BERITAKOLOM PAKAR
Trending

Pemikiran “Kecepatan” Paul Virilio (Tokoh Teori Kritis)

Oleh: Dian Agustine Nuriman, S.Ikom, M.IKom, IAPR
Founder NAGARU Communication

Paul Virilio merupakan seorang filsuf, urbanis dan teoritikus kebudayaan yang lahir pada tanggal 4 Januari 1932 dan meninggal pada usia 86 tahun.  Pemikiran mengenai kecepatan menjadi fokus utamanya, yang berawal ketika mengamati kecepatan mesin perang pada awal Perang Dunia Kedua.

Speed, Virtualization, War, Politics dan Art merupakan bidang yang menjadi pengamatan dan sangat dekat dengan Virilio sehingga bidang tersebut menjadi bahan pada buku- bukunya. Hasil karyanya berkaitan dengan aspek politik, hubungan internasional studi teori dan perang, media dan teori sosial, estetika, perkotaan dan lingkungan berpikir. Hasil kerja Virilio memperlihatkan bagaimana dan mengapa teknologi telah, dan akan terus menjadi dasar untuk membentuk pengalaman manusia dalam perkembangan sejarah.

Pada era industri 4.0 saat ini, terlihat jelas bagaimana teknologi berperan dalam pengembangan kehidupan bahkan sejarah manusia dalam aspek sosial dan politik. Alat komunikasi yang dimulai dari Sound Telegraph pada tahun 1871 yang dipatenkan oleh Antonio Meucci lalu kemudian setelah melalui beberapa tahap, pada tahun 1877 perusahaan Alexander Graham Bell mematenkan sebanyak tiga ratus telepon electro magnetic yang menggunakan magent permanen, diafragma besi dan dering panggilan hingga pada tahun 1915 telepon dengan system wireless pertama kali digunakan untuk berkomunikasi lintas negara.

Bentuk fisik secara berangsur mengalami perubahan, dimulai dengan telephone genggam yang tebal dan berat lalu menjadi tipis dan ringan. Begitu juga dengan perkembangan teknologi pada televisi layar datar yang sekarang makin tipis dan besar dimana sebelumnya berbentuk kubus tanpa warna dan hanya satu saluran program saja yang dapat kita nikmati. Bahkan saat ini, kian maraknya televisi digital yang menggunakan modulasi digital dan sistem kompresi sehingga fungsinya dapat menyerupai komputer.

Selain teknologi komunikasi, kita juga dapat merasakan perkembangan teknologi pada alat transportasi yang memberi kemudahan manusia untuk bergerak atau berpindah tempat melalui darat, laut dan udara. Misalnya seperti kereta cepat Jakarta Bandung yang sampai pada Desember 2020 lalu telah mencapai progres pembangunan 64,4%. Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Chanda Dwiputra saat meresmikan Tunnel 1 KCJB di Jakarta mengatakan, kereta cepat Jakarta-Bandung adalah proyek kereta cepat pertama di Indonesia yang telah diinisiasi sejak tahun 2015 yang akan dibangun sepanjang 142,3 kilometer. Produk transportasi modern ini digadang-gadang menjadi produk pertama se-Asia Tenggara.

Selain komunikasi dan transportasi, yang paling menjadi kebutuhan utama pada masa pandemi saat ini yang berkaitan dengan teknologi adalah jaringan internet. Dikarenakan dibatasinya mobilisasi untuk meminimalisir peluang penularan sekaligus menekan laju kasus positif Covid-19, maka segala kegiatan dilakukan dirumah dan temtu saja membutuhkan jaringan internet untuk mendukung aktivitas sehari-hari mulai dari sekolah, kuliah, bekerja bahkan sampai untuk temu keluarga ataupun teman.

Virilio sebagai seorang pemikir kecepatan dan melihat peningkatan kecepatan transmisi membentuk persepsi individu, tidak hanya kehidupan sosial, namun juga politik dan budaya. Kecepatan atau relatif pergerakan adalah elemen atau media dimana pengalaman seseorang terbentang lebih umum. Teknologi transportasi modern dan komunikasi membuat kita untuk bergerak cepat atau berkomunikasi langsung dari jarak jauh dan juga memaksa kita untuk menghabiskan lebih banyak waktu dalam posisi inert atau stasioner. Karena pada dasarnya kita sebenarnya terus bergerak meski sedang duduk dalam alat transportasi.

Virilio merupakan seorang profesor arsitektur di École Spéciale d’Architecture di Paris antara tahun 1969 dan 1999. Dia menggambarkan dirinya sebagai Urbanis atau seorang pemikir kota. Percepatan adalah kunci bagi pemikiran Virilio, ini di dasarkan pada keprihatinannya yang berakar pada arsitekur dan urbanisme pada organisasi temporal dan spasial.

Wacana Virilio dalam membuat tulisan yang begitu asli, berwawasan kaya, mengejutkan bahkan terkadang kontroversial, sangat dipengaruhi oleh pemikir besar eropa seperti Walter Benjamin (1892– 1940) dan Bapak pendiri fenomenologi, Edmund Husserl (1859–1938) seorang filosofis Eropa dan teori perspektif dari mana ia menulis.

Virilio sebagai pemikir Perancis yang sangat berpengaruh dan aktif untuk mewarisi dan melanjutkan tradisi berfikir fenomenologis. Tak henti untuk memberikan sumber daya dan teoritis yang di butuhkan untuk memahami secara kritis teknologi modernitas dan bentuk-bentuk sosial, politik serta budaya kontemporer dalam sudut pandang fenomenologisnya. Virilio menunjukkan bagaimana perspektif fenomenologis mengembangkan cara di mana teknologi modern datang ke bentuk indera dan organisasi ruang sosial, politik dan budaya. Virilio berpendapat, kita mungkin siap untuk melihat dunia dengan cara yang baru dan berbeda.

