KOLOM PAKAR

Sub Holding BUMN Perbankan Luar Negeri?

Oleh: Eki Trisna Amijaya

Team Leader Retail Policy & Procedure Departement Bank Mandiri, Pemerhati Bidang Inovasi Teknologi Dan Corporate Strategy

Dari sekian banyak BUMN yang dimiliki oleh Pemerintah Indonesia, tampaknya tak ada yang menyaingi kekuatan BUMN perbankan dalam urusan “pamer” brand image di luar batas fisik wilayah. Sepintas data, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat tiga bank BUMN (Bank Mandiri, BRI, dan BNI) dan empat bank swasta (BCA, Maybank, Bank Panin, Bank Muamalat) telah memiliki kantor perwakilan di luar negeri, dengan mayoritas berlokasi di negara Malaysia dan Singapura. Representasi ini belum termasuk anak usaha (subsidiary) yang juga beroperasi di luar negeri seperti Bank Mandiri Europe Limited (BMEL) bertempat di London dan Mandiri International Remittance (MIR) Sdn Bhd yang berada di Kuala Lumpur. Tanpa bermaksud membanding-bandingkan, tampaknya hanya BUMN besar seperti Pertamina dan Telkom yang mampu menyaingi keberadaan wajah perusahaan milik negara di luar negeri melalui unit – unit usaha yang dimiliki oleh mereka.

Namun, perlu diingat bahwa banyak belum berarti menguntungkan, dan menguntungkan bisa jadi kurang efisien. Seperti halnya dalam perkara cabang luar negeri milik BUMN perbankan, kiprah perusahaan anak negeri masih kurang gereget kalau dibandingkan prestasi bank asing yang beroperasi di tanah air. Sebagai contoh Bank HSBC, CIMB Niaga, DBS, dan Citibank adalah nama – nama besar berafiliasi asing yang kantor fisiknya di dalam negeri bukan hanya banyak tetapi juga berperan penting dalam perekonomian Indonesia. Bank – bank yang bertuankan asing tersebut aktif berperan memberikan pembiayaan komersial, konsumer, dan bahkan mikro dengan portofolio yang tidak sedikit. Sementara jika kita telaah, kantor – kantor cabang BUMN Perbankan di luar negeri mempunyai peran yang lebih kepada representasi bisnis dengan fokus pelayanan kebanyakan remittance mata uang asing dan jasa treasury. Walau ada beberapa yang juga bergerak di bidang commercial loan dan trade service, tetapi batasan perannya fokus pada menyambungkan “tali silahturahim” antara pengusaha Indonesia dengan counterpart lintas negara. Dari informasi awal ini, kita bisa menarik kesimpulan bahwa ada potensi besar yang belum dieksplorasi dari keberadaan kantor cabang luar negeri milik BUMN Perbankan.

Kuantitas atau Kualitas?

Kembali ke catatan OJK, Bank BRI memiliki perwakilan di empat negara yaitu Singapura, Amerika Serikat (New York), Cayman Island, dan Timor Leste dengan pelayanan terbanyak di Timor Leste. Bank BNI tak kalah dengan berkantor di delapan negara: Singapura, Hong Kong, Jepang (Tokyo dan Osaka), Korea Selatan (Seoul), Myanmar (Yangon), Amerika Serikat (New York), dan Inggris (London). Lain halnya dengan Bank Mandiri dengan perwakilannya di Singapura, Malaysia (Kuala Lumpur), Timor Leste, Hong Kong, Tiongkok (Shanghai), Cayman Island, dan Inggris (London). Ketiga bank – bank BUMN itu secara jumlah telah secara meyakinkan mampu bertarung di negara – negara asing. Akan tetapi apakah cukup dengan berkantor fisik saja dan urusan bisnis selesai?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, hal yang pertama dapat kita tinjau adalah aspek kualitas. Demi azas fairness, kita dapat kecualikan sementara negara – negara seperti Amerika Serikat dan Inggris di mana kemampuan bank – bank BUMN untuk memperluas layanannya ke arah pembiayaan komersial dan konsumer terhalang level kompetisi pasar yang tinggi. Mari kita coba fokus ke negara serumpun dan satu benua seperti Singapura, Malaysia, Myanmar, Tiongkok, dan Timor Leste, dimana level pertarungan bisnis masih dapat ditolerir. Alasannya sederhana: diaspora orang Indonesia di negara tersebut cukup banyak dan suasana budaya dan ekonominya agak mirip dengan Indonesia. Sampai disini, mari kita tanya dengan hati kecil kita, apakah penetrasi service yang dimiliki oleh kantor perwakilan BUMN perbankan tersebut sudah cukup menggema atau masih dapat diperdalam lagi?

Ketika menjawab pertanyaan di atas, mari juga kita rasakan ambience bank – bank afiliasi asing di Indonesia. Tentu terasa sangat berbeda. Sebagai bukti penduduk asli di negara asing tidak terlalu akrab dengan nama – nama yang diusung dari Indonesia. Nama – nama bank BUMN hanya beredar gaungnya di antara penduduk berdarah Indonesia yang kebetulan berdomisili di luar negeri. Berkebalikan dengan bank asing di negeri kita yang serasa seperti saudara sendiri. Bahkan penduduk awam menyangka bank DBS dan CIMB Niaga adalah bank lokal karena warna korporasinya didominasi merah dan putih, seperti warna bendera. Memang benar, beberapa bank asing tidak terlalu beruntung berbisnis di Indonesia seperti gulung tikarnya Rabobank dan berkurangnya lini bisnis Bank ANZ. Hal sebaliknya justru berlaku buat bank asing dari benua Asia di mana kiprahnya cukup bersinar di Indonesia.

