BERITA

Dorong UMKM Naik Kelas, BRI Kedepankan Metode Inkubasi dan Pembentukan Ekosistem

Jakarta, Bumntrack.co.id – Metode inkubasi dan pembentukan ekosistem yang mendukung harus dikedepankan demi mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia dapat naik kelas. Konsep pembinaan seperti itu sudah dimiliki oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dengan nama BRIncubator. BRIncubator dijalankan dengan tujuan menyiapkan pelaku UMKM agar lebih berdaya saing dan mampu masuk ke pasar global. BRIncubator merupakan satu dari sekian banyak inisiatif BRI untuk membantu dan menumbuhkembangkan UMKM.

“Kami ingin siapkan UMKM agar lebih layak dan berdaya sehingga memiliki bargaining position lebih baik. Kegiatan ini membantu UMKM, melatih UMKM, supaya memiliki kapasitas lebih baik dan akses pasar kepada mereka,” kata Wakil Direktur Utama BRI, Catur Budi Harto dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (29/10).

Selain melalui BRIncubator, perseroan juga membantu pelaku usaha kecil agar bisa tumbuh dan bertahan selama pandemi dengan berbagai program pembiayaan serta relaksasi. Sebagai buktinya, hingga kini BRI sudah merestrukturisasi pinjaman 2,95 juta debitur senilai Rp195 triliun, dan 90 persennya diberikan kepada pelaku UMKM.

BRI juga sudah me-leverage penempatan dana Rp15 triliun dari pemerintah menjadi Rp45 triliun. Selain itu, BRI terlibat dalam penyaluran Bantuan Presiden (Banpres) Produktif untuk jutaan pelaku usaha kecil. Hingga awal Oktober, BRI sudah menyalurkan Banpres Produktif bagi 2,3 juta pelaku usaha mikro dengan nilai Rp5,53 triliun lebih.

“Kami juga didukung 448 ribu AgenBRILink di seluruh Indonesia dan ini bisa jadi akses UMKM untuk dapat permodalan lewat referral agen-agen ini. Kemudian, rencananya kami rutin di Desember ada program UMKM Export,” ujarnya.

Program BRIncubator dinilai Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki sebagai contoh baik untuk membantu pengusaha kecil. Menurut Teten, inkubasi harus dilakukan agar semakin banyak pelaku usaha mikro dan kecil yang bisa naik kelas.

“Saat ini UMKM yang lebih bisa menyediakan kebutuhan lapangan kerja. Karena itu bagaimana kita harus fokus mendorong pertumbuhan (usaha) yang kecil dan menengah, yang jumlahnya sekitar 800 ribu, supaya struktur lebih membesar di tengah, dengan begitu penyerapan tenaga kerja lebih besar,” ujar Teten.

Proses inkubasi juga dibutuhkan untuk mendorong lahirnya pengusaha-pengusaha baru di Indonesia. Kehadiran wirausahawan baru menjadi penting karena saat ini jumlah pengusaha di Indonesia masih tertinggal dibanding negara-negara tetangga. Saat ini rasio wirausaha dibanding jumlah warga Indonesia baru sebesar 3 persen. Padahal, untuk masuk kategori maju, persentase wirausaha di sebuah negara harus mencapai minimal 4 persen. Karena itu, saat ini pemerintah sudah mulai mengintensifkan dukungan agar semakin banyak wirausaha baru yang muncul di seluruh pelosok negeri.

“Anak-anak muda tidak boleh kesulitan mengembangkan idenya untuk masuk ke tahap industri dan komersialisasi. Kita perlu seperti itu, karena berhubungan dengan ekspor ini banyak persyaratan yang tidak mungkin dipenuhi usaha mikro, maka saya kira kemitraan harus dilakukan. Kita harus bisa membawa ke global produk-produk yang unggul secara domestik,” paparnya.

Show More

Artikel Terkait

Back to top button