Virilio menjelaskan konsep percepatannya dengan contoh kecepatan dengan perjalanan menggunakan kereta api atau mobil, penumpang dapat melihat keluar dengan posisi lanskap. Melihat persepsi para penumpang mobil saat melihat keluar melalui kaca depan kendaraan saat bergerak.

Tanah seperti lanskap naik ke permukaan, benda mati digali dari cakrawala dan datang masing-masing pada gilirannya untuk menyerap glasir kaca depan, perspektif menjadi animasi, titik lenyap menjadi titik serangan mengirim keluar lini proyeksi ke voyeur–voyageur, tujuan dari kontinum menjadi titik fokus yang sinar pada pengamatnya terpesona, terpesona oleh perkembangan lanskap. Sumbu generatif gerakan nyata terwujud tiba-tiba melalui kecepatan mesin, tapi konkretisasi ini benar-benar dibandingkan saat ini, untuk obyek yang melemparkan dirinya pada lapisan kaca depan akan juga cepat terlupakan seperti dirasakan, tersimpan dalam kamar prop, itu akan segera menghilang di jendela belakang.” (Virilio 2005a: 105)

Saat penumpang naik mobil dan melihat kaca depan saat mobil melaju, tanah terlihat seperti naik atau posisinya lebih tinggi dari posisi seorang penumpang tersebut. Sesuatu yang ada pada pemadangan tersebut akan muncul sesuai gilirannya dimana posisinya paling dekat dengan posisi mobil akan terlihat lebih dulu. Perspektif, dari kejauhan menjadi seolah-olah gambar yang animasi, titik lenyap di depan sana di kejauhan menjadi semua pemandangan dan benda-benda itu seolah keluar. Arah tujuannya menjadi titik fokus saat melihat jalan yang terlewati. Gerakan dari segala benda yang ada di depan mobil seolah bergerak secara tiba-tiba dalam kecepatan mesin mobil itu melaju, segala sesuatu yang seperti di lempar dari depat akan cepat terlupakan. 

“Sekarang kita perlu mengaitkan kronologis ‘pergerakan’ masa lalu, sekarang dan masa depan dengan fenomena percepatan dan perlambatan…, perubahan dalam kecepatan yang bersekutu dengan fenomena pencahayaan, untuk eksposur ekstensi dan durasi materi dan cahaya hari…. Akibatnya, urutan (mutlak) kecepatan adalah Ordo cahaya di mana tenses klasik tiga yang ditafsirkan kembali dalam sistem yang tidak tepat yang kronologi.” (Virilio 2000d: 38)

Virilio menyatakan, seharusnya hal tersebut tidak lagi dipahami sebagai satu susunan durasi, suksesi dari masa lalu, sekarang dan masa depan, tetapi seharusnya sebaliknya, yaitu dipahami sebagai suatu aturan ‘eksposur’. yaitu, instan di mana fenomena yang diterangi oleh ataupun terkena oleh cahaya kecepatan. Konsep baru yaitu ‘waktu eksposur‘ adalah salah satu dari pemahaman Virilio yang paling sulit untuk dimengerti. Penggunaan istilah ‘paparan‘ dalam fotografi mungkin dapat menjelaskan maksud dari kata tersebut. Dalam konteks ini, hal itu akan mudah dipahami sebagai tindakan memperlihatkan film fotografi untuk menghasilkan gambar pada permukaan kimiawi, film lewati cahaya yang di paparkan. Gambar dihasilkan dari saat yang tepat atau instan dalam cahaya yang menyerang film (dikendalikan oleh rana kamera).

Virilio melihat kreativitas seni seperti berakar dalam pengalaman sensorik dan duniawi diwujudkan dengan artis. Akibatnya dia percaya bahwa seni sebagai sebuah media ekspresif harus terlibat dengan representasi realitas duniawi dan bahwa seni memiliki fungsi kritis dan oposisi. Ini merupakan sebuah tantangan untuk menerima cara pandang dunia dan memperbaharui visi itu. Ia juga melihat berkurangnya fungsi representasional seni sebagai akibat dari kecenderungan media visual modern (bioskop, video, fotografi digital) untuk mengurangi bidang spasial keberadaan materi yang mendukung paparan atau presentasi dari suatu gambar. Seni modern dan seni kontemporer muncul dalam konteks ini sebagai bentuk yang pada dasarnya pasif, bercerai dan realitas politik dunia nyata.

Dalam hal politik, pada awalnya Virilio mengembangkan analisis dalam karyanya yang pertama terkait Bunker arkeologi. Dimana argumentasi bahwa benteng beton perang dunia kedua menandai ambang batas yang bersejarah. Proses transformasi dilanjutkan di logika de frappe yang mendominasi periode pasca-perang. Virilio juga menganalisis jejak peran teknologi dalam perang dimana peran media visual baru berpengaruh dalam perang modern dan pentingnya teknologi udara. Melalui fotografi pada perang dunia kedua, dapat menentukan peran yang dimainkan oleh satelit modern dan konvergensi media digital tentang bagaimana cara mengidentifikasi perang kontemporer. Konvergensi ini menentukan munculnya apa yang Virilio sebutkan setelah tanah, laut dan udara, yaitu komunikasi kontrol elektronik dan media yang akan menjadi perlawanan dominan berdasarkan pertempuran kontemporer.

Show More

Artikel Terkait

Back to top button