BERITA

BUMN Farmasi Tancap Gas Memberantas Corona

Diresmikan 31 Januari 2020, BUMN farmasi langsung  tancap gas mendukung pemberatasan Covid-19 yang sudah menjadi masalah dunia.  PT Bio Farma (Persero), induk Holding  BUMN Farmasi bersinergi dengan dengan Sinovac, perusahaan China untuk mengembangkan vaksin  Covid-19  demi memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Koordinasi Bio Farma dengan Sinovac,  lembaga dari negeri Jet Li  tersebut diungkapkan Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI secara virtual, (21/4/2020). Honesty memaparkan, saat ini China sudah memiliki vaksin yang sedang tahap uji klinis tahap kedua. Bila uji klinis tersebut sukses, Bio Farma dapat melakukan produksi secara massal, terutama  untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri.

Bio Farma ternyata tidak hanya menggandeng Sinovic, tapi juga berkolaborasi dengan The Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI). BUMN tersebut sudah mengirimkan proposal ke CEPI agar bisa diikutsertakan  dalam uji klinis vaksin Covid -19.

Dalam situasi  di mana Covid-19 terus menjalar  dan memakan korban, BUMN Faramsi menjadi salah satu garda  terdepan. Bahkan atas inisiatif Kemenristek/BRIN telah dibentuk  konsorsium vaksin Covid-19 yang diketuai oleh Lembaga Eijkman dan beranggotakan Bio Farma, Balitbangkes, dan perguruan tinggi.

Dukungan terhadap kerja kedas  BUMN Farmasi  salah satunya datang dari Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mendatangkan bahan baku obat dari luar negeri untuk membantu penanganan Covid-19 di Indonesia. Bahan baku tersebut akan diproduksi oleh holding BUMN farmasi.

Dikatakan Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga, bahan baku obat itu digunakan untuk memproduksi oseltamivir dan chloroquine (klorokuin).

Oseltamivir merupakan obat antiviral yang digunakan dalam penanganan influenza A dan B. Obat ini juga banyak digunakan untuk menangani wabah flu burung.  Sedangkan klorokuin merupakan obat untuk mencegah dan mengobati malaria. Obat ini belakangan juga digunakan untuk menangani pasien Covid-19. Bahan baku obat tersebut  didatangkan dari India menggunakan pesawat milik PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. “Kami sudah beli bahan obat oseltamivir sudah ambil bahan bakunya dari India, itu obat corona juga, jumlahnya 500 ribu tablet,” kata Arya melalui video conference  pertengahan April lalu.

Ia melanjutkan, bahan baku obat tersebut akan diproduksi PT Bio Farma dan hasil produksinya akan didistribusikan ke sejumlah jaringan RS, khususnya jaringan RS milik BUMN. Kementerian BUMN juga sudah mengimpor bahan baku untuk memproduksi 1 juta tablet klorokuin. Diyakini, kedua obat ini dapat digunakan untuk membantu memulihkan pasien Covid-19. BUMN  bidang farmasi memproduksi klorokuin yang akan digunakan untuk pengobatan pasien positif covid-19.

Presiden Joko Widodo pun sempat menyebut, sudah ada 3 juta klorokuin yang tersedia untuk dikonsumsi oleh pasien Covid-19. Kendati demikian, Jokowi tetap meminta BUMN yang bergerak di bidang farmasi untuk terus menggenjot produksi obat ini.

Memproduksi APD

Selain obat-obatan, permasalahan lain adalah  kelangkaan Alat Pelindung Diri (APD) untuk tenaga medis dalam menanggulangi Covid-19. Seperti diketahui, Indonesia tengah berebutan APD engan 180 negara lainnya guna mendukung tenaga medis yang berjuang melawan Covid-19. “Saya sudah minta kepada BUMN farmasi yang memproduksi ini untuk memperbanyak produksinya,” ujar Presiden Jokowi saat meresmikan Rumah Sakit (RS) Darurat Covid-19 di eks Wisma Atlet Kemayoran.

