NXGN The Fate of Danantara, Go Big or Go Home

pembicara di acara NXGN The Fate of Danantara: Go Big or Go Home.
BUMN Track E-Magazine

Jakarta, Bumntrack.co.id – CIO Danantara Pandu Sjahrir menjadi pembicara di acara NXGN The Fate of Danantara: Go Big or Go Home di Universitas Indonesia (UI) pada Selasa (15/6). Perhelatan tersebut merupakan kesempatan untuk memperkenalkan Danantara sekaligus bertukar pendapat.

Pandu membuka pemaparan dengan pandangan bahwa BUMN di Indonesia sedang berperang dengan sistem dan budaya sendiri akibat sikap sungkan. Oleh karena itu, Danantara menjadi instrumen untuk membangun ekosistem BUMN yang profesional dan bervisi jelas.

Selain peremajaan BUMN, Danantara memiliki peran sebagai penanam modal bagi negara. Saat ini, ada tiga sektor yang sedang diinvestasikan, yakni Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), industri protein global di Australia, serta pembangunan Kampung Haji di Makkah, Arab Saudi.

Sebelum mengakhiri presentasi, Pandu menyebutkan bahwa Danantara sudah terjun ke dunia kecerdasan buatan (AI). Walaupun pengembangannya memerlukan ekosistem hulu ke hilir yang matang, Indonesia memiliki kelebihan berupa lahan, air, dan energi yang banyak.

“Jadi, kita melihat kesempatan bagus di pembangunan infrastruktur yang menyangkut AI. Selama dua bulan terakhir, ini mungkin karena Singapura tidak punya lahan, Malaysia tidak punya energi, dan Thailand sedang mengalami krisis energi, semua berlomba-lomba ke Indonesia,” jelasnya.

Pada sesi kedua, Pandu beserta Head of Economics Portfolio Alignment & Sustainability Danantara sekaligus pembicara Masyita Crystallin, menerima pertanyaan dari tiga panelis, yaitu Ketua Umum ILUNI UI Pramudya A. Oktavinanda, Public Policy Professional Dara Nasution, dan Guru Besar Ekonomi UI Mohammad Ikhsan.

Salah satu pertanyaan yang diajukan adalah soal perlindungan hukum bagi Danantara. Dalam beberapa waktu terakhir, ancaman kriminalisasi dan perubahan politik menghantui pimpinan-pimpinan BUMN.

Pramudya selaku pengaju pertanyaan tersebut menjelaskan bahwa Temasek, holding BUMN Singapura, pernah rugi triliunan dolar pada tahun 2022 akibat investasi bodong di perusahaan FTX. Namun, para petinggi Temasek tidak dijerat secara pidana.

Menurut Pandu, Danantara merupakan jangka panjang. Pasalnya, Danantara sudah menyusun langkah-langkah untuk menyakinkan pemangku kekuasaan bila terjadi perubahan rezim.

“Danantara itu harus bisa outlast siapa pun yang menjadi presiden.” tegas Pandu.

Baik dari sesi pemaparan maupun sesi pertanyaan dari peserta dan pembicara, ada beberapa pertanyaan umum yang terjawab, seperti:

  1. Laporan keuangan Danantara mengandung beberapa rahasia negara sehingga sulit dibuka ke publik,
  2. Danantara merekrut banyak tenaga profesional asing karena talenta unggul dalam negeri masih sedikit,
  3. meskipun sama-sama berkiprah di dunia penanaman modal, Kementerian Investasi/BKPM berfungsi sebagai regulator,
  4. dan sebagainya.

Penulis: Jovan. A. R
Editor: Ismed Eka

Bagikan:

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.