LENSA

KRISIS KOMUNIKASI COVID-19

Oleh: Akhmad Kusaeni

Sebelum Presiden Jokowi mengumumkan ada dua kasus positif Corona Virus di Indonesia pada 2 Maret 2020, kebingungan terjadi di kalangan warga. Pejabat yang berwenang keukeuh mengatakan sejauh ini belum diketemukan adanya kasus Covid-19. 

Upaya-upaya pencegahan seperti karantina bagi WNI yang baru datang dari Wuhan, Cina, dilakukan di Natuna. Begitu juga 188 ABK kapal pesiar yang diduga terkena Covid-19 diamankan di Pulau Siberut Kecil milik pengusaha nasional Tommy Winata. Tapi tidak ada yang positif terkena virus berbahaya itu.

Ini agak aneh karena dunia mempertanyakan mengapa sampai saat sebelum 2 Maret 2020 tersebut tidak ada kasus Covid-19 di Indonesia?

Padahal, sebuah study yang diumumkan pada 11 Februari 2020, para ahli dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, menduga paling tidak, ada lima kasus yang terpapar Corona Virus di Indonesia. Dugaan itu menggunakan metode ilmiah yang tidak sembarangan.

Para ahli itu memakai hitung-hitungan matematika berdasarkan volume perjalanan udara antara Indonesia dan kota Wuhan, sebagai sumber asal Covid-19 yang telah menewaskan 1.800 orang dan infeksi bagi lebih 72.000 orang di seluruh dunia.

The Jakarta Post melaporkan sekitar 98.700 orang dari Wuhan mengunjungi Indonesia antara Desember 2018 sampai November 2019. Statistik itu menunjukkan betapa rawan Indonesia bagi penyebaran Corona Virus. Namun, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menuding study Universitas Harvard itu “insulting” dan membantah kalau di Jakarta tidak ada satu kasus pun Corona Virus.

Penegasan pejabat paling berwenang tentang kesehatan itu setidaknya membuat warga, seperti keluarga saya, sedikit tenang. Sambil harap-harap cemas, kami juga meyakini pernyataan seorang jurubicara pemerintah bahwa virus Corona tidak berkembang kuat di negara-negara tropis. Udara yang panas membuat virus Covid-19 tidak bisa bertahan di Indonesia.

OK. Kami percaya dengan penjelasan pejabat negara.  Jadi kami tidak mempersiapkan apa-apa. Tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan serangan wabah virus Corona. Meskipun, sebetulnya,  kami curiga juga kenapa WHO dan diplomat-diplomat asing mendesak agar Jakarta mengambil tindakan waspada yang lebih kuat lagi.

Keyakinan bahwa Jakarta aman-aman saja menjadi terguncang ketika Arab Saudi menutup jemaah umroh dari Indonesia. Pada titik ini, isteri saya mulai panik.  Atas desakannya, kami membeli masker di Pasar Pramuka pada 29 Februari 2020. Harganya sudah melejit menjadi Rp200.000 satu box (isi 50 masker). Harga normal biasanya cuma Rp50.000 satu box. Harga itu terus naik pada hari-hari berikutnya.

Saya mengintruksikan dua anak saya yang tinggal di kota lain agar menggunakan masker di tempat umum, menghindari mall dan tempat-tempat publik yang banyak berkumpul massa. Satu anak lagi yang sedang S-2 di Eropa, saya minta tidak bepergian naik pesawat dulu.

Rasa was-was memuncak ketika Presiden Jokowi mengumumkan dua warga Depok positif Corona.  Sorenya, supermarket dijejali warga yang membeli sembako. Sejumlah apotek kehabisan masker dan cairan pembersih sanitizer. Dilanda panic buying, saya dan isteri ke supermarket. Kami rela antrian panjang di kasir tidak seperti biasanya.

Sebagai pengajar mata kuliah Crisis Communication, saya melihat sejumlah pakem penanganan krisis komunikasi tidak berjalan. Misalnya, jangan berspekulasi, berbohong, tapi tell the truth and nothing but the truth. 

Mungkin saja pejabat membantah fakta untuk menghindari kepanikan publik atau menunda konfirmasi kebenaran agar tidak menjadi bulan-bulanan. Tapi sekali terbukti tidak jujur dan berbohong, publik tidak akan percaya lagi apa yang kemudian disampaikan. Ketika pejabat mengimbau jangan memborong masker, masyarakat memborong masker karena berfikir kebalikan. Ketika pejabat bilang tak perlu menimbun sembako, masyarakat membeli sembako karena mereka trauma lockdown kota Wuhan yang bagaikan kota Zombie.

Pakem lain dalam komunikasi saat krisis adalah sangat penting untuk segera membentuk tim krisis dan menunjuk siapa jurubicaranya. Tim krisis ini bekerja nonstop 24/7 memberikan informasi secara terus menerus karena media (juga publik) akan menciptakan rumor, hoax, dan informasi menyesatkan jika tidak ada informasi update yang diberikan oleh pejabat berwenang. Apalagi di era media sosial di mana setiap orang bisa memposting apa saja sesuka hati: Publish it and be damned

Saat krisis terjadi, sangat penting menunjukkan komitmen dan simpati kepada korban. Masyarakat akan memaafkan kekurangan penanganan musibah apabila pemerintah menunjukkan penghormatan kepada korban. Bukan sebaliknya, mengungkap identitas, kehidupan pribadi dan tempat tinggal, atau menyebarkan foto-foto korban di grup WA dan media sosial lainnya.

Media juga bikin panik. Ketika wabah terjadi, wartawan memiliki banyak berita untuk disampaikan dan caranya media memberitakan berdampak luas. Wartawan sebuah televisi yang melaporkan berita di Depok, misalnya, memiliki cara memberitakan yang berlebihan. Di depan kamera, reporter itu memakai masker bukan sembarang masker biasa, tapi masker yang biasa dipakai dalam situasi radiasi nuklir atau perang senjata biologi. Keruan saja menambah panik masyarakat.  

Show More

Artikel Terkait

Back to top button
Close