KOLOM PAKAR

Portfolio, Parenting and People untuk Peningkatan Value Creation BUMN

Oleh: Lenita Tobing

Partner, Head of Strategy& Indonesia, part of the PwC Network

Sejumlah arahan strategis telah dikemukakan oleh Kementerian BUMN di bawah kepemimpinan Menteri BUMN Erick Thohir yang berkaitan dengan penataan portofolio bisnis dan model pengelolaan BUMN. Arahan strategis yang dikeluarkan antara lain mengembalikan BUMN kepada bisnis inti/core business, memangkas jumlah BUMN serta anak dan cucu perusahaan, dan moratorium pembentukan anak perusahaan. Bagaimana hubungannya antara jumlah BUMN beserta anak dan cucu dengan nilai tambah? Apakah jika semakin banyak pemangkasan maka semakin besar nilai tambah yang dapat dihasilkan BUMN secara agregat?

Guna menjawab hal tersebut, kita harus kembali ke pertanyaan yang mendasar yaitu: Why,How,What?

Why: Mengapa BUMN harus mengoptimalkan portofolio bisnisnya?

Definisi optimasi adalah suatu tindakan, proses, atau metodologi untuk membuat sesuatu menjadi lebih sempurnaatau efektif. Tujuan utama optimasi adalah peningkatan value creation, seperti: peningkatan pendapatan dan laba, efisiensi biaya operasional dan investasi, serta peningkatan market cap bagi perusahaan yang listed. Optimasi harus memperhatikan value creation yang ingin dicapai di sepanjang rantai nilai secara grup. Sehingga, meski fokus value creation secara grup adalah peningkatan laba, tidak berarti semua portofolio harus memaksimalkan pendapatannya, namun ada yang fokus melakukan efisiensi biaya.

Proses optimasi dimulai dari penentuanbisnis inti dan bisnis enablers serta pemetaannya sepanjang rantai nilai berdasarkan visi dan strategi yang akan memberikan value creation terbesar. Ketika BUMN melakukan pemetaan tersebut, maka akan terlihat adanya overlapping entitas portofolio yang bergerak dalam bisnis yang sama ataupun masih terdapat bisnis yang belum termasuk dalam portofolio BUMN tersebut.

Duplikasi portofolio dalam bisnis yang sama berarti terdapat value destruction dari inefisiensi fungsi, duplikasi investasi, perbedaan standar, persaingan internal dan bahkan kanibalisasi pelanggan. Entitas-entitas tersebut tidak mendapatkan manfaat  economies of scale karena ukuran bisnisnya marginal sehingga tidak memiliki daya saing di sektornya masing-masing.

Tidak adanya entitas yang menjalankan portofolio bisnis BUMN akan langsung menghilangkan potensi value creation di mana kita melepaskan pendapatan yang seharusnya bisa diperoleh dan tertinggal dalam mengembangkan kapabilitas.

Pengelolaan portofolio secara optimal akan menjadikan BUMN menjadi lebih fokus, memiliki skala yang cukup dan mendapatkan value creation yang lebih sustainable sehingga membuat BUMN memiliki daya saing dan unggul pada sektornya.  

How: Bagaimana cara BUMN mengelola portofolio bisnisnya?

Jika optimasi dari portofolio bisnis dan pemetaan peran induk, anak dan cucu perusahaan di portofolio tersebut telah dilakukan, langkah selanjutnya adalah penentuan cara pengelolaan dari anak dan cucu perusahaan tersebut, yang biasa disebut dengan model Parenting.

Definisi Parenting  adalah proses pembelajaran, pengasuhan, interaksi antara orang tua dan anak seperti memberi petunjuk, memberi makan& pakaian, dan melindungi anak saat mereka tumbuh berkembang. Hal yang sama berlaku untuk sebuah korporasi. Induk perusahaan sebagai orang tua harus memberikan arahan yang jelas dari bisnis yang dijalankan oleh anak perusahaan agar dapat berkembang dan memberikan value creation paling optimal untuk seluruh keluarga,  tidak hanya untuk orang tua atau salah satu/beberapa anak saja.

Model Parenting terbagi menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat interaksi induk dengan anak perusahaan – dimana induk dapat berperan sebagai Holding dengan filosofi berikut:

  1. Investment: “I just want to know your results
  2. Strategic: “I want to know what you do
  3. Management: “I want to know how to do it
  4. Operational: “I want to do it with you

Apapun model Parenting-nya, tujuannya adalah bagaimana interaksi induk dengan anak perusahaan dapat memberikan value creation untuk seluruh grup.

