KOLOM PAKAR

Membangun Kompetisi Global Supply Chain di Era Ancaman Resesi 2020, Sinergi Supremasi Membangun Negeri

Jakarta, Bumntrack.co.id – Dalam arahannya kepada pimpinan BUMN bidang non keuangan (Dirut dan Komut) minggu yang lalu, Wamen BUMN Budi Gunadi Sadikin menekankan pentingnya BUMN menjaga kehati-hatian kinerja keuangan. Ada 3 (tiga) hal yang ditekankan beliau, yaitu EBITDA, rasio antara HUTANG dengan EBITDA dan CASH FLOW.

Secara teknis, saya memandang bahwa 3 (tiga) hal ini penting untuk selalu dijaga pada level MIKRO (korporasi), khususnya dalam menghadapi situasi yang akan diprediksi menjadi resesi dunia baru diawal 2020.

Meskipun demikian, pada level MAKRO juga sangat dibutuhkan langkah STRATEGIS berupa sinergi strategis antar kementrian, yaitu dengan secara bersama-sama mendesain Bisnis Ekosistem (BE) INOVASI sedemikian rupa sehingga Indonesia bisa masuk kedalam skema Global Supply Chain (GSC) dunia.

Dalam sambutannya di DIES ke 69 ITS, 10 NOPEMBER 2019, Menristek/Ka BRIN, Bambang Brodjonegoro menekankan bagaimana membangun BE INOVASI, sehingga meningkatkan daya saing dalam kerangka kemandirian teknologi dan ekonomi negara. Dengan ide-ide nya yang membumi, saya yakin bahwa keunggulan RISET INOVASI dalam skema BRIN akan semakin terhubung dengan industri dibawah komando Bambang Brodjonegoro. Latar belakang beliau sebagai keluarga ekonom akademik dan pengalaman di birokrasi entrepreneurial menjamin keyakinan keberhasilan tersebut.

Kembali ke BE INOVASI. Dalam kerangka membangun BE INOVASI, memang dibutuhkan framework berpikir efisiensi dan efektifitas. Kerangka berpikir ekonomi yang sedang popular, yaitu CIRCULAR ECONOMIC (CE) bisa diaplikasikan untuk BISNIS MODEL INOVASI, sehingga meminimasi ZERO WASTE dengan langkah bisnis proses yang tepat. Contohnya: mesin desalinasi dari air laut menjadi air tawar harusnya bisa memisahkan garamnya menjadi BY PRODUCT (produk sampingan) berupa garam itu sendiri, sehingga garam tersebut bisa dihasilkan menjadi produk komersial. Demikian juga ketika kita membangun sumber energy terbaharukan berbasis alam, harusnya antara energy matahari, angin, gelombang laut, dan kinetic bisa digabungkan, karena akan meminimasi biaya investasi dan instalasi. Pola berpikir CIRCULAR dan CONNECTIVITAS inilah yang harus menjadi mindset innovator.

Yang tidak kalah pentingnya dalam membangun INOVASI INDUSTRI adalah bagaimana kita bisa mengatur strategi gabungan antara riset inovasi, regulasi dan platform industry, dan industrialisasinya ditingkat hulu ke hilir, melalui TEMATIK PROGRAM yang berfocus pada target (misalnya:) INDONESIA BEYOND GLOBAL SUPPLY CHAIN 2025.

Laporan WB September 2019 yang mengatakan bahwa Indonesia tidak masuk dalam skema GSC mobil listrik dunia sangatlah menohok, tapi sekaligus juga warning bagi kita untuk bertindak cerdas dan strategis. Bagaimana mungkin ditengah dikeluarkannya insentif moblis melalui Perpres 55/2019 bulan Agustus, ternyata kesiapan kita yang diidentifikasi WB hanyalah disisi kemapuan berkontribusi di komponen wiper dan ban mobil. Ada hidden agenda apa WB dengan kaki tangannya?

