KOLOM PAKAR

Mengelola BUMN di Tengah Krisis Covid-19

Oleh: Final Prajnanta

CEO Royal Agro Indonesia

Sejak awal Januari 2020 hingga saat ini, seluruh dunia berperang melawan satu musuh secara bersamaan. Laksana perang dunia vs Alien, Covid-19 lah aktor tunggal yang merupakan “Alien” yang menakutkan karena penyebarannya yang sangat cepat sekaligus matikan dan menjadikan krisis multi dimensional.  Dalam waktu singkat, Covid-19 sudah melumpuhkan sendi-sendi perekonomian negara baik sektor swasta maupun BUMN. Tak ayal pemerintah harus merevisi pertumbuhan ekonominya dari angka optimis 5.3 persen tahun 2020 ini menjadi sekitar 2,3 persen.

Covid-19 yang berawal sebagai krisis di dunia kesehatan telah merambah dengan cepat ke berbagai sektor hingga mengharuskan terjadinya lockdown di berbagai negara dunia tanpa kecuali Indonesia yang menurut istilah saya menerapkan “Soft Lockdown” atau istilah resmi pemerintah adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan tujuan menekan penyebaran Covid-19.  Dampak dari kebijakan PSBB ini adalah sekolah diliburkan, karyawan bekerja dari rumah, sektor pariwisata – hiburan ditutup walaupun masih ada pengecualian industri yang tetap beroperasi seperti kesehatan, pangan, energi, komunikasi & media, keuangan & perbankan, logistik & distribusi barang, retail bagi masyarakat, serta industri strategis.

Angka pengangguran hingga saat ini meningkat pesat di seluruh dunia. Berdasarkan laporan terbaru International Labour Organization (ILO), 4 dari 5 orang pekerja terkena dampak kebijakan penutupan tempat kerja secara penuh atau sebagian , diperkirakan mencapai 3,3 miliar pekerja di seluruh dunia!Data terbaru Kemnaker per 21 April 2020 lalu, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan dirumahkan mencapai 2,2 juta orang.

Kabar buruknya lagi bahwa tidak ada orang yang tahu kapan pandemik Covid-19 ini akan berakhir!  Jikapun akhir Juni sudah berakhir namun dampaknya masih akan terasa hingga akhir tahun 2020.

Imbas Covid-19 merupakan krisis terbesar sejak Perang Dunia II. Bagi dunia usaha, krisis menjadi suatu hal yang tidak bisa terelakkan bagi sebuah  perjalanan suatu perusahaan swasta maupun pelat merah atau BUMN. Menteri BUMN Erick Tohir mempunyai tugas yang menjadi lebih berat. Upayanya meningkatkan kinerja BUMN sehingga BUMN dapat berperan lebih besar lagi dalam meningkatkan pendapatan negara, menyediakan sarana dan prasarana yang diperlukan bagi kehidupan ekonomi yang lebih baik serta mampu menciptakan lapangan kerja yang lebih luas, menjadi terganjal karena Covid-19.  Meski begitu, kita semua harus optimis Indonesia bisa melewati krisis ini.

Berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan BUMN:

Redefine the Strategy

Banyak BUMN yang mempunyai beberapa lini bisnis. Dengan memperhatikan neraca  Profit& Loss, kita bisa tahu lini bisnis mana yang menguntungkan. Agar tak terjadi badai PHK, hal yang bisa dilakukan adalah menghentikan lini bisnis yang merugi dan mengalihkan SDM ke lini bisnis yang menguntungkan. Melalui refocusing bisnis, BUMN fokus ke short term untuk penyelamatan perusahaan dan paling jauh medium term.

Rescheduling the Debt

Lakukan negosiasi pembayaran hutang untuk membantu cash flow perusahaan. Jika ada sebagian hutang dari luar negeri, lakukan negosiasi untuk hedging sampai akhir tahun. Dengan kurs dollar yang lebih menguntungkan akan sangat membantu BUMN dalam meretrukturisasi hutang.

