BERITA

RUPSLB, Tikungan Terakhir Jajaran Direksi BUMN Perbankan

Keputusan RUPS maupun RUPSLB diharapkan kian memperkuat pilar keberlanjutan bisnis perbankan plat merah dengan semangat world class nya.

Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) mejadi salah satu organ penting bagi perusahaan go public, termasuk BUMN, karena menentukan kebijaksanaan perusahaan secara umum salam satu ke depan. RUPS menunjuk dewan direksi yang diberi otoritas untuk mengelola perusahaan dengan melaksanakan kebijaksanaan yang telah ditentukan. Dalam melaksanakan tugasnya, dewan direksi diawasi oleh dewan komisaris yang bertindak untuk dan atas nama pemegang saham.

Selain RUPS, BUMN juga menggelar RUPS Luar Biasa (RUPSLB). Berbeda dengan RUPS yang digelar tahunan, RUPSLB dapat diadakan kapan saja ketika kepentingan perseroan membutuhkannya. RUPSLB juga dapat diadakan berdasarkan permintaan dari pemegang saham atau dewan komisaris.

Hingga awal September lalu, perbankan plat merah telah selesai menggelar RUPS pada masig-masing perusahaan. Rotasi direksi maupun komisaris menjadi salah satu angenda utama. Meski sempat terjadi penolakan pada salah satu hasil RUPS, namun keputusan final yang ditetapkan pada RUPS maupun RUPSLB diharapkan kian memperkuat pilar keberlanjutan bisnis perbankan plat merah dengan semangat world class nya.

RUPSLB Bank Mandiri Tunjuk Rionald Silaban Jadi Komisaris

RUPSLB Bank Mandiri menyepakati penunjukkan Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Keuangan Rionald Silaban sebagai Komisaris perseroan, menggantikan Askolani yang saat ini menjabat Dirjen Anggaran Kemenkeu. Keputusan ini berlaku aktif setelah lulus dalam uji kepatutan dan kelayakan (fit & proper test) Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Dengan demikian, susunan komisaris perseroan menjadi: Hartadi A Sarwono (Komisaris Utama/Komisaris Independen), Imam Apriyanto Putro (Wakil Komisaris Utama/Komisaris), Goei Siauw Hong (Komisaris Independen), Bangun Sarwito Kusmulyono (Komisaris Independen), Makmur Keliat (Komisaris Independen), Rionald Silaban (Komisaris), Ardan Adiperdana (Komisaris) dan R. Widyo Pramono (Komisaris).

Adapun susunan dewan direksi tidak mengalami perubahan, yaitu Kartika Wirjoatmodjo (Direktur Utama), Sulaiman Arif Arianto (Wakil Direktur Utama), Royke Tumilaar (Direktur Corporate Banking), Hery Gunardi (Direktur Bisnis dan Jaringan), Ahmad Siddik Badruddin (Direktur Manajemen Risiko), Rico Usthavia Frans (Direktur Teknologi Informasi dan Operasi), Darmawan Junaidi (Direktur Treasury dan International Banking), Alexandra Askandar (Direktur Hubungan Kelembagaan), Agus Dwi Handaya (Direktur Kepatuhan dan SDM), Panji Irawan (Direktur Keuangan dan Strategi), Donsuwan Simatupang (Direktur Retail Banking) dan Riduan (Direktur Commercial Banking).

“Penyesuaian pengurus ini diharapkan dapat memperkuat kinerja perseroan serta menjawab berbagai tantangan ke depan yang akan dihadapi Bank Mandiri,” kata Direktur Hubungan Kelembagaan Bank Mandiri Alexandra Askandar dalam press conference usai RUPS LB di Menara Mandiri, Jakarta, Rabu (28/8).

Dari sisi kinerja paruh pertama 2019, dari aspek pembiayaan penyaluran kredit Bank Mandiri pada akhir Juni 2019 naik 9,52 persen secara year on year menjadi Rp835,1 triliun. Capaian ini sangat berperan pada kemampuan bank membukukan laba bersih Rp13,5 triliun atau tumbuh 11,1 persen secara yoy pada akhir Juni lalu. Perseroan juga konsisten menjaga kualitas pembiayaan dengan menekan rasio kredit bermasalah menjadi 2,59 persen, turun 54 bps dari catatan akhir Juni 2018. Angka tersebut merupakan terendah sejak triwulan III-2015.

