BERITA

Pola Bisnis Jasindo Bergeser ke Customer Oriented

Transformasi di bidang IT yang terjadi di berbagai lini bisnis, termasuk di industri asuransi, tak dapat dihindari. Jasindo, sebagai salah satu market leader bisnis asuransi milik pemerintah mulai melakukan transformasi dan merambah digital.

PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero) atau Jasindo memperluas pangsa pasar dengan menerapkan pola bisnis baru dari yang sebelumnya berorientasi pada produk (product oriented) beralih menjadi orientasi konsumen (constumer oriented). Perubahan pola bisnis tersebut diikuti dengan perubahan struktur organisasi yang selama ini ada di Asuransi Jasindo.

Hal tersebut ditegaskan Direktur Keuangan dan Investasi Asuransi Jasindo Didit Mehta Pariadi yang mengatakan pola lama dirasa tidak sesuai dengan semangat baru perusahaan. “Jika tetap menggunakan model bisnis yang sama seperti sebelumnya dirasa kurang Tepat. Diharapkan dengan pola ini Asuransi Jasindo dapat memimpin pasar dengan hasil yang maksimal pada tahun kedepannya,” ungkapnya dalam Media Gathering Jasindo di Sentul, Sabtu (23/11).

Menurutnya, perubahan ini tidak serta merta mengubah pangsa pasar Asuransi Jasindo yang selama ini banyak berkecimpung di nasabah korporasi. Melainkan, dengan pola ini diharapkan perusahaan yang mempercayakan asuransinya kepada Asuransi Jasindo juga akan melirik layanan asuransi lain yang dimiliki oleh Jasindo.

“Kami juga akan menyasar dan meningkatkan agresivitas untuk mendapatkan rantai nilai (value chain) dari setiap bisnis korporasi yang sudah ada. Disisi lain, secara perlahan kami juga akan terus meningkatkan penetrasi di segmen ritel, karena ke depan Asuransi Jasindo tidak hanya ingin bertumpu pada bisnis korporasi tetapi juga segmen ritel yang memiliki peluang cukup baik,” jelasnya.

Perubahan orientasi bisnis yang dituntut bergerak cepat tentu harus diimbangi dengan kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM).  Hal ini diyakini juga oleh Jasindo, yang menyadari bahwa SDM sebagai kunci penggerak sehingga perlu disiapkan untuk mendukung strategi tersebut.

Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum Asuransi Jasindo, Linggasari Suharso, mengatakan, divisi SDM tengah menyiapkan kompetensi baru guna mendukung strategi bisnis yang berubah ke arah customer oriented. Pertama, menurutnya, adalah menyiapkan job descriptions dan job grading yang baru. “Kita akan siapkan job grading yang lebih simple sehingga siapa pun yang berkinerja baik bisa lebih cepat karirnya, tidak lagi melihat masa jabatan seperti apa yang sebelumnya menjadi salah satu indikator penilaian,” ujar Sari.

Langkah berikutnya, ialah menyiapkan program pendidikan dan pelatihan yang lebih berfokus kepada pengembangan soft skill, seperti leadership dan cara berpikir strategis untuk pengembangan bisnis (strategic orientations). “Saya sudah siapkan tim bernama human capital business partner (HCBP). Selanjutnya, merekalah yang akan bertindak sebagai mitra strategis perusahaan yang menyiapkan kompetensi sesuai dengan kebutuhan bisnis perusahaan ke depan,” jelasnya.

Sementara langkah ketiga, dengan mengubah komposisi dalam struktur organisasi. Menurut Sari, saat ini jumlah SDM masih lebih banyak yang menempati back office yakni 70 persen, padahal jika bisnis berubah menjadi customer oriented maka yang lebih banyak dibutuhkan adalah front office. Dengan begitu, ke depan tim SDM Jasindo akan mengubah komposisinya menjadi 50 : 50.

“Nantinya, kami dorong dengan digitalisasi dan membuat program employe get customer supaya mereka yang menyuarakan dan mem-branding Jasindo,” ungkap Sari. Materi mengenai teknologi informasi dan digitalisasi seperti AI, IoT dan robotik juga sudah dimasukkan dalam agenda pendidikan dan pelatihan SDM Jasindo.

Untuk mendukung pengembangan bisnis yang lebih agresif, Sari mengatakan pihaknya juga menyiapkan satu jabatan baru yakni Customer Relationship Manager dalam struktur organisasinya. Posisi ini akan bertanggung jawab untuk membantu setiap customer, dalam hal ini korporasi, untuk memenuhi seluruh kebutuhan asuransinya, tidak hanya untuk korporasinya tetapi juga untuk asuransi kecelakaan karywan atau asuransi perjalanan dinasnya.

“Jadi tugasnya memberikan solusi end-to-end bagi setiap customer, dengan begitu kami bisa mengembangkan bisnis menjadi one stop solution bagi korporasi yang jadi nasabah kami,” jelas Sari.

Bahkan ke depan, pihaknya sudah berencana akan membangun Corporate University . Menurut Sari, Jasindo sudah memiliki anak usaha Jasindo Bangun Insani yang bisa diubah menjadi Corporate University, “Sudah ada SDMnya dan sarana –prasarananya, jadi kami akan mulai menggarapnya jadi corporate university,” jelasnya.

Sasar Produk Baru

Di tahun mendatang, Asuransi Jasindo berencana memasarkan produk baru, di antaranya berupa cyber insurance, produk segmen milenials, produk di bidang pertanian asuransi kopi dan bawang, di bidang peternakan asuransi kambing dan domba dan di bidang kesehatan asuransi kesehatan individu.

Sebagai langkah nyata, Jasindo telah menggandeng perusahaan financial technology (fintech) untuk perluasan pangsa pasar. Hal tersebut dilakukan guna mendukung penetrasi ke masyarakat dengan jangkauan yang lebih luas. “Kami sudah menggandeng Traveloka, saat ini masih dalam proses sinkronisasi IT,” ujar Sahala L. Tobing, Direktur Bisnis Jasindo.

Perkembangan jasa keuangan berbasis fintech di Indonesia sangat pesat, sehingga menjadi pasar yang amat potensial bagi industri asuransi, tak terkecuali Jasindo. “Fintech bisa dijadikan suatu pemecah es (ice breaker) yang signifikan bagi industri asuransi untuk menembus masyarakat hingga ke lapisan yang paling bawah. Selain itu, fintech dapat menjadi suatu hantaran asuransi untuk maju dikarenakan fintech memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan memiliki basis data yang besar,” imbuhnya.


Bagi Asuransi Jasindo, melakukan kolaborasi dengan perusahaan fintech merupakan potensi yang menjanjikan karena adanya generasi milenial yang erat kaitannya dengan digitalisasi yang mulai mendominasi pasar di era digitalisasi saat ini. Pemanfaatan fintech juga bisa meningkatkan efisiensi perusahaan asuransi baik belanja modal, infrastruktur maupun biaya operasional lainnya.

Show More

Artikel Terkait

Back to top button
Close