Jakarta, Bumntrack.co.id – Sepanjang Semester I 2026, PT Kereta Api Indonesia (Persero) melayani 3.818.770 pelanggan pada layanan KA jarak jauh dan lokal di empat Divisi Regional atau Divre di Sumatra. Jumlah tersebut meningkat 11,35 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 3.429.603 pelanggan.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan kenaikan tersebut memperlihatkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap perjalanan berbasis rel di berbagai wilayah Sumatra.
“Kereta api menjadi bagian dari aktivitas masyarakat untuk bekerja, menempuh pendidikan, berdagang, menjalankan kegiatan usaha, mengunjungi keluarga, serta berwisata. Setiap wilayah memiliki karakter perjalanan yang berbeda dan seluruhnya perlu dilayani dengan mengutamakan keselamatan, ketepatan waktu, serta kenyamanan,” kata Anne di Jakarta, Sabtu (18/7/26).
Kenaikan pelanggan tercatat di seluruh Divre KAI di Sumatra. Divre I Sumatera Utara melayani 1.390.985 pelanggan, meningkat 4,7 persen dibandingkan Semester I 2025 sebanyak 1.328.370 pelanggan.
Divre II Sumatera Barat mencatat 1.142.466 pelanggan, naik 17,6 persen dari 971.845 pelanggan. Persentase tersebut menjadi kenaikan tertinggi di antara empat Divre pada Semester I 2026.
Sementara itu, Divre III Palembang melayani 603.967 pelanggan, meningkat 10,8 persen dibandingkan 545.326 pelanggan. Divre IV Tanjungkarang mencatat 681.352 pelanggan, naik 16,7 persen dari 584.062 pelanggan.
Kenaikan di seluruh wilayah tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan perjalanan berbasis rel hadir pada berbagai karakter geografis dan aktivitas masyarakat. Di Sumatera Utara, layanan kereta api mendukung perjalanan antarkota serta mobilitas masyarakat menuju Medan dan kawasan sekitarnya.
Di Sumatera Barat, layanan kereta api menjadi bagian dari perjalanan masyarakat menuju pusat Kota Padang, kawasan pendidikan, tempat usaha, Bandara Internasional Minangkabau, serta destinasi wisata di wilayah pesisir dan perbukitan.
Pada wilayah layanan Divre III Palembang dan Divre IV Tanjungkarang, kereta api mendukung perjalanan antarkota di Sumatra bagian selatan. Pelanggannya berasal dari beragam latar kebutuhan, mulai dari pekerjaan, pendidikan, perdagangan, kunjungan keluarga, hingga perjalanan wisata.
“Data setiap Divre memperlihatkan bahwa kereta api mempunyai fungsi yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Ada pelanggan yang menggunakannya setiap hari, ada yang bepergian antarkota, dan ada pula yang memilih kereta api untuk menikmati perjalanan bersama keluarga,” ujar Anne.
Wilayah operasi KAI di Sumatra dikelola melalui Divre I Sumatera Utara, Divre II Sumatera Barat, Divre III Palembang, dan Divre IV Tanjungkarang. Jaringan regional tersebut melayani kebutuhan masyarakat sesuai karakter wilayah dan lintas operasional masing-masing.
Pada sejumlah perjalanan, kereta api memberi akses menuju pusat pemerintahan, kawasan usaha, pasar, sekolah, kampus, fasilitas kesehatan, bandara, serta daerah wisata. Keterhubungan tersebut membantu masyarakat menjalankan aktivitas sosial dan ekonomi dengan jadwal perjalanan yang terencana.
Pengalaman pelanggan juga dibentuk oleh pemandangan yang dilewati. Di Sumatera Barat, perjalanan dapat diiringi hamparan sawah, perbukitan, dan kehidupan masyarakat di sekitar jalur. Di Sumatera Utara, pelanggan melewati kawasan perkotaan, perkebunan, dan permukiman yang menghubungkan Medan dengan sejumlah daerah.