“Pengumpulan Dana Pihak Ketiga (bank only) secara rata-rata tumbuh 6,8 persen yoy, atau secara konsolidasi mencapai ending balance Rp843,2 triliun pada triwulan II-2019,” katanya.

Kinerja lain yang juga dilaporkan kepada pemegang saham adalah dukungan perseroan kepada program nasional percepatan penyediaan infrastruktur nasional, di mana Bank Mandiri telah memberikan kredit hingga Rp203,4 triliun per Juni 2019, atau tumbuh 22,6 persen secara yoy. Adapun tujuh sektor utama penerima pembiayaan Mandiri itu adalah transportasi (Rp39,6 triliun), tenaga listrik (Rp43,9 triliun), migas & energi terbarukan (Rp37,2 triliun), konstruksi (Rp17,2 triliun), Jalan tol (Rp17,1 triliun), telematika (Rp22,6 triliun), perumahan rakyat & fasilitas kota (Rp10,9 triliun), dan infrastruktur lainnya (Rp14,7 triliun). 

Sementara untuk pengembangan ekonomi kerakyatan, Bank Mandiri telah menyalurkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp10,54 triliun pada paruh pertama 2019, atau sekitar 42 persen dari target tahun ini dengan jumlah penerima sebanyak 138.090 debitur. Sekitar Rp5,4 triliun telah disalurkan kepada sektor produksi, yakni pertanian, perikanan, industri pengolahan dan jasa produksi.

Suprajarto Mundur dari RUPSLB, BTN Tunjuk Oni Febriarto Jalankan Tugas Dirut

RUPLSB yang digelar PT Bank Tabungan Negara (persero) Tbk menunjuk Suprajarto, mantan direktur utama BRI menjadi Direktur Utama BTN. Ditemui terpisah, Suprajarto mengungkapkan menolak hasil RUPSLB Bank BTN dan mundur dari posisi Dirut BTN. Menurutnya, keputusan tersebut tidak didahului dengan musyawarah.

Menindaklanjuti hasil RUPSLB, jajaran Direksi Bank BTN menggelar rapat untuk menunjuk Direktur yang akan menjalankan tugas-tugas sebagai Direktur Utama. Sesuai dengan Anggaran Dasar nomor 66 tanggal 23 Maret 2018 pasal 12 ayat 18, maka rapat direksi memutuskan Oni Febriarto Rahardjo yang saat ini menjabat sebagai Direktur Commercial Banking untuk menjalankan tugas sebagai Direktur Utama.

“Manajemen Bank BTN menghormati keputusan mengenai perubahan pengurus perseroan. Hal itu merupakan kewenangan penuh dari pemegang saham,” kata Corporate Secretary Bank BTN, Achmad Chaerul.

Perseroan juga memiliki Direktur Collection & Asset Management yang baru yaitu Elisabeth Novie. Novie telah lebih dari 26 tahun bersama BTN dan sebelumnya pernah menjabat Kepala Divisi Asset Management.

Berdasarkan kinerja BTN Semester I 2019 tercatat Asset tumbuh 16,58 persen menjadi Rp312,5 triliun, Kredit dan Pembiayaan tumbuh 18,78 persen menjadi Rp251,0 triliun, Dana Pihak Ketiga sebesar Rp219,8 Triliun atau tumbuh 15,89 persen. Bisnis perseroan tumbuh selama Semester I Tahun 2019  tercermin dari Pendapatan Bunga yang tumbuh sebesar 19,81 persen secara year on year dari Rp10,7 triliun  menjadi Rp12,8 triliun. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Perseroan masih berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp1,31 triliun. Kinerja BTN secara umum berada diatas rata-rata industri. BTN masih mendominasi 39,6 persen pangsa pasar pembiayaan perumahan nasional dan 92,4 persen pangsa pasar pembiayaan perumahan subsidi di Indonesia.