Yang terjadi sekarang Perbankan BUMN sebetulnya sudah punya modal yang cukup untuk menjejakkan kakinya, tinggal strategi berikutnya adalah memperluas dan memperdalam. Berkaitan dengan hal tersebut, ada satu titik lemah dari strategi bisnis ekspansi internasional yang dapat disentuh dan dikembangkan: kantor cabang luar negeri milik masing – masing bank BUMN cenderung berdiri sendiri dan sungkan buat berkoordinasi. Tampaknya ini efek dari persaingan dalam negeri yang kebetulan terbawa juga melintas batas negara. Alangkah lebih baiknya jika cabang – cabang tersebut dapat disatukan atau paling tidak disinergikan demi efisiensi. Belum lagi jika kita tinjau ongkos operasional cabang luar negeri yang pasti lebih besar daripada dalam negeri untuk skala bisnis yang sama. Perbedaan antara pendapatan dan ongkos kadang-kadang membuat beberapa cabang luar negeri hanya dipertahankan demi image perusahaan bukan demi mencari keuntungan. Sebagai contoh cabang luar negeri yang berada di London, New York, dan Cayman Island, sulit rasanya membayangkan cabang tersebut menjadi motor profit di negeri tempat mereka berdomisili.

Sub Holding Berbasis Fungsi

Akan tetapi perlu diingat, sekarang masanya kita bersatu dan bersinergi seperti yang telah Presiden Joko Widodo ingatkan berkali-kali dalam pidatonya. Langkah terbaik kearah sana sempat disinggung oleh Menteri BUMN Erick Tohir: sub-holding.

Ide Sub-Holding berasal dari keinginan mengelompokkan lini bisnis berdasarkan fungsi dan bukan berdasarkan regionalisasi. Tujuannya jelas, agar mencegah kanibalisasi pasar dan secara bersamaan meningkatkan daya saing. Perbankan BUMN melalui aset – aset luar negeri yang dimilikinya dapat menjadi proyek percontohan konsep Sub – Holding ini.

Sub – Holding dapat diwujudkan salah satunya dengan mengelompokkan cabang – cabang luar negeri per negara dan dimasukkan dalam satu wadah pusat berlokasi dalam negeri yang dapat berbentuk perusahaan BUMN baru atau sekedar lembaga keuangan dengan tujuan khusus (mirip dengan Lembaga Pembiayaan Ekspor Impor – Bank Exim). Nantinya, lembaga yang mengurusi Sub – Holding cabang perbankan luar negeri ini akan fokus untuk ekspansi bisnis, menyatukan visi yang terserak, dan mengurangi silo yang selama ini terjadi. Sub – Holding akan menitikberatkan bisnisnya pada flexibility pada kondisi global tergantung budaya masing – masing negara.

Keuntungan lain dari Sub – Holding tipe ini adalah meringankan kendala izin operasional dalam membuka cabang baru di negeri asing. Diharapkan dengan adanya Sub-Holding Perbankan Luar Negeri, negara asing akan lebih terbuka untuk memperlancar proses perizinan operasional karena Sub – Holding adalah perwakilan Pemerintah Indonesia yang bertujuan mempererat kerjasama ekonomi antar dua negara yang berdaulat.

Mekanik pembentukan Sub-Holding Perbankan Luar Negeri sedikit banyak dapat mencontoh dari kesuksesan anak perusahaan Telkom Group yaitu Telin dalam mengelola perwakilan luar negeri. Alih – alih memperlakukan kantor cabang luar negeri secara individual, Telkom membentuk subsidiary yang fokus untuk pengembangan overseas business secara independen. Perlakuan ini membuat Telin menjadi lini bisnis yang efisien sekaligus menguntungkan dan mempunyai representasi di banyak negara dan meliputi hampir semua benua.

Jika nantinya usul Sub – Holding Perbankan BUMN Luar Negeri ini dapat diwujudkan, negara yang dapat menjadi pilot project pengembangan jaringan dapat dipilih antara Malaysia, Timor Leste, dan Myanmar. Ketiga negara tersebut mempunyai prospek ekonomi yang bagus, budaya sosial yang mirip dengan Indonesia, dan infrastruktur perbankan BUMN yang ada di tempat tersebut juga telah mendukung dan solid. Biaya operasional nya pun tidak jauh berbeda dengan pembukaan unit bisnis yang sama di Indonesia.

Namun, perlu disadari bahwa ekspansi perbankan dengan kantor fisik bukan semata-mata tujuan utama dari Sub-Holding ini karena di masa depan perbankan akan lebih ditentukan oleh senjata sumber daya manusia dan teknologi digital dibandingkan keberadaan konsep brick and mortar. Oleh karena itu, Sub – Holding Perbankan BUMN Luar Negeri adalah bentuk yang tepat sebagai jembatan pengembangan bisnis BUMN di luar negeri.

Show More

Artikel Terkait

Berita Lainnya
Close
Back to top button
Close
Close