Jakarta, Bumntrack.co.id – Berdasarkan laporan keuangan kuartal IV tahun 2025 (4Q25), PT Telkom (TLKM) mencatatkan laba bersih Rp2 triliun atau -57% YoY dan -58% QoQ. Hasil ini membuat laba bersih selama 2025 menjadi Rp17,8 triliun (-20% YoY), di bawah ekspektasi karena hanya setara 83% estimasi 2025F konsensus.
Dilansir dari Stokcbit, penurunan laba bersih pada 4Q25 utamanya ditekan oleh kenaikan beban depresiasi dan amortisasi (+27% YoY, +42% QoQ) akibat percepatan depresiasi, serta meningkatnya beban personel (+22% YoY, +16% QoQ) seiring implementasi early retirement program. Hasil ini membuat laba usaha selama 2025 turun -15% YoY seiring menyusutnya margin laba usaha ke level 23,6% (vs. 2024: 27,2%).
Meski demikian, realisasi kinerja TLKM selama 2025 sesuai dengan guidance 2025 yang telah direvisi manajemen, di mana perseroan menargetkan pendapatan sedikit terkontraksi dan EBITA margin di sekitar level 50%.
Perbaikan kinerja untuk Telkomsel (segmen B2C) terus berlanjut pada 4Q25, dengan pendapatan Telkomsel naik secara kuartalan menjadi Rp27,9 triliun (-0,7% YoY, +1,5% QoQ). Kenaikan pendapatan pada 4Q25 didorong oleh kenaikan ARPU ke level Rp45 ribu (+2,2% YoY, +3,6% QoQ), sejalan dengan kenaikan ARPU pada industri telekomunikasi yang didorong oleh berlanjutnya perbaikan dalam persaingan harga di industri.
Kenaikan ARPU pada 4Q25 diikuti oleh jumlah pelanggan yang relatif stabil di level 156,1 juta (-2,1% YoY, -1% QoQ). Manajemen optimis bahwa masih terdapat ruang untuk melanjutkan kenaikan ARPU pada beberapa kuartal ke depan.
Dari sisi operasional, laba usaha pada 4Q25 turun menjadi ~Rp5,2 triliun (-38% YoY, -44% QoQ), dengan margin laba usaha turun ke level 14,2% (vs. 4Q24: 22,4%, 3Q25: 25,7%).
Penurunan ini utamanya disebabkan oleh kenaikan beban depresiasi dan amortisasi akibat percepatan depresiasi pada beberapa aset, serta peningkatan beban personel seiring early retirement program.
Dalam earnings call pada Selasa (12/5), manajemen TLKM menjelaskan bahwa percepatan depresiasi disebabkan oleh perubahan kebijakan akuntansi, di mana TLKM melakukan reklasifikasi serta perubahan masa manfaat ekonomis pada aset drop cable dan beberapa aset network lainnya, dari 25 tahun menjadi sekitar 5–10 tahun.
Langkah ini diharapkan dapat mencerminkan praktik akuntansi yang lebih tepat dan selaras dengan standar industri. Perubahan ini juga akan mencerminkan valuasi aset yang lebih representatif dalam proses spin–off aset fiber dari TLKM ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (Infranexia).
Dalam earnings call , manajemen TLKM mengatakan bahwa pembagian dividen tahun buku 2025 setidaknya akan berada pada level yang sama dengan tahun buku 2024.
Terkait proses streamlining, TLKM telah menandatangani perjanjian penjualan saham bersyarat terkait kepemilikan di AdMedika dan TelkoMedika pada Maret 2026. Sementara itu, proses spin–off aset fiber ke Infranexia ditargetkan rampung pada 3Q26. Manajemen juga menyebut tengah mengeksplorasi opsi untuk memasukkan aset fiber dari BUMN lain, meski hingga kini belum terdapat keputusan final terkait rencana tersebut.
Analis Stockbit menilai pemulihan pendapatan TLKM mulai terlihat pada 4Q25, didorong oleh berlanjutnya ekspansi ARPU di tengah jumlah pelanggan yang relatif stabil. Manajemen TLKM juga optimistis bahwa kenaikan ARPU dapat dilanjutkan selama 2026.
“Namun, perbaikan pendapatan tersebut berpeluang mendapat tekanan dari kenaikan beban depresiasi, seiring perubahan masa manfaat ekonomis pada beberapa aset existing dan aset baru. Ke depan, manajemen telah memberikan guidance 2026, dengan target pertumbuhan pendapatan sekitar +1–3% YoY, normalized EBITDA margin > 50%, serta capex–to–revenue ratio sekitar 17–19%. Dengan mempertimbangkan transformasi internal TLKM yang sedang berlangsung — seperti streamlining, proses value unlocking, dan transisi dari holding–operating company ke strategic holding — kami menilai TLKM berpeluang untuk memenuhi guidance 2026,” tulisnya.
Selain itu, pembagian dividen untuk tahun buku 2025 juga dapat menjadi katalis untuk harga saham TLKM secara jangka pendek. Dengan mengasumsikan pembagian dividen per saham yang sama dengan tahun buku 2024 di ~Rp212/saham, jumlah tersebut mengindikasikan dividend yield ~7,2% per Selasa (12/5).








