CSR

Sinergi dengan UGM, WIKA Bangun Sarpras Air Bersih di Desa Tertinggal

Jakarta, Bumntrack.co.id – Dari kaki Gunung Sindoro-Sumbing, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) dan Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT-UGM), Yogyakarta bersinergi membangun sarana dan prasarana air bersih bagi warga Desa Ropoh, Kecamatan Kepil, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. 

Sinergi yang didukung sepenuhnya oleh Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Progo Bogowonto Luk Ulo, Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan Penataan Ruang (PU, SDA, dan Taru) Pemprov Jawa Tengah, diimplementasikan melalui pembangunan bangunan sadap yang berfungsi sebagai pembagi air dari saluran primer ke saluran sekunder atau terseir, pembuatan IPA (instalasi pengolahan air) sederhana, pekerjaan pipa, dan pembuatan HU (hidran umum) sebagai bak penampung yang dilengkapi kran untuk pengambilan air.

“Inisiasi ini berangkat dari minimnya kondisi sanitasi lingkungan dan akses layanan air bersih bagi warga yang rata-rata berpencaharian sebagai petani hortikultura,” kata Sekretaris Perusahaan, Mahendra Vijaya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu (5/2).

Namun, ironisnya, warga di sana hanya dapat mengandalkan pemenuhan kebutuhan air bersih dari air sungai dan sebagian kecil dari mata air yang ketika musim hujan menjadi keruh. “Alhamdulillah melalui kerja sama apik antara WIKA – UGM – Dinas PU, SDA, dan Taru Ruang Pemprov Jateng serta Pokmas Tirta Panca Wening, Sarana dan Prasarana Air Bersih bisa hadir di tengah-tengah masyarakat Ropoh untuk menopang kehidupan sehari-hari, termasuk untuk irigasi dan perikanan desa,” tambahnya.

Membangun Sarana dan Prasana Air Bersih dengan Perencanaan
Proses pembangunan sarana dan prasarana air bersih di Desa Ropoh diawali dengan survei lokasi yang bertujuan untuk mencari lokasi dan mengukur debit mata air untuk kajian potensi pemanfaatan. Selain itu pada survey ini juga dilakukan pengukuran topografi di lokasi bangunan sadap, bak instalasi pengolahan air sederhana (IPAS), jalur pipa dan bak hidran umum.

Pembangunan bangunan sadap sendiri disesuaikan dengan lokasi mata air yang terdiri dari 5 lokasi dengan debit masing-masing sebesar Q1= 0,46 liter/detik, Q2 = 0,78 liter/detik, Q3 = 0,29 liter/detik, Q4 = 0,68 liter/detik, dan Q5 = 0.81 liter/detik. Lebih lanjut, pembangunan instalasi pengolahan air sederhana (IPAS) didesain agar air dari mata air dapat diolah terlebih dahulu sehingga air yang dialirkan menuju bak hidran utama sudah berupa air bersih. Bak IPAS terdiri dari bak penenang, bak penyaring, dan bak pengendap.

Pekerja pipa pada pembangunan sarana dan prasarana air bersih di Desa Ropoh, meliputi pipa dari sumber air menuju Bak IPAS dan pekerjaan pipa dari Bak IPAS menuju Bak HU sejauh 1.700 meter melalui lereng bukit yang curam dan rawan longsor. Adapun pipa yang digunakan pada pekerjaan yang melalui 6 titik jembatan jembatan sling adalah pipa HDPE dengan ukuran 2 dan 3 inchi. 

Pembuatan Bak HU menjadi fase pekerjaan berikutnya yang bertujuan untuk menampung air bersih yang telah melalui pengolahan Bak IPAS. Air bersih pada Bak HU inilah yang akan digunakan oleh masyarakat. Jika Bak HU penuh, maka air yang meluap akan dialirkan menuju desa, sehingga air bersih yang meluap dari bak juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Show More

Artikel Terkait

Back to top button