BERITA

Genjot Proyek Listrik 35.000 MW, Mulai PLTU Hingga PLTSa

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) terus melakukan melakukan peningkatan kapasitas dan eletrifikasi mencapai 100 persen di seluruh Indonesia. Peningkatan kapasitas listrik yang masuk dalam proyek 35.000 MW antara lain dibangun melalui proyek PLTU, PLTD, PLTB, PLTA, PLTS hingga PLTSa.

Pada awal September ini, PLN menandatangani kontrak pembangunan tiga Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan 1 (satu) pembangunan Gardu Induk. Poyek tersebut adalah PLTU Sulut-1 kapasitas 2×50 MW, PLTU Timor-1 kapasitas 2×50 MW, dan PLTU Palu-3 kapasitas 2×50 MW serta proyek Gardu Induk GIS 500 kV Muara Karang Baru.

Penandatanganan kontrak pembangunan 3 PLTU dan 1 GI merupakan bagian dari proyek pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan 35.000 MW ini memiliki nilai total investasi lebih dari Rp12 triliun dengan menggunakan Anggaran PLN. Adapun pembangunan pembangkit dalam rangka meningkatkan rasio elektrifikasi di Indonesia, khususnya di wilayah Sulawesi dan Nusa Tenggara sementara pembangunan GIS 500 kV Muara Karang Baru yang merupakan bagian dari jaringan transmisi 500 kV Jakarta Looping dilakukan untuk mendukung dan meningkatkan kehandalan sistem kelistrikan DKI Jakarta dan sekitarnya.

Beberapa konsorsium yang bekerja sama dengan PLN dalam pembangunan ini di antaranya Konsorsium PT IKPT – PT PP – ITOCHU Corporation – Sumitomo Heavy Industries – dan PT Medco Power Indonesia, sebagai Penyedia Barang/Jasa untuk pembangunan PLTU Sulut-1 dan PLTU Timor-1; Konsorsium PT Wijaya Karya – Doosan Heavy Industries – dan, Korea South-East Power sebagai Penyedia Barang/Jasa untuk pembangunan PLTU Palu-3; dan Konsorsium Indokomas – Hyosung, sebagai Penyedia Barang/Jasa untuk pembangunan GIS 500 kV Muara Karang Baru.

Pembangkit Ramah Lingkungan

Selain membangun PLTU, PLN juga giat membangun pembangkit listrik dari energi baru terbarukan (EBT). Salah satunya Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Tolo kapasitas 60 MW di Kabupaten Jenoponto.

Plt Dirut PLN Sripeni Inten Cahyani menjelaskan, PLTB Tolo merupakan bagian dari Proyek Percepatan Pembangunan Pembangkit 35.000 MW, sekaligus menjadi bagian dari upaya Pemerintah untuk dapat mencapai target bauran energi nasional 23 persen dari EBT pada 2025.

“Nilai investasi PLTB Tolo mencapai USD160.7 juta dengan tenaga kerja lokal sebanyak 390 orang. Sebagai pembangkit tenaga bayu terbesar kedua di Indonesia setelah PLTB Sidrap, PLTB Tolo memiliki kadar Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sekitar 42 persen, memiliki 20 wind turbine, dengan tinggi tower 133 meter (m) dan panjang bilah atau baling-baling mencapai 64 m,” jelas Sripeni.

Masing-masing turbin mampu mengalirkan listrik sebesar 3,6 Megawatt (MW) dengan Capacity Factor (CF) kumulatif nya sebesar 30 persen lebih, adapun total kWh produksi yang telah dihasilkan PLTB Tolo sejak Desember 2018 hingga Agustus 2019  sebesar 142.86 MWh. Sedangkan untuk sistem Sulawesi, bauran penggunaan EBT telah mencapai 32,94 persen, PLTB sebesar 4,15 persen, PLTA sebesar 21,12 persen, dan PLTP sebesar 7,66 persen.

Sampah jadi Listrik

Selain PLTB Tolo, PLN juga mendukung pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Salah satunya terletak di lingkungan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo, Desa Mojosongo, Surakarta. PLTSa ini merupakan pilot project pemanfaatan sampah untuk pembangkit energi listrik di kota lainnya. Setelah beroperasi, PLTSa ini akan mampu melistriki kurang lebih 4.585 pelanggan dengan asumsi pemakaian kWh rata-rata perbulan sebesar 275 kWh untuk pelanggan rumah tangga daya 1300 VA.