Oleh karena itu, membangun kompetensi Global Supply Chain perlu menjadi prioritas utama Kemenko Perekonomian yang dikomandani oleh Airlangga Hartarto. Dengan background Teknik Industri yang banyak mengajarkan pola pikir sistem thinking, saya yakin Pak Airlangga akan memahami ide ini dengan tepat dan cepat.

Mengapa demikian? Dalam rangka penguatan visi revitalisasi industri, kita tidak sekedar membangun industri-industri secara sektoral, tapi yang lebih penting adalah bagaimana industry-industri tersebut didesain BISNIS MODEL nya dalam kerangka masuk menjadi bagian dari PLATFORM industri dunia.

Dengan kata lain, bila didalam negeri ada konsep TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) yang diperjuangkan, maka desain strategi selanjutnya adalah bagaimana Indonesia bisa berperan dalam TKDN GLOBAL melalui skema GSC.

Dan TKDN GLOBAL ini harus diperjuangkan, termasuk melalui desain BE INOVASI yang dimaksud oleh Menristek/Ka BRIN Bambang Brodjonegoro, juga melalui bargaining dan kolaborasi politik perdagangan ditingkat Internasional.

Kementrian Koordinator (Kemenko) harus bertugas melakukan sinkronisasi antara tata nilai ekonomi dan Industri, tata nilai pembangunan SDM, tata nilai hukum Bisnis Internasional, tata nilai hubungan Luar Negeri G2G, G2B dan B2B dst, sehingga Indonesia dapat menjadi bagian dari GSC tidak sekedar komponen wiper dan ban sebagaimana moblis yang dilaporkan WB 2019.

Dalam kasus moblis misalnya, minimal Indonesia bisa masuk ke GSC baterei lithium dunia yang saat ini dikisaran harga USD 200/KWH (setara dengan Rp200 juta termasuk instalasi per mobilnya). Antam dan Pertamina sedang focus pada persiapan menjadikan Indonesia sebagai produsen baterei moblis. Baterei moblis diprediksi baru akan ekonomis kalau teknologinya sudah mampu membuat harga baterei turun ke level USD 100/KWH (setara 100 juta) dengan masa pakai 10 tahun dan biaya listriknya menjadi Rp70 ribu/425 KM (setara kalau kita dari Surabaya ke Jakarta via TOL, cukup mengeluarkan uang pengganti BBM hanya Rp140-150 ribu saja).

Dengan demikian, maka kerja besar membangun DAYA SAING EKONOMI Indonesia di era kedua Presiden Jokowi ini membutuhkan sinergi yang benar-benar total antar kementrian, PLUS antar KEMENKO nya. Dan peran BUMN sebagai AGEN PEMBANGUNAN, bersama-sama dengan Perusahaan Swasta Nasional perlu disinkronisasi agar proses industrialisasinya berjalan dengan cepat dan tepat waktu.

Tidak adalah artinya kita ingin menggenjot EKSPOR, kalau desain INDUSTRINYA dalam bentuk membangun BE GSC tidak menjadi focus pemikiran strategis, karena menggenjot eksport itu hanya tindakan sporadis. Ibaratnya menggenjot eksport itu sekedar MEMANCING DENGAN KAIL, sementara membangun BE GSC berikut lobby kolaborasi globalnya adalah ibarat MENJALA IKAN.

Mau pilih yang mana? Pasti Bapak Presiden akan pilih MENJALA IKAN. Tapi ingatlah Pak Presiden, ketika mengatur koordinasi ditingkat MENKO, Bapak Presidenlah panglima yang harus bisa mengeliminir VESTED INTEREST, termasuk berani menghadapi tekanan mafia yang berlindung dibalik baju PENGUSAHA NASIONAL. Tahulah Bapak yang saya maksud khan… hehe

Ditulis Oleh:
Dr.Ir.Arman Hakim Nasution, M.Eng
Akademiksi Manajemen Bisnis – ITS

Tags
Show More

Artikel Terkait

Back to top button
Close