningkatan volume produksi bijih sekaligus penguatan internal produksi. Kedua, tren harga timah global menguat memberi angin segar bagi keuangan TINS.

Penulis: Jovan. A. R.
Editor: Ismed Eka

Bagikan:

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.