Sripeni meyakinkan, pembangunan PLTSa ini dapat membantu pemerintah daerah dalam mengurangi masalah sampah. Pasalnya, Pembangkit EBT ini memanfaatkan sampah dari TPA Putri Cempo dengan total kebutuhan sampah sekitar 276 ton/hari. Komposisi tersebut meliputi sampah baru yang diprioritaskan untuk diolah sebesar 200 ton/hari dan sampah lama dengan ketersediaan 1.800.000 ton hingga saat ini.

Proyek pembangunan tahap pertama pembangkit tersebut ditargetkan rampung pada tahun 2019 ini bersamaan dengan 3 PLTSa lainnya yang berada di Kota Surabaya, Bekasi, dan Jakarta. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencanangkan setidaknya akan ada 12 PLTSa yang siap beroperasi hingga 2022 mendatang. Pembangkit tersebut akan mampu menghasilkan listrik hingga 234 Megawatt (MW) dari sekitar 16.000 ton sampah per hari.

Di Surabaya, PLN juga bekerjasama dengan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) Benowo sejak tahun 2015. Pembangkit berkapasitas 1,65 MW ini mampu memasok 740.000 kWh per bulan, dengan rata-rata pemakaian rumah tangga daya 1300 VA dengan pemakaian kWh rata-rata per bulan sebesar 132,78 kWh, maka PLTSa tersebut mampu mengaliri 5.573 pelanggan.

PLTSa Benowo menempati lahan 37,4 ha dan mampu menampung 539.343 ton sampah pada 2015, dengan karakteristik sampahnya 65 persen organik dan 35 persen anorganik. Kapasitas PLTSa Benowo dengan teknologi sanitary landfill adalah 2 MW, namun output listrik yang dapat diekspor hanya sebesar 1, 65 MW.

Elektrifikasi Wilayah Terluar

Untuk melistriki wilayah terluar Indonesia, PT PLN berupaya menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di Natuna. Untuk sistem kelistrikan di Kabupaten Natuna termasuk di pulau-pulau tersebar hingga pulau terluar terdiri dari 12 sub sistem kelistrikan dengan total daya terpasang 35,8 MW dan daya mampu 29.5 MW dengan beban puncak 14.2 MW.

“PLN baru saja merampungkan pembangunan interkoneksi sistem 20 KV sepanjang 60 kms yang terhubung dari Ranai ke Pian Tengah, dengan sudah beroperasinya sistem 20 kv tersebut kini sistem kelistrikan di Natuna lebih andal,” kata Direktur Bisnis Regional Sumatera (Dirregsum) PLN Wiluyo Kusdwiharto.

Pembangunan listrik desa di Kabupaten Natuna saat ini telah rampung 100 persen  sehingga dapat menerangi warga yang tinggal di 27 pulau. Dalam tiga tahun PLN berhasil alirkan listrik kepada 3.427 pelanggan di 40 desa yang terdiri dari 33 desa baru dan 7 desa lama. Dengan nilai investasi sebesar Rp28,2 miliar untuk membangun Jaringan Tegangan Menengah (JTM) dan Jaringan Tegangan Rendah (JTR) sepanjang 178, 5 Kms (kilo meter sirkit), juga Gardu Distribusi kapasitas 2.050 kVA.

“Untuk Natuna sendiri disuplai dari PLTD Ranai yang interkoneksi ke PLTD Pian Tengah dengan daya terpasang 20.2 MW dan daya mampu 17.1 MW, sementara beban puncak sebesar 11.8 MW sehingga pasokan listrik di Natuna surplus 5.2 MW,” jelasnya.

Bersama akademisi ITS Surabaya, PLN sedang mengembangkan Barge Mounted Power Plant yaitu pembangunan pembangkit listrik di atas kapal dengan spesifikasi  kapasitas sebesar 5 x 1 MW,  2 x 100 KW, 2 x 200 KW dan 1 x 500 KW dalam rangka mendukung sebagai penyedia pasokan listrik di kepulauan. Hal ini sangat diperlukan mengingat wilayah Kepulauan Riau yang terdiri dari ribuan pulau.

Program pengembangan kelistrikan di Kepulauan Natuna ini tidak saja mewujudkan Provinsi Kepulauan Riau terang benderang, tetapi juga mewujudkan komitmen PLN untuk terus menjaga teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Show More

Artikel Terkait

Back to top button
Close