Cost Efficiency

Penghematan anggaran di semua lini menjadi hal prioritas yang harus dilakukan. Misalnya :

  1. Menerapkan Just in Time untuk pengelolaan inventory.

Perencanaan yang tepat akan membantu pengelolaan inventory sehingga material akan datang pada saat diperlukan tanpa harus disimpan terlalu lama di gudang.

2. Cost leadership

Selain penerapan Just in Time, mengutamakan penggunaan bahan baku produk dalam negeri merupakan penghematan besar karena di tengah krisis maka depresiasi rupiah terhadap dollar bisa ditekan.

3. Stop biaya perjalanan dan pengeluaran yang tidak perlu

4. Kurangi biaya promosi dan pelatihan.

Dana CSR BUMN tahun ini akan difokuskan untuk membantu pengadaan alat-alat kesehatan baik untuk rumah sakit maupun masyarakat. Inilah wujud kepedulian BUMN kepada masyarakat sekaligus menghemat biaya promosi tahun 2020.

5. Kurangi dividen

Penghematan dividen bisa digunakan untuk berinvestasi membukukkan kinerja positif di 2020 sekaligus mengurangi utang yang tidak perlu. Apalagi, harga emiten saham saat ini merosot hingga 45 persen hanya dalam waktu tiga bulan.

First Things First

Kita harus menentukan prioritas utama di tengah krisis yang belum jelas kapan akan berakhir. Dua hal utama yang sudah kita bahas yaitu Redefine the Strategy, Rescheduling the Debtdan Cost Efficiency merupakan hal prioritas yang harus dikerjakan saat ini. Pembelian mesin-mesin baru yang tidak berhubungan langsung dengan lini usaha yang menguntungkan tahun ini misalnya sebaiknya ditunda. Rencana promosi besar-besaran suatu produk yang harusnya dilakukan di kuartal II 2020 sebaiknya ditunda. Tetapi pencarian bahan baku lokal menjadi hal yang patut diprioritaskan.

Transparent Communication

Komunikasi yang transparan dengan stakeholders akan membantu BUMN dalam hal manajemen krisis. Pentingnya perusahaan BUMN mempunyai Public Relation (PR) yang baik dalam berkomunikasi dengan publik akan membentuk persepsi publik yang positif terhadap perusahaan. PR yang baik harus berani menghadapi media untuk menjawab isu yang sedang beredar di masyarakat secara simpatik dengan fakta-fakta yang terjadi di perusahaan.

Innovation

Ada pepatah China yang berbunyi “Wei Ji”. Wei berarti krisis dan Ji berarti peluang. Artinya di dalam setiap krisis pun selalu ada peluang. Ketika Covid-19 menyebabkan nilai tukar rupiah hancur sementara penyediaan APD dan ventilator menjadi problem besar seluruh dunia, termasuk Indonesia, maka beberapa perusahaan baik swasta maupun BUMN menangkap peluang ini.  PT Sri Rejeki Isman Tbk. atau Sritex  mengalami peningkatan produksi akibat dari besarnya permintaan masker non medis dari masyarakat, padahal perusahaan ini biasanya memproduksi bahan baju militer untuk dalam negeri dan ekspor.

PT Pindad (Persero) yang selama ini dikenal sebagai BUMN produsen senjata dan alat tempur, di tengah wabah virus corona (Covid-19) memproduksi hand sanitizer, APD bagi tenaga medis hingga alat bantu pernafasan jenis pumping machine ventilator. Selain Pindad,  PT Dirgantara Indonesia juga memproduksi ventilator khususnya ventilator portabel hasil kerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Demikian pula dengan BUMN-BUMN lainnya inovasi adalah hal mutlak walau di tengah krisis sekalipun.

Saya berharap, mayoritas perusahaan BUMN harus mampu melewati masa-masa sulit ini dengan bekerjasama, baik melalui sinergi BUMN maupun dengan pihak swasta. Krisis yang diakibatkan Covid-19 menyadarkan kita akan pentingnya persatuan dan sinergitas untuk menyelamtkan perekonomian Indonesia.

Show More

Artikel Terkait

Back to top button
Close