KOLOM PAKARLENSA

HIROHITO

Senin, 6 Agustus 1945.
Pesawat angkut Amerika Serikat Enola Gay jenis B-29 yang dipiloti Paul Tibbets melayang-layang di angkasa Hiroshima, Jepang. Pagi itu langit sangat cerah. Matahari bersinar terang. Saat Paul Tibbets menjatuhkan bom atom uranium bernama Little Boy, 45 detik kemudian di bawah pesawat, ada seberkas sinar yang jauh lebih benderang dan menyilaukan dari matahari.
Kobaran api berasap bergulung-gulung mirip cendawan raksasa melumatkan semua yang berada di atas bumi kota Hirosima. Bangunan, manusia, hewan-hewan, dan pepohonan lumat terbakar rata dengan tanah.
Presiden Amerika Serikat Harry S. Truman meminta Jepang menyerah 16 jam kemudian, Truman memberi peringatan akan adanya “hujan bunga api dari udara yang belum pernah terjadi sebelumnya di muka bumi.” Tapi Jepang bergeming, diam saja, tidak merespon peringatan itu.
Kamis, 9 Agustus 1945.
AS kembali menjatuhkan bom plutonium bernama Fat Man di Nagasaki. Dalam kurun dua sampai empat bulan pertama setelah pengeboman terjadi, dampaknya menewaskan 90.000–146.000 orang di Hiroshima dan 39.000–80.000 di Nagasaki. Separuh korban di setiap kota tewas pada hari pertama.
15 Agustus 1945, enam hari setelah pengeboman Nagasaki, Jepang menyatakan menyerah kepada Sekutu. Tanggal 2 September 1945, Jepang menandatangani instrumen penyerahan diri yang otomatis mengakhiri Perang Dunia II.
Apa yang menarik dari kisah pemboman yang meluluhlantakan Jepang itu? Adalah fakta sejarah bangsa Jepang yang porak-poranda akibat dibom atom, tapi mereka bisa bangkit lagi dan menjadi negara maju dalam waktu yang relatif singkat.
Bagaimana itu bisa terjadi? Sepekan setelah bom atom dijatuhkan di Nagasaki, Kaisar Hirohito berpidato di hadapan para jenderal. Hanya satu pertanyaan Kaisar Hirohito waktu itu, yakni berapa guru yang masih hidup tersisa?
Kaisar tidak bertanya berapa banyak industri yang masih berdiri, berapa panjang jalan atau tentara yang masih ada. Kaisar bertanya soal jumlah guru yang masih ada tersisa. Artinya yang bisa membangkitkan Jepang kembali setelah kehancuran dan kekalahan di Perang Dunia II, adalah pendidikan, berupa pembangunan sumber daya manusia talenta unggul. Bukan jumlah tentara atau jumlah jalan, bangunan, jembatan yang berhasil dibangun kembali.
Hasilnya: Jepang boleh kalah pada Perang Dunia II, namun dalam waktu singkat Jepang menjadi “adidaya” bidang sains, teknologi, industri, dan budaya hingga awal abad 21. Kualititas SDM menjadi kunci keberhasilan Jepang menjadi negara maju dan mampu bersaing dengan negara lainnya di dunia.
Ahli sejarah asal Amerika Serikat, Joseph S. Nye dalam bukunya ‘Soft Power’ (1990), menulis bahwa pasca Perang Dunia II, berbagai negara berupaya mengubah posisi basis kekuatannya. Bukan lagi jumlah penduduk, wilayah, skala ekonomi, sumber alam, kekuatan militer dan stabilitas politik yang disebut Hard Power, tetapi terutama faktor nilai, kultur atau budaya, sains, teknologi dan pendidikan yang disebut Soft Power.
Nye menyebut Jepang sebagai model yang sukses dalam menerapkan konsep Soft Power.
Selain Nye, proklamator Moh Hatta juga melihat keunggulan strategi SDM Jepang. Dalam pidatonya berjudul Meninjau Masa Depan di Nihon Kogyo Club, Tokyo, Jepang, 21 Oktober 1957, Moh Hatta menyatakan kesan pertamanya begitu tiba menginjakan kakinya di Tokyo.
Menurut Bung Hatta pembangunan yang maha hebat telah menghasilkan lenyapnya segala bekas kehancuran, yang diakibatkan pemboman-pemboman yang maha dahsyat di masa perang.
Negara-negara di Asia, kata Bung Hatta, dapat belajar dari self-suffiency policy Jepang.
Ya, mari kita menuntut ilmu bukan hanya ke China. Tapi khusus untuk strategi pembangunan talenta unggul, kita juga harus belajar ke Jepang.
Ganbate.
Arigato gozaimasu!

Artikel Terkait

Back to top button