BERITA

Pengusiran Dirut Krakatau Steel, Ini Pesan Menohok Rhenald Kasali ke DPR

Jakarta, Bumntrack.co.id – Terkait pengusiran Direktur Utama PT Kratakau Steel, Rhenald Kasali founder Rumah Perubahan meminta agar Anggota DPR membangun demokrasi dengan suatu kehormatan. Pasalnya, pada dasarnya DPR lebih cocok memanggil Kementerian BUMN daripada perusahaan BUMN, karena mitranya adalah kementerian bukan perusahaan BUMN. Karena sering dipanggil DPR, akhirnya petinggi perusahaan BUMN memiliki otak politik dan mencari cantolan politik.

“Namun, kalaupun tetap ingin memanggil karena lebih urgent, saya setuju dengan anggota DPR yang kemudian memberi kesempatan setelah mengusir Direktur Utama PT Krakatau Steel. Seharusnya itu cukup dilakukan rehat sejenak, dipanggil ke ruang pimpinan, diskusi sebentar setelah itu kemudian melanjutkan kembali. Mengapa? karena topiknya jauh lebih penting daripada kemarahan yang tidak penting itu, yaitu soal kedaulatan negara,” kata Rhenald Kasali Founder dari Rumah perubahan dikutip dari siaran Youtube, Kamis (24/2/22).

Saat ini Indonesia sedang menghadapi situasi over supply karena negara-negara lain sudah mengalami excess supply, seperti Jerman, Rusia, Jepang, Korea Selatan dan Tiongkok sampai 99 juta ton. Excess supply ini telah dilakukan dengan cara membanting harga, mengakibatkan munculnya baja tidak berkualitas masuk ke berbagai negara.

“Sampelnya sesuai standar tetapi barang yang beredar tidak memenuhi standar. Pada akhirnya, produksi baja di negara-negara tertentu kesulitan bersaing,” terangnya.

Menurutnya, industri baja adalah industri yang rawan dengan disrupsi dan rawan krisis. Pada krisis finansial di Amerika Serikat tahun 2008, banyak negara juga menghadapi gangguan. Kemudian Pandemi Covid-19 kembali menghadapi gangguan. Untuk mengatasi Excess supply, banyak negara tidak hanya membangun pabrik untuk menyerap baja, tetapi juga mengembangkan industri turunannya. India misalnya, mengembangkan strategi dengan mengundang PMA dan kemudian membangun industri turunan seperti alutsista, otomotif dan industri-industri yang penting lainnya.

“Korea juga sama. Selain membangun industri baja juga membangun universitas dengan basis sains untuk membangun industri perkapalan, industri otomotif, kemudian industri microchips dan lain sebagainya. Jadi memang inilah yang disebut sebagai mother of industry, ibunya industri. Ketika kita gagal memperbaikinya, gagal merencanakan maka yang terjadi adalah seperti saat ini, deindustrialisasi,” tegasnya.

Bagi Rhenald Kasali, memimpin perusahaan BUMN jauh lebih sulit ketimbang memimpin perusahaan swasta karena perusahaan BUMN itu dituntut untuk tidak hanya menjalankan misi negara dengan menjalankan program-program pemerintah. Tetapi juga dituntut untuk memberikan keuntungan perusahaan yang disetor kepada negara berupa pajak dan deviden. Selama ini Presiden Jokowi telah melakukan pembangunan infrastruktur, sekarang saatnya untuk memperkuat industri manufaktur.

Rhenald juga menilai Silmy Karim masuk ke dalam Krakatau Steel dalam keadaan perseroan merugi selama 8 tahun terus menerus. Sebetulnya negara ini sangat beruntung mendapatkan Silmy karena sudah berhasil melakukan transformasi di PT Barata dan PT Pindad. Dalam usia muda, Silmy memimpin PT Krakatau Steel dan ternyata berhasil melakukan restrukturisasi utang yang tadinya nilainya USD2,2 bilion atau sekitar Rp35 triliun, kemudian berhasil merampingkan dengan menghemat sekitar Rp10 triliun.

“Setelah itu, kita mendengarkan Krakatau Steel mulai mendapat keuntungan. Mulailah terjadi perdebatan. Hal seperti ini sungguh sangat disayangkan karena Silmy adalah salah satu tokoh muda di BUMN yang masih bisa kita Harapan. Mari kita coba bicara baik-baik dan kita cari jalan keluar. Apalagi teman anggota dewan masih muda-muda. Mari kita coba bicara baik-baik dan kita cari jalan keluar. Janganlah kita mempertontonkan gaya lama, kita sudah hidup dalam negara demokrasi dan kita bisa bicara dengan lebih baik lagi,” jelas Rhenald.

Artikel Terkait

Back to top button