Kondisi tersebut membuat PT Indofarma Tbk pun ikut memproduksi  APD yang kian sulit di pasaran. Kalau pun ada, harganya cukup tinggi. Padahal kebutuhan APD untuk tenaga medis terdiri dari masker N95 dan masker bedah disposable, coverall jumpsuit atau yang kerap disebut baju hazmat, goggles, sarung tangan disposable dan steril, shoe cover dan face shield

Diungkapkan Direktur Utama PT Indofarma Tbk. Arief Pramuhanto, secara umum di Indonesia sudah mampu melakukan produksi selurh APD tersebut. Hanya saja seiring terus bertambah banyaknya kasus Covid-19 membuat permintaan APD meningkat. Sementara pasokan bahan baku sempat terhambat. Untuk itu, BUMN farmasi berkode bursa INAF kini turut memproduksi APD guna memenuhi kebutuhan yang naik drastis, lima hingga enam kali lipat. Selama ini, Indofarma hanya fokus memproduksi alat kesehatan (alkes) pada  empat komponen yakni furnitur RS, diagnosa, disposable dan elektromedis, 

Selama ini, bahan baku untuk memproduksi APD kebanyakan berasal dari China. Lantaran kebutuhan atau  permintaan terus melonjak sementar produksi tidak mudah ditingkatkan. Indo Farma pun telah memesan dua mesin pembuatan masker bedah disposable yang diharapkan dapat memproduksi hingga 1,5 juta item per bulan. Namun mesin tersebut baru bisa didatangkan pada April ini.

Arief mengapresiasi bantuan produksi APD dari berbagai industri manufaktur lain untuk sementara ini memang akan cukup membantu. Namun, dia memastikan standar dari setiap produk harus benar-benar diperhatikan agar tetap sesuai dengan kebutuhan para tenaga medis.

Selain alkes dan APD,  produksi obat penyembuhan Covid-19 untuk didorong.

Indofarma pun telah kembali memproduksi obat Sars yang terbukti ampuh untuk 9 dari 20 pasien di RS Persahabatan yang telah dinyatakan sembuh. Indofarma akan memproduksi sekitar 275.000 butir dalam empat tahapan ke depan. Seiring dengan hal itu, pasokan rappid test pun terus dilakukan.

Upaya lain, Menteri BUMN Erick Thohir telah berkoordinasi dengan perusahaan rumah sakit dan laboratorium swasta untuk memetakan fasilitas kesehatan yang dapat dimaksimalkan guna menangani penyebaran Covid-19.  Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi jumlah lonjakan pasien dengan menambah kapasitas RS Darurat Corona eks Wisma Atlet.

Sedikitnya akan ada penambahan 2.600 tempat tidur dalam waktu dekat. Tower 7  pada RS tersebut  siap menampung 1.300 pasien, sedangkan Tower 6  dipersiapkan untuk menampung 1.300 pasien yang di dalamnya disediakan  100 tempat tidur, difasilitasi 20 ventilator. Pemerintah juga tengah mempersiapkan penambahan kapasitas dengan menggunakan Tower 5 Wisma Atlet jika nanti dibutuhkan.

Jaringan RS milik BUMN juga akan menambah kapasitas untuk pasien virus corona. RS Pertamina Jaya, contohnya, segera menambah sekitar 400 tempat tidur untuk ruangan intensive care unit (ICU). RS Pertamina Jaya merupakan salah satu dari 35 RS BUMN yang siap menjadi RS rujukan pasien virus corona. Setidaknya ada 65 kamar khusus pasien Corona di RS Pertamina Jaya, kemudian untuk ICU modular dilengkapi 90 kamar.

Secara keseluruhan, Pertamina menggelontorkan dana Rp 109 miliar untuk menguatkan rumah sakitnya menghadapi Corona. RS Pertamina Jaya juga sudah dilengkapi alat test PCR dari Swiss yang mampu melakukan tes sebanyak 1.300 sampel per hari.

Show More

Artikel Terkait

Back to top button
Close