Jakarta, Bumntrack.co.id – Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bursa Efek Indonesia (BEI) diselenggarakan pada hari Rabu (28/10), diikuti oleh 88 pemegang saham secara offline di Jakarta menghasilkan tiga agenda utama, yakni: Pertama, Perubahan beberapa ketentuan anggaran dasar perseroan untuk mendorong demutualisasi bursa efek. Kedua, Penggunaan saldo laba ditahan perseroan dalam laporan keuangan auditan untuk periode yang berakhir hingga 30 Juni 2026. Ketiga, Persetujuan inisiatif pengembangan produk dan mekanisme pasar modal serta Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) BEI Tahun Buku 2027.
Poin pertama RUPSLB memunculkan pertanyaan tentang Danantara Indonesia. Selama beberapa bulan terakhir, para petinggi sovereign wealth fund itu mengutarakan keinginan untuk bergabung dalam bursa saham.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengisyaratkan bahwa Danantara maupun lembaga-lembaga yang berminat perlu mengurusi Initial Public Offering (IPO)
“Nanti kita diskusikan dulu, Kami belum dapat menyampaikan target waktunya,” ujar Jeffrey ketika ditanya soal tenggat IPO.
Keterlibatan Danantara dengan BEI mengundang pro-kontra, ditambah sehari setelahnya (29/10), media Bloomberg merilis berita tentang keterkaitan CIO Danantara Pandu Sjahrir dengan institusi yang telah disanksi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) karena kepemilikan saham PT Supra Sekuritas Indonesia.
Melalui akun instagram pribadi, Pandu menyebutkan bahwa dirinya berinvestasi di sejumlah perusahaan selama bertahun-tahun sehingga statusnya di kebanyakan perusahaan hanyalah pemegang saham minoritas dan pasif, termasuk Supra Sekuritas.
“Komitmen saya tetap sama: dukung terus transparansi, tata kelola, dan kepercayaan investor di pasar modal.” tulis Pandu,
Penulis: Jovan. A. R.
Editor: Ismed Eka








