KOLOM PAKAR

Ramadhan di Era Covid-19, Saatnya Mereposisi Kemandirian Berbangsa dan Bernegara

Jakarta, Bumntrack.co.id – Ramadhan adalah bulan tersuci dalam Islam. Suci atau juga diistilahkan dengan kata MULIA adalah suatu predikat yang secara historis dalam sejarah agama Samawi hingga agama penutup yaitu Islam. Ramadhan memiliki makna begitu banyaknya peristiwa-peristiwa iconic/milestone dalam memaknai sifat Ke-Tuhanan dan hakikat Ke-Manusiaan.

Mulai dari turunnya kitab Zabur, Taurat, dan Injil, demikian juga dengan awal turunnya Kitab Suci Al Qur’an semua terjadi di bulan Mulia ini. Demikiam juga peristiwa-peristiwa besar lainnya terjadi di Bulan Mulia ini, termasuk hari kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, yang dipilih oleh para pemuda dengan mendorong Soekarno-Hatta memproklamirkan Kemerdekaan.

Kemuliaan adalah kata yang sakral, sehingga tidak semua orang bisa memaknai arti Ramadhan sesuai dengan yang diharapkan oleh Allah SWT dan Rasulnya. Meski demikian, setiap hamba, setiap Insan yang pelupa tetap perlu berusaha menggapai keridloanNya, sesuai dengan takaran masing-masing.

Bicara takaran makna kemuliaan, ingatan saya melambung jauh menuju pengalaman 30 tahun yang lalu saat berkunjung ke pasar batu Mulia di Kayun Surabaya. Melihat batu berwarna hijau daun yang segar dimata, saya bertanya kepada si penjual: Batu apakah itu Pak? Zamrud Colombia kata si penjual. Berapa harganya? 40 Juta. Oh my GOD, saat itu saya sebagai mahasiswa tercengang dengan harga sebutir batu zamrud, estimasinya 4,5 carat, dengan tingkat inklusi yang hampir sempurna.

Saya bertanya lagi: mahal amat sih Pak?…..jawaban Bapak kemudian inilah yang membuat saya teringat dengan DEFINISI kemuliaan. Apa jawaban si Bapak? namanya BATU MULIA mas, jadi hanya orang-orang mulia sajalah yang mampu membeli dan memakainya….hehe.

Jadi kalau dikonversi dengan makan dan minumnya anak mahasiswa kos saat itu yang sekali makan minum Rp3.500 maka harga batu zamrud itu bisa dipakai untuk makan minum selama 10 tahunan, tiga kali sehari ….alamak, pening kepalaku saat itu.

Melihat saya tercengang, dengan senyum khasnya si Bapak penjual berkopiah itu menawarkan bahwa ada alternatif batu sejenis tetapi lebih murah, karena kualitas warna, kejernihan dan kualitas kristalnya beda. Ada juga alternatif batu akik warna hijau yang harganya tidak sampai Rp1 juta tapi sudah kereen dipakai, pungkas si Bapak.

Definisi kemuliaan diatas sebenarnya bisa kita maknai sebagai definisi secara duniawi. Sementara definisi kemuliaan Ramadhan menurut pendapat beberapa pakar agama tidaklah sekedar makna duniawi, tetapi juga meliputi rasa empati, rasa berbagi, dan kepedulian sosial sebagai bekal akhirat.

Saya jadi teringat bahwa perintah berzakat fitrah untuk berempati kepada sesama manusia yang kekurangan pangan itu juga terjadi di bulan Ramadhan. Dan zakat fitrah itulah sebagai penutup ibadah puasa di Bulan Ramadhan.

Seakan-akan, Allah SWT ingin memberikan simbool bahwa zakat tersebut adalah prangko bagi amalan-amalan puasa yang telah kita lakukan. Seakan akan Ar Rahman dan Ar Rahiim hendak mengajarkah kita untuk bisa berempati merasakan laparnya si miskin, setelah kita menjalani puasa selama sebulan Ramadhan.

