BERITACSR
Trending

MIND ID Group Kembangkan Budidaya Cabai Melalui Program Babelucu

Program Babelucu besutan Inalum tingkatkan kesejahteraan warga sekitar.

 
BUMN Track. Jakarta – BUMN Holding Industri Pertambangan MIND ID lewat salah satu anggotanya, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), melakukan pembinaan pertanian dan budidaya cabai melalui program Budidaya Cabai Lubuk Cuik (Babelucu).

Program ini dilaksanakan di Desa Lubuk Cuik, Kecamatan Lima Puluh Pesisir, Kabupaten Batu Bara, Sumatra Utara. Penanaman cabai di daerah ini merupakan alternatif atas pertanian padi yang tenggelam akibat banjir bandang.

“Melalui program ini, Grup MIND ID berupaya untuk mengembangkan kapasitas petani agar dapat berjalan lebih baik dengan adanya infrastruktur pendukung pertanian”, kata Sekretaris Perusahaan MIND ID Heri Yusuf.

Adapun penanaman cabai di daerah ini pertama kali diinisiasi oleh warga. Kemudian sejak 2015, PT Inalum berkomitmen untuk turut terlibat dalam mengembangkan pertanian cabai di Desa Lubuk Cuik. 

Hal itu dilakukan melalui berbagai program, seperti pembangunan dua jalur saluran irigasi penghubung sepanjang 350 meter dan 200 meter, dukungan modal berbasis program kemitraan untuk 17 orang pertani, mengembangkan potensi UMK dan Desa Wisata, memberikan bantuan alat produksi produk olahan cabai, dan memberikan bantuan pupuk dan pengembangan infrastruktur pendukung di desa.

PT Inalum juga memberikan dukungan pelatihan digital marketing dan akses pemasaran di Koperasi Inalum serta memberikan pemberdayaan petani di bawah jalur transmisi.

Heri menjelaskan, pertanian cabai di Desa Lubuk Cuik memiliki keunggulan tersendiri, yaitu sistem pertanian yang dilakukan secara kolektif dengan dimulai melalui musyawarah warga dan ritual doa bersama. Penanaman hingga pemanenan pun dilakukan serempak pada jadwal yang telah ditentukan sehingga mampu memutus siklus hama.

Menurutnya, selama program Babelucu berlangsung, PT Inalum telah berhasil meraih beberapa pencapaian. Diantaranya, saluran irigasi berhasil membuka akses distribusi air secara merata untuk 40 persen lahan atau sekitar 34 ha, program ini memudahkan pengendalian air sehingga meminimalisir terjadinya banjir di area persawahan, serta program kemitraan mampu membuka 170 rantai atau 6,8 ha lahan produktif baru.

Program ini juga mampu memberikan dukungan infrastruktur saung dan MCK, sehingga membantu para petani untuk dapat lebih fokus mengolah lahan. Selain itu, pengolahan produk mampu menyerap 500 kg cabai saat harga turun. Melalui program ini pula, masyarakat berhasil mengolah cabai menjadi saos dan abon cabai.
 
Sementara itu, menurut perhitungan Social Return on Investment (SROI), hingga tahun pelaporan, program Babelucu telah menghasilkan dampak sosial yang melebihi biaya investasi (input) yang dikeluarkan. Nilai SROI selama kurun waktu tersebut mencapai angka 2,49.

“Artinya setiap Rp1 yang diinvestasikan mampu memberikan rata-rata dampak sosial senilai Rp2,49. Perhitungan SROI ini dilakukan oleh pihak independen,” pangkas Heri.

Artikel Terkait

Back to top button