BERITA

PLTA Rajamandala, Penstock Terbesar di Indonesia

Masuknya PLTA  Rajamandala memberikan tambahan pasokan listrik sebesar 47 MW sehingga total menjadi  6.256 MW. Secara nasional, total energi baru terbarukan untuk pembangkit listrik mencapai 9.761,5 MW atau 12 persen dari total pembangkit listrik nasional dari target nasional 23 persen.

Direktorat Jenderal (Dirjen) Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendukung usaha Indonesia Power (IP) untuk mengembangkan Energi Baru Terbarukan (EBT) dan menjadikannya sebagai pondasi pengembangan EBT di Indonesia. Indonesia Power saat ini memiliki 18 proyek yang dibangun di berbagai tempat di seluruh Indonesia.

Ada beberapa proyek Indonesia Power yang direncanakan memanfaatkan energi terbarukan seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Rajamandala, PLTA Bakaro 3 dan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung di waduk milik Indonesia Power.

“Kedepan, Indonesia bertumpu kepada pembangkit listrik berbasis EBT, terutama Indonesia Power. Oleh karena itu Indonesia Power kita jadikan pondasi dalam pencapaian taget EBT. Masih banyak potensi PLTA yang digarap di Sulawesi, Jawa dan Sumatera. Jika EBT ini terbangun maka bisa mengurangi permasalahan lingkungan,” kata Dirjen EBTKE Kementerian ESDM, Sutijastoto di Cianjur, Sabtu (17/8).

Kementerian ESDM akan terus mendorong EBT melalui sinergi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui PLTS Rooftop yang dikoordinasikan dengan LEN untuk gedung pemerintah, sosial, rumah ibadah hingga puskesmas. PT Len Industri sendiri merupakan perusahaan peralatan elektronik industri milik Pemerintah Indonesia yang berkantor pusat di Bandung, Jawa Barat. Dalam mendukung bauran EBT, Indonesia Power memiliki rencana mengembangkan PLTS terapung di Saguling. Secara total Indonesia Power menargetkan 300 mw PLTS per tahun.

Pasokan dari Rajamandala

Salah satu komitmen tersebut yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Rajamandala di Cianjur, Jawa Barat yang secara resmi COD pada 17 Agustus 2019. Dengan masuknya Rajamandala, maka total kapasitas PLTA yang beroperasi saat ini menjadi 6.256 MW.

“Khusus untuk PLTA, masuknya Rajamandala memberikan tambahan pasokan listrik sebesar 47 MW sehingga total menjadi  6.256 MW. PLTA merupakan energi terbarukan terbesar hingga kini. Secara nasional, total energi baru terbarukan untuk pembangkit listrik mencapai 9.761,5 MW atau 12 persen dari total pembangkit listrik nasional dari target nasional 23 persen,” jelasnya.

Untuk diketahui, Proyek PLTA Rajamandala merupakan kerja sama antara Anak Perusahaan PLN, Indonesia Power (IP) dengan Kansai Electric Power Corp Japan (KEPCO). Kedua perusahaan membentuk PT Rajamandala Electric Power sebagai operator. Pembangunannya dimulai sejak 2014, dan direncanakan selesai pada 2017. Namun, progres pembangunannya PLTA Rajamandala tidak berjalan mulus karena pada 2016, proyek ini sempat terhenti pembiayaannya terganggu kondisi alam yang membuat beberapa konstruksi retak dan rusak.

“Proyek ini dimulai pada 2014, direncanakan sudah beroperasi pada 2017. Namun di tengah jalan, pada 2016. PLTA mengalami kondisi geologi yang tidak stabil, ada keretakan di konstruksi karena enforcing geological conduction, akhirnya pembiayaan sempat berhenti,” kata Dirut PT Rajamandala Electric, Power Basuki Setiawandi PLTA Rajamandala.

