Peluang Usaha Data Center di Indonesia

Ilustrasi Data Center (Foto: Telkom)
E-Magazine November - Desember 2025

Jakarta, Bumntrack.co.id – Kecerdasan artifisial (AI) telah menjadi buah bibir dunia informatika global dalam beberapa tahun terakhir. Baik pihak swasta maupun negara, berupaya untuk mengembangkan AI.

Salah satunya adalah pembangunan data center (pusat data). Fenomena tersebut dibahas oleh Wakil Menteri (Wamendiktisaintek) Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, dalam forum IndoEBTKE ConEx 2026 pada hari Kamis (3/9/26) di Jakarta International EXPO (JIEXPO).

AI telah merubah dunia secara signifikan, dari ekonomi hingga isu kedaulatan, tetapi Stella mengakui bahwa masyarakat Indonesia merasa tertinggal dalam persaingan global.

“Jika kita mengolah sumber daya energi terbarukan dengan tepat, kita bisa menjadi pemain di dunia yang didominasi oleh AI.” ujarnya.

Selaras dengan banyak perusahaan AI yang mampu membukukan keuntungan triliunan dolar Amerika, nilai investasi untuk pusat data meningkat dua kali lipat sejak tahun 2022, terlebih data center merupakan salah satu aspek yang vital dalam operasional AI.

Pusat data sangat memerlukan energi. International Energy Agency (IEA) meramalkan penggunaan listrik untuk keperluan AI akan meningkat tiga kali lipat pada tahun 2030.

Saat ini beberapa negara menyerap energi berskala besar untuk keperluan AI seperti Amerika Serikat (5%) dan Irlandia (lebih dari 20%). Agar bisa menopang industri AI di masa depan, dibutuhkan lokasi yang baru untuk pembangunan pusat data tambahan.

Meskipun Indonesia memiliki lahan dan sumber air yang cukup, masih banyak hal lain yang perlu diperhatikan, terutama infrastruktur. IEA mencatatkan bahwa 27% pusat data digerakan oleh energi terbarukan. Angka tersebut akan meningkat seiring kampanye dekarbonisasi.

“Kuncinya adalah data center akan membutuhkan energi sebesar 950 triliun watt-hour dan dunia akan meminta semuanya dari energi berkelanjutan. Inilah mengapa energi berkelanjutan sangat penting dan tidak semua negara mempunyai lahan, air, dan sumber energi berkelanjutan,” tegas Stella.

Wamendiktisaintek menyebutkan tiga rumusan masalah, yakni berapa jumlah listrik di Indonesia yang bisa dimanfaatkan untuk pusat data, apa teknologi yang bisa dimanfaatkan, serta apa teknologi yang akan tercipta di masa mendatang.

Bila Indonesia berhasil memanfaatkan demam AI dengan baik, negara tidak hanya merasakan keuntungan ekonomis maupun pelestarian lingkungan, tetapi juga soft power. Stella mengatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto kerap menekankan pentingnya kemampuan berkompetisi.

“Dunia tidak selalu ramah satu sama lain,” tambahnya.

Penulis: Jovan. A. R
Editor: Ismed Eka

Bagikan:

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.