Ajaran Puasa itu dalam hipotesis saya adalah untuk meraih QOLBU, yaitu sifat lembutnya ke-Tuhanan yang ada dalam jiwa manusia sebagaimana definisi yang ditulis oleh Syekh Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Ali al-Husaini al-Jurjaniy dalam kitabnya at-Ta’rifat.

Dan kualitas QOLBU inilah nantinya yang akan membuat kakter dan perilaku kita menjadi AL LATHIIFU (lembut), serta AR RAHMAAN dan AR RAHIIM. Sehingga kualitas dan perilaku kita sebagai manusia akan mencerminkan sifat Ke-Tuhanan, yaitu beberapa sifat VENUS dari Allah Ajja Wajallah.

Masalah kualitas pencapaiannya, tentunya tiap orang akan berbeda-beda tergantung kesadaran dan pengalamannya. Ibarat batu zamrud cerita diatas, ada yang high quality, dan ada yang lebih rendah kualitasnya, tetapi yang penting tetap mencerminkan keindahan pancaran batu perhiasan, yang tidak sekedar batu kali.

Selain hal-hal yang bersifat VENUS (kelemah lembutan), sejarah bulan Mulia Ramadhan juga diisi dengan kejadian-kejadian yang bersifat BUMI (kegagah perkasaan). Kemenangan di perang Badar yang fenomenal, dan penaklukan kota Makkah adalah mencerminkan spirit keberanian Al Jabbar dan Al Qohhar.

Dua sifat Allah itulah yang disampaikan oleh Almarhum KH As’ad Samsul Arifin Situbondo saat memberikan pesan dari gurunya Kyai Cholil Bangkalan kepada KH Hasyim Ashari Tebu Ireng dalam pesan tersirat untuk merestui pendirian ormas NU.

Kemenangan dalam sejarah perjuangan di Bulan Ramadhan selalu dikaitkan dengan semangat gabungan antara VENUS dan BUMI, dimana bila salah satu dari unsur tersebut tidak seimbang (sebagaimana ilustrasi YIN dan YANG dalam fengshui China), maka kekalahanlah yang didapat. Jatuhnya dan kekalahan umat Islam melawan pasukan Mongol di era setelah Nabi SAW wafat adalah akibat nafsu duniawi yang tidak seimbang dengan kualitas nafsu mencapai kemenangan di akhirat. Dan kekalahan ini ternyata juga terjadi di Bulan Ramadhan.

Semoga kita dapat menyadari bahwa kemenangan perjuangan dalam sejarah di bulan Mulia Ramadhan adalah disebabkan seimbangnya antara spirit keperkasaan dengan spirit kelembutan.

Dalam menjalani Ramadhan di era pandemic COVID-19 ini, semoga rasa empati kepada sesame, dan juga semangat untuk berbagi akan menjadi semakin kuat.

Semoga juga kedua spirit ini menginspirasi pemimpin-pemimpin kita untuk BERANI menciptakan kemandirian ekonomi bangsa, sehingga kedepan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang mampu BERMAIN, dan tidak DIMAINKAN oleh bangsa lain.

Berita gembira bahwa di bulan Ramadhan ini Mentri BUMN melancungkan tekad agar BUMN mampu mendukung kemandirian kesehatan dalam bidang obat-obatan dan alkes. Kemarin saya diinfokan seorang teman di kementrian bahwa Pak Presiden memerintahkan BUMN bersama-sama mencetak sawah untuk ketahanan pangan.

Dengan kata lain, COVID – 19 di bulan mulia ini selain ancaman yang mendegradasi kesakralan ramadhan secara ritual karena tutupnya masjid-masjid, kita harap juga menjadi berkah bagi tumbuhnya spirit gotong royong, menjadi trigger bagi kesadaran akan pentingnya kemandirian pangan, energy, kesehatan, dan lain-lain factor ketahanan nasional

Ditulis oleh:
Dr.Ir. Arman Hakim Nasution, M.Eng
Manajemen Bisnis – ITS

Show More

Artikel Terkait

Back to top button