Akhirnya, pihak operator melakukan mitigasi dan melakukan evaluasi mengenai teknis konstruksinya. Hingga akhirnya pada 2019, PLTA ini bisa selesai dan beroperasi.

“Dengan izin PLN berbagai teknologi kami terapkan terkait konstruksi sipil untuk atasi kondisi tanah labil. Kita bikin mitigasi dan action plan proyek ini, alhamdulillah bisa disesuaikan,” terangnya.

Akhirnya, pada pertengahan tahun 2019 PLTA Rajamandala ini memulai uji coba dan beroperasi. “Kita mulai beroperasi sejak bulan Mei 2019, dapat izin dari Kementerian dan PLN, akhirnya hari ini diresmikan secara komersial,” katanya.

Proyek PLTA Rajamandala merupakan proyek kerja sama Indonesia dengan pihak Jepang yang menelan investasi sebesar USD150 juta. Sistem operasi PLTA Rajamandala berkarakter load follower yang artinya pengoperasian PLTA Rajamandala tergantung dari Saguling. Air keluaran Saguling itu kemudian masuk ke terowongan sepanjang 174 meter. Namun tidak semua air Saguling diserap Rajamandala. Hanya dibutuhkan debit air sekitar 168 meter kubik/detik yang menghasilkan daya 47 MW.

“PLN dan Indonesia Power sangat welcome dan komit dengan penggunaan Renewable Energy dan pengembangan komunitas, maka kami yakin jika Indonesia Power akan menjadi leading dalam bidang Renewable Energy,” ujar M Ahsin Sidqi selaku Plt. Direktur Utama Indonesia Power.

PLTA Rajamandala merupakan program pembangunan pembangkit energi terbarukan sesuai dengan Rencana Usaha Penyedia Tenaga Listrik (RUPTL) PLN tahun 2019-2028. Listrik yang dihasikan PLTA Rajamandala akan memperkuat sistem interkoneksi kelistrikan Jawa – Bali melalui transmisi 150 kV (kilo Volt) sekaligus sebagai backup sistem kelistrikan khususnya di wilayah Kabupaten Bandung.

 “PLTA Rajamadala ini menggunakan Penstock terbesar di Indonesia dan Spiral Case berbahan beton pertama di Indonesia, selain itu juga merupakan PLTA dengan waterway sistem labirin pertama di Indonesia dengan diameter terowongan terbesar di Indonesia,” jelasnya.

Seperti diketahui, Potensi energi terbarukan di Indonesia mencapai 70.000 MW. Namun sampai sekarang energi bisa dimanfaatkan baru 9.000 MW. “PLTA Rajamandala memiliki imbas positip untuk menambah pasokan listrik di jaringan Jawa, Bali, dan Madura,” katanya.

Dukung Perubahan Iklim

Saat ini, PLN sedang mengerjakan 4.000 MW pembangkit listrik dengan energi terbarukan. Upaya ini untuk meningkatkan ketahanan energi nasional, akses energi untuk masyarakat, dan mengurangi emisi gas buang. Dengan beroperasinya PLTA Rajamandala menunjukkan komitmen Indonesia dalam mengimplementasikan Perjanjian Paris (Paris Agreement) untuk menurunkan emisi gas rumah kaca di atmosfer, khususnya CO2.

Untuk mencapai target dari Persetujuan Paris tersebut, setiap negara harus berkontribusi dalam penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang dituangkan dalam dokumen Kontribusi Secara Nasional (NDC). Selain itu, Indonesia telah meratifikasi Perjanjian Paris melalui Undang-Undang No.16 tahun 2016 tentang Pengesahan Persetujuan Paris atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim.

Sektor energi berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca pada 2030 sebesar 314 juta ton CO2 dengan upaya sendiri dan 398 juta ton CO2 dengan dukungan internasional. Dengan beroperasinya PLTA ini merupakan wujud nyata PLN bersama pemerintah turut menekan emisi gas CO2.

Show More

Artikel Terkait

Back to top button
Close