Pada lintas Sumatra bagian selatan, perjalanan menghadirkan bentang perkebunan, sungai, persawahan, serta kota-kota yang menjadi pusat aktivitas masyarakat. Setiap wilayah menyajikan pengalaman visual yang berbeda sesuai lanskap dan kehidupan di sekitarnya.
“Kereta api memberi kesempatan kepada pelanggan untuk melihat Sumatra dari sudut yang khas. Pemandangan di sepanjang lintas menjadi bagian dari pengalaman perjalanan, sementara stasiun mempertemukan pelanggan dengan berbagai aktivitas di kota tujuan,” kata Anne.
Pertumbuhan pelanggan sebesar 11,35 persen di Sumatra berada di atas kenaikan total pelanggan KA jarak jauh dan lokal KAI. Secara nasional, jumlah pelanggan layanan tersebut meningkat 8,7 persen, dari 27.463.553 pelanggan pada Semester I 2025 menjadi 29.858.243 pelanggan pada Semester I 2026.
Menurut Anne, perkembangan tersebut perlu diikuti dengan pengelolaan kapasitas, kesiapan sarana, keandalan prasarana, kompetensi petugas, kebersihan, serta penyampaian informasi perjalanan yang mudah dipahami pelanggan.
“Peningkatan volume perlu diimbangi dengan kesiapan seluruh unsur pelayanan. Perjalanan yang aman dan nyaman dibangun melalui pemeriksaan sarana, pemeliharaan jalur, pengaturan perjalanan, kesiapan petugas, serta pelayanan kepada pelanggan sejak berada di stasiun hingga tiba di tujuan,” ujar Anne.
Kinerja layanan di Sumatra juga memiliki kaitan dengan arah pengembangan perkeretaapian nasional. Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menempatkan sistem kereta api sebagai salah satu fokus pemerintah dan memberi arahan agar jaringan perkeretaapian diperluas ke berbagai wilayah. Presiden juga meminta perencanaan Trans Sumatera Railway dilakukan secara baik bersama rencana jaringan di Kalimantan dan Sulawesi.
KAI memandang data layanan yang telah beroperasi dapat menjadi literasi dalam membaca pola perjalanan masyarakat. Data pelanggan, karakter wilayah, kesiapan sarana dan prasarana, aspek keselamatan, serta keterhubungan dengan moda lanjutan menjadi bagian penting dalam pembahasan penguatan konektivitas.
Pengembangan jaringan perkeretaapian merupakan agenda yang memerlukan kajian menyeluruh dan kolaborasi antara pemerintah, KAI, pemerintah daerah, serta para pemangku kepentingan. Setiap wilayah mempunyai kondisi geografis, kebutuhan perjalanan, dan kesiapan infrastruktur yang berbeda.
“Layanan eksisting memberikan gambaran mengenai kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah. Data tersebut penting untuk memperkaya pembahasan mengenai konektivitas, kapasitas layanan, keselamatan, dan keterhubungan perjalanan di Sumatra,” kata Anne.
Pada tingkat global, 2026 menjadi awal United Nations Decade of Sustainable Transport 2026–2035. Perserikatan Bangsa-Bangsa menempatkan transportasi sebagai pendukung berbagai tujuan pembangunan, termasuk infrastruktur tangguh, pertumbuhan ekonomi, perdagangan, rantai pasok, efisiensi energi, dan penanganan perubahan iklim. Agenda tersebut mendorong sistem transportasi yang berkelanjutan, inklusif, dan tangguh melalui kolaborasi berbagai pihak.
Bagi Sumatra, peningkatan pelanggan menunjukkan besarnya ruang bagi transportasi publik berbasis rel dalam mendukung akses masyarakat terhadap kegiatan sosial dan ekonomi. Layanan dengan kapasitas besar dan jadwal terencana dapat membantu perjalanan regional sesuai kebutuhan setiap wilayah.
“Kenaikan pelanggan di seluruh Divre Sumatra menjadi dorongan untuk terus menjaga layanan yang aman, andal, nyaman, dan mudah digunakan. Penguatan perkeretaapian juga membutuhkan kerja bersama agar manfaatnya semakin luas bagi masyarakat dan perekonomian daerah,” tutup Anne.








