BERITA

Ini Inovasi Perum PFN Bangkit dari Keterpurukan

Jakarta, Bumntrack.co.id – Memasuki 75 tahun perjalanan sejarahnya, keberadaan Perusahaan Umum Produksi Film Negara (PFN) di tengah kota bakal menghadirkan nuansa yang baru. Perum PFN akan membuka kompleks perkantoran kepada publik di luar kalangan perfilman. Hal tersebut bukan saja merupakan suatu kebijakan bisnis semata, tetapi menimbulkan kesadaran akan pentingnya peran negara dalam pengadaan film yang bermutu dan bernilai pendidikan serta berpijak pada kebudayaan nasional.

“Berbagai upaya dilakukan PFN untuk melanjutkan harapan rakyat, agar PFN memproduksi film yang berkualitas, dapat dijangkau oleh rakyat. Apalagi lokasi perum PFN berada di tengah kota, di wilayah Otista yang luar biasa,” kata Direktur Utama PFN, Judith Dipodiputro di Jakarta, Jumat (21/2).

Salah satu inisiatif yang dilakukan PFN adalah mengijinkan pagelaran the last IDEAL PARADISE oleh seniman ternama Claudia Bosse di beberapa studio dan area kompleks PFN. Hal ini membuktikan komitmen Perum PFN dalam perannya membangun manusia Indonesia seutuhnya, dalam hal seni dan budaya. The last IDEAL PARADISE adalah sebuah instalasi dan karya spesifik-lokasi yang diselenggarakan Goethe-Institut Indonesien.

“Film adalah suatu bentuk kesenian, dan kesenian merupakan bagian dari budaya. Manusia yang utuh, idealnya mempunyai keterminatan pada budaya secara utuh pula. Tidak saja mengapresiasi film, tetapi juga melengkapi diri dengan keterminatan pada bentuk seni lainnya, khususnya yang berinteraksi langsung antar-manusia, semisal teater dan pertunjukan hidup lainnya,” tambahnya.

Pihaknya berharap kerjasama dengan Goethe-lnstitut Indonesien akan menumbuhkan banyak seniman dan budayawan yang menyadari bahwa Studio produksi film juga bisa bertransformasi menjadi panggung pertunjukkan yang baik, terutama dalam kelangkaan gedung-gedung pertunjukan di Indonesia.

Untuk membangun ekonomi masyarakat, Studio PFN juga memfasilitasi inkubator startup. Pasalnya keterbatasan jumlah layar di seluruh Indonesia, dengan harga tiket menonton film yang relatif tidak terjangkau oleh sebagian besar masyarakat, mendorong Perum PFN mencari solusi yang sekaligus bisa menjadi peluang bagi kaum millennial.

Perum PFN telah mengubah Studio 3 menjadi inkubator start-ups bidang film, sebagai tempat belajar sekaligus praktek mengelola Bioskop Rakyat. Saat ini di Indonesia baru ada 2000-an layar, sementara kebutuhan keseluruhannya hampir 10.000 layar di 521 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Minat nonton film Indonesia setiap tahunnya terus meningkat. Ini waktunya bagi anak muda Indonesia untuk dapat berkreaasi dan berkarya dalam dunia industri perfilman.

“Belajar dari sukses pelaksanaan percobaan Bioskop Rakyat di Gedung Jasindo. Kota Tua yang dibuka selama berlangsungnya Festival Perempuan dalam Film, Seni dan Budaya pada Desember 2019 lalu, kami melihat bahwa konsep Bioskop Rakyat bisa dilanjutkan di tempat lain. Salah satunya adalah di studio PFN. Fasilitas yang ada di PFN memungkinkan bioskop rakyat ini berkesinambungan. Kami berharap program ini bisa menjadi inkubator lahirnya Bioskop Rakyat di tempat lain, yang dikelola oleh para pecinta film atau komunitas film,” kata Direktur Komersial dan Pemasaran PFN, Elprisdat.

Inisiatif mendekatkan Kompleks Studio dan Kantor Pusat Perum PFN kepada masyarakat, juga terkait dengan rencana ketjasama antara PT WIKA Realty dengan Perum PFN di atas lahan seluas 2 hektar milik PFN. Rencananya akan dibangun sebuah kompleks dengan 4 Studio Produksi Film dan Creative Hub yang ditargetkan selesai pada 2023.

“Semenjak menjadi BUMN, PFN pada awalnya belum pernah untung. Karena pola pikirnya masih dimiliki pemerintah, bukan perusahaan BUMN. Sehingga berpikir ada uang terus dari pemerintah. Maka pandangan saya, kalau PFN ingin maju, tidak hanya berfikir pada produksi saja, tetapi juga di middle seperti distribusi,” jelasnya.

Tags
Show More

Artikel Terkait

Back to top button
Close