Untuk anak perusahaan yang sudah financially sustainable termasuk dalam pendanaannya dimana bisnisnya memiliki keterkaitan dengan bisnis lain dalam grup namun tidak terkait langsung secara operasional maka induk akan berperan sebagai Strategic Holding. Untuk anak perusahaan yang sudah financially sustainable namun bisnis dan operasionalnya berkaitan erat dengan bisnis dan operasi lainnya dalam grup maka induk akan lebih dalam mengatur standar atas “how” dan berperan sebagai Management Holding. Untuk bisnis yang masih baru atau sedang dalam krisis, sebaiknya bisnis tersebut diinkubasi atau direstrukturisasi di induk sampai adanya strategi dan pendanaan yang jelas sebelum dijalankan di anak perusahaan. Di sini, induk akan lebih berperan sebagai Operational Holding.Sebaliknya, jika tujuan memiliki anak perusahaan ini adalah hanya untuk pengembalian ROI/ROE dan bisnisnya tidak terkait dengan bisnis lainnya dalam grup, maka induk akan lebih berperan sebagai Investment Holding. Contohnya, sebuah perusahaan energi yang memiliki asuransi atau perusahaan pelabuhan memiliki rumah sakit. Berbagai model Parenting model ini

terlihat di berbagai perusahaan di Indonesia: Astra Internasional adalah contoh Strategic Holding, PLN adalah contoh Management Holding, PTPN III adalah contoh Operational Holding dan Saratoga Investama adalah contoh Investment Holding.

Cara pengelolaan induk ke anak perusahaan dilakukan melalui lima aspek kunci:

  1. Kepemimpinan strategis. Contohnya penentuan bisnis, arahan strategi.
  2. Kontrol. Contohnya penetapan KPI, peran Internal Audit dan Risk Management.
  3. Capital. Contohnya persetujuan investasi, pelaksanaan fund raising.
  4. Kapabilitas. Contohnya pengembangan SDM, penyelarasan sistem informasi.
  5. Identitas. Contohnya penentuan core values, tata cara branding.

Sebuah Investment Holding seperti Saratoga akan hands-off dalam bisnis dan lebih fokus dalam mengawasi pengembalian investasinya. Astra sebagai Strategic Holding akan menetapkan KPI masing-masing anak perusahaan serta top talent secara grup. PLN sebagai Management Holding akan terlibat dalam penetapan standar operasi dan target operasional pada seluruh portofolio sepanjang rantai nilai. Lebih jauh, PTPN III sebagai Operational Holding sudah menarik keputusan funding, treasury, dan marketing ke induk.

What: Apa yang harus dimiliki BUMN untuk mengelola portofolionya bisnisnya?

Untuk memastikan kesuksesan pengelolaan portofolio, diperlukan people, process dan system yang selaras. Dalam tulisan ini, kita fokus pada people baik organisasi, SDM maupun budaya, sebagai kunci sukses.

Organisasi adalah kunci untuk planning, control dan monitoringdari portofolio. Fungsi ini bukan fungsi support melainkan strategis yang memastikan seluruh penentuan bisnis, pembentukan anak/cucu perusahaan serta kontrol atas kinerja sudah sejalan dengan value creation secara grup.

Model Parenting juga akan menentukan kapabilitas apa yang sebaiknya dibangun di induk anak perusahaan, termasuk kompetensi SDM. Jika bicara SDM, kita dapat belajar dari pengalaman Astra di mana pola karir dan kinerja sudah tergambarkan dalam job grading dan value yang disesuaikan dengan tanggung jawab dan kompleksitas pekerjaan, terutama untuk para eksekutif yang termasuk Talent Pool. Di sini, penempatan talent pada suatu posisi disesuaikan dengan grading dan value, tidak bergantung kepada tingkat kepangkatan dalam induk, anak atau cucu perusahaan ataupun ukuran bisnis perusahaan.

Contoh, seorang direktur di induk bisa menjadi CEO di cucu perusahaan yang sedang membutuhkan business turnaround. Tanggung jawab dan kompleksitas dari peran itulah yang membuat Direktur itu “turun” ke cucu perusahaan yang pendapatan dan labanya jauh di bawah induk. Namun demikian, kesejahteraannya tidak akan terpengaruh karena kompensasi dan benefitnya dinilai berdasarkan grading dan value, bukan pangkat dan ukuran bisnis perusahaan. Dengan begitu Astra dapat menempatkan insan-insannya dengan tepat sasaran atau “right person. right role. right time” dan di beberapa posisi sehingga terjadi efisiensi biaya.

Terkait budaya, Astra memiliki Catur Dharma yang salah satu butirnya “Menghargai Individu dan Membina Kerjasama”. Dengan ini, insan akan mengedepankan kerja sama tim untuk meraih tujuan bersama. Ini menghasilkan mindsetbahwasuper-teamlebih dikedepankan dibandingkan superman.

Dapat kita bayangkan berapa value creation yang dapat ditambahkan dari masing-masing BUMN jika portofolio bisnisnya dapat dioptimalkan dan dikelola dengan model Parenting yang sesuai, terlepas dari masing-masing ego sektoral dan legacy masa lalu. Lebih penting lagi, betapa pesat perkembangan kapabilitas dan mindset para people dari BUMN menuju profesionalisme dan peningkatan kualitas SDM. Dengan ini, value creation BUMN, baik dari dividen bagi pemegang saham, investasi kembali untuk pengembangan bisnis, pengembangan SDM yang unggul serta peran serta dalam mendukung agenda nasional, dapat terwujud secara utuh. Jika penerapan prinsip Portfolio, Parenting dan People diangkat ke level Kementerian BUMN sebagai induk, maka yang akan terwujud adalahvalue creation multiplieryang sangat dinantikan seluruh pemangku kepentingan.

Show More

Artikel Terkait

Berita Lainnya
Close
Back to top button