Pendapatan Negara Turun -3,3 Persen, Setara 92 Persen Target APBN 2025

Sejumlah gedung perkantoran terlihat dari ketinggian, di Jakarta, Rabu (19/11/2025).Gedung perkantoran merupakan salah satu jenis properti yang banyak ditemukan di kota-kota besar, termasuk Jakarta. Kabarnya beberapa tahun terakhir kondisi pasar perkantoran di Jakarta tidak stabil jika dilihat dari jumlah proyek baru. Menurut data dari konsultan real estate global, CBRE, dalam dua tahun terakhir tidak ada proyek pembangunan perkantoran baru yang diresmikan diantaranya dibangun Two Sudirman dan Indonesia One yang ditargetnya akan rampung pada 2027-2028. Di luar itu, tidak ada proyek baru, bahkan pengembang cenderung mengerem untuk proyek tersebut.Foto/RoniMawardi/BUMNTRACK
E-Magazine Agustus - September 2025

Jakarta, Bumntrack.co.id – Kementerian Keuangan pada Kamis (8/1/25) memaparkan realisasi sementara APBN 2025 dan mempublikasikan APBN 2026 yang telah disahkan. Dilansir dari Stockbit, berikut analisanya.

Pendapatan Negara Turun -3,3% YoY, Setara 92% Target APBN 2025

Penurunan pendapatan negara utamanya disebabkan oleh lemahnya penerimaan pajak, yang merupakan kontributor utama pendapatan negara. Penerimaan pajak turun -0,7% YoY dan hanya mencapai 88% target APBN 2025. Dalam APBN 2026 sendiri, penerimaan negara ditargetkan naik +14,4% YoY.

Kementerian Keuangan menjelaskan bahwa penurunan penerimaan pajak secara neto ini disebabkan oleh kombinasi faktor moderasi harga komoditas, peningkatan restitusi akibat relaksasi dan percepatan pemeriksaan, serta kebijakan fiskal untuk menjaga daya beli dan keberlanjutan usaha masyarakat.

Belanja Negara Naik +2,7% YoY, Setara 95% Target APBN 2025

Pertumbuhan belanja negara didorong sepenuhnya oleh belanja pemerintah pusat yang naik +4,2% YoY, sementara transfer ke daerah turun -1,7% YoY. APBN 2026 mengindikasikan tren belanja yang sama, dengan belanja pemerintah pusat naik +21% YoY sementara transfer ke daerah turun -18,4% YoY.

Kementerian Keuangan menjelaskan bahwa kenaikan belanja negara pada 2025 didorong oleh realisasi sejumlah program pemerintah, seperti penyaluran program Makanan Bergizi Gratis yang telah menjangkau 56,1 juta penerima manfaat atau setara 68% target di level 82,9 juta. Realisasi anggaran program ini selama 2025 mencapai ~Rp52 T, setara ~73% pagu anggaran 2025 dalam presentasi Kementerian Keuangan di level Rp71 T.

Realisasi penerimaan dan belanja negara ini menghasilkan defisit APBN 2025 sebesar 2,92% terhadap PDB, mendekati batas maksimum yang diizinkan regulasi di level 3% terhadap PDB. Defisit APBN 2025 juga lebih tinggi dari target APBN 2025 di level 2,53% terhadap PDB dan outlook APBN 2025 di level 2,78% terhadap PDB, serta melebar dibandingkan defisit APBN 2024 di level 2,29% terhadap PDB. Adapun APBN 2026 menargetkan defisit anggaran sebesar 2,68% terhadap PDB.

Meski target defisit APBN 2026 lebih rendah dibandingkan realisasi sementara APBN 2025, hal tersebut membutuhkan kenaikan penerimaan negara yang cukup tinggi (+14%), terutama pada pos penerimaan pajak (+23%). Pelebaran defisit anggaran sendiri berpotensi memberikan sentimen negatif bagi nilai tukar rupiah. Pada Kamis (8/1), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah ke level 16.793 (-0,11%), menandai level terlemah sejak April 2025

Bagikan:

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.