RUPSLB BRI Angkat Sunarso Menjadi Direktur Utama

RUPSLB Bank BRI yang digelar di Jakarta (2/9) menyetujui penunjukan Sunarso sebagai Direktur Utama, menggantikan Suprajarto. Selain itu, juga ditetapkan pengurus baru yaitu Catur Budi Harto, Herdy Rosady Harman, Agus Sudiarto, Agus Noorsanto dan Azizatun Azhimah sebagai Direksi Bank BRI serta Loeke Larasati Agoestina sebagai Komisaris Bank BRI. Pada saat yang sama, RUPSLB 2019 juga memberhentikan dengan hormat Sis Apik Wijayanto, Osbal Saragi Rumahorbo, R.Sophia Alizsa dan Mohammad Irfan sebagai Direksi Bank BRI.

“Selain menyetujui perubahan pengurus perseroan, RUPSLB mengungkapkan kinerja BRI semester I/2019 tumbuh positif. Dari sisi profitabilitas, laba bersih Bank BRI tercatat sebesar Rp16,16 triliun atau tumbuh 8,2 persen yoy. Pencapaian ini didukung oleh penerapan strategi bisnis bank yang konsisten, terlihat dari pertumbuhan kredit dan kualitas kredit yang baik, pertumbuhan alternative income seperti fee based income, recovery dan efisiensi biaya yang cukup terjaga, baik dari sisi biaya operasional maupun biaya pencadangan kredit,” kata Corporate Secretary Bank BRI, Hari Purnomo.

Salah satu aspek yang dikinikan dalam Rencana Aksi (Recovery Plan) adalah terkait dengan perubahan indikator/trigger level Permodalan (CAR). Perubahan trigger level Permodalan (CAR) Perseroan yaitu dari sebelumnya 13,125 persen s/d kurang dari 14 persen menjadi 14,75 persen s/d kurang dari 15,5 persen. Perubahan tersebut sejalan dengan perubahan Kewajiban Pemenuhan Modal Minimum (KPMM) Perseroan yang berlaku pada tahun 2019 sesuai dengan POJK Nomor 11/POJK.03/2016 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum.

Ario Bimo, Direktur Keuangan Bank BNI Era Generasi Milenial

RUPSLB Bank Negara Indonesia (persero) Tbk yang dihelat Jumat (30/8) menunjuk Ario Bimo sebagai Direktur Keuangan menggantikan Anggoro Eko Cahyono. Selain itu, RUPSLB juga menyampaikan Evaluasi dan Pemaparan kinerja perseroan sampai dengan Semester 1/2019.

Perseroan mencatat kinerja semester I/2019 didukung pertumbuhan kredit 20 persen year on year (YOY) yaitu dari Rp457,81 triliun pada Semester I 2018 menjadi Rp549,23 triliun pada Semester I 2019. “Realisasi kredit tersebut menunjukkan fungsi intermediasi yang dijalankan BNI berjalan secara optimal dan seiring dengan upaya pemerintah yang terus mendorong momentum pertumbuhan ekonomi, di tengah kondisi ketidakpastian pasar keuangan global,” kata direktur keuangan BNI, Ario Bimo di Jakarta, Jumat (30/8).

Agenda Kedua RUPSLB, lanjutnya, memutuskan untuk merubah susunan Pengurus Perseroan. RUPSLB Memberhentikan dengan hormat, Marwanto Harjowiryono dari jabatan Komisaris Perseroan dan Catur Budi Harto dari jabatan Direktur Bisnis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dan Jaringan, BNI mengucapkan penghargaan serta terimakasih atas pengabdiannya selama menjabat di BNI. RUPS juga mengangkat Askolani sebagai Komisaris Perseroan serta mengangkat Ario Bimo sebagai Direktur Keuangan.

“Tambok P Setyawati yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Bisnis Konsumer BNI kini menjabat sebagai Direktur Bisnis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dan Jadngan. Anggoro Eko Cahyo yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Keuangan BNI kini menjabat sebagai Direktur Bisnis Konsumer BNI,” terangnya.

Kemudian Bob Tyasika Ananta yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Manajemen Risiko BNI kini menjabat sebagai Direktur Tresuri dan Internasional BNI. Sedangkan Rico Budidarmo yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Tresuri dan internasional BNI kini menjabat sebagai Direktur Manajemen Risiko BNI.

Show More

Artikel Terkait